Kisah ini dimulai saat sekolahku
kedatangan murid baru. Ketika
itu tepat pukul 07.00 dering bel tanda masuk
nyaring terdengar. Seorang
laki-laki tidak begitu tinggi berbadan gemuk
dengan pipi yang menggembung
sambil memegang sebuah kotak makan besar
dan sebuah bakpao berdiri didepan
kelas. Ibu Fariza guru bahasa indonesia
sekaligus wali kelas kami
tersenyum kepadanya "perkenalkan
nama kamu"
"Hai" katanya lalu menelan bakpao itu sekali
telan.
"Hahahaha" serentak kami semua tertawa
melihatnya.
"hahaha dasar anak bakpao" salah satu dari
kami
bernama Roby menyeletuk
sehingga kami semakin tertawa. "pesan bakpao
dong, 5 ya dibungkus" kataku
dan semua anak-anak tertawa semakin menjadi-
jadi.
"Sudah-sudah diam, didalam kelas murid
dilarang
untuk makan, jadi kamu
simpan bakpao kamu dulu, sekarang
perkenalkan
diri kamu?" Kata Bu Fariza
"Maaf" wajahnya memerah "perkenalkan
namaku
Dendy Irawan, kalian panggil
saja Dendy". "Baik, Dendy silahkan duduk
ditempat yang kosong"
Dia melihat-lihat mencari bangku yang kosong
dan pandangannya ada dikursi
pojok paling belakang sebelah kanan, yaitu
disampingku. Dia menghampiriku.
Semua mata tertuju kepadanya, juga ada sebuah
tawa menggelikan dari Roby "boleh
aku duduk disini?" tanyanya. Aku diam saja.
"Cie cie cie" goda Rika
"Suit suit cie Tania ehem" goda Roby dan
semua
anak menertawakanku. Sial
aku sama sekali tak mau meliriknya apalagi
melihatnya. Laki-laki gendut
dengan pipi seperti bakpao sekarang duduk
disampingku. Ketika pelajaran
berlangsung tak henti-hentinya dia memakan
bakpao secara diam-diam, aku tak
peduli dengannya dan sengaja aku diamkan.
"nama kamu Tania kan?" tiba-tiba dia bicara.
"ya" jawabku cuek.
Sebulan lebih Dendy siswa baru itu duduk
disampingku. Tentu saja,
teman-teman meledekku dan bilang aku
berpacaran dengannya. Aku dan Dendy
merupakan bahan lelucon yang sangat lucu bagi
mereka, tapi bagiku tidak
sama sekali. Aku muak dengan semua
tingkahnya, membawa kotak makan yang
besar itu kemana-mana, memakan bakpao
secara diam-diam ketika pelajaran,
menyendiri ketika yang lain asik mengobrol.
Seakan-akan didunia ini yang
hidup hanya dia dan bakpaonya, seolah-olah
bakpao adalah temannya bahkan
mungkin bakpao adalah pacarnya.
Aku sering bingung dengan sikapnya, ketika itu
aku berdiam diri diatas
kasurku sambil melihat hujan turun dari balik
jendela entah kenapa aku
memikirkan Dendy si pipi bakpao. Banyak
pertanyaan-pertanyaan yang ada
diotakku. Kenapa dia begitu cinta dengan
bakpao? Kenapa dia tidak
memperhatikan tubuhnya yang semakin
membengkak? kalau aku jadi dia aku
pasti sudah ikut lomba lari maraton biar cepat
kurus. Aku jadi teringat
waktu itu ketika pelajaran olahraga. Ketika itu
Pak Hadi guru olahraga
menyuruh kami untuk lari 5 putaran dilapangan
basket. Tiap berlari aku
melihat Roby dan ketiga temannya Seno, Angga
dan Rika mengerjai Dendy. Aku
pun kadang tak bisa menahan tawa melihatnya.
Apalagi ketika Roby memasukan
sebuah bakpao kedalam baju Dendy, dengan
kegelian Dendy mengambil bakpao
itu dari balik bajunya dan langsung memakan
bakpao itu teman-teman
menetawakannya dan aku? aku begitu bingung
melihatnya, apa Dendy tidak malu
ditertawakan seperti itu. Aku tahu semua anak-
anak tidak menyukai Dendy da n
menganggap ia cowok aneh. Tapi apakah Dendy
tahu bahwa dirinya itu aneh? Seperti
biasa aku masuk kedalam kelas dan mendapati
Dendy duduk dibangkunya, dan
seperti biasa aku melihat kotak makan besar itu
berada dimeja. Aku duduk
disampingnya sambil membuka tas mengambil
buku novel yang aku suka dan kami
sama sekali tidak berkata sepatah katapun.
Memang duduk kami begitu dekat,
tapi kita sama sekali tak pernah bicara. "aku
bingung dengan sikapnya, dia
cowok aneh dia seperti anak autis" kataku lalu
meneguk es teh dikantin.
Okta yang mendengarku nerocos tentang Dendy
saking fokusnya mie
dimangkuknya sampai dingin tidak disentuh
sama
sekali.
"kelihatan banget" kata Okta wajahnya serius
sekali.
"apanya yang kelihatan?" "dari awal aku juga
udah ngerasa gitu, dia cowok
autis."
Mendengar itu aku jadi sedikit gelisah, aku takut
dengan orang aneh seperti
itu bisa-bisa dia ternyata psikopat.
"maksud kamu? jangan asal deh"
"serius, liat aja deh kemana-mana bawa kotak
makanan masih mending kecil
hla itu kotak makanan ama badannya nggak
bisa
dibedain isinya cuma bakpao
lagi" Okta lalu memakan mienya "lihat deh
badan
sama pipinya mirip bakpao"
tambahnya padahal mulutnya masih berisi
banyak mie "hahaha" itu membuatku
tertawa.
***
Hari itu memang berjalan seperti
biasa, aku melihat dia duduk
dibangkunya ada kotak makan besar dimejanya
dan dia duduk sambil memakan
bakpao.
Aku duduk dan membuka tas mengeluarkan
sebuah majalah aku membukanya lalu
menutupi mukaku dengan majalah itu.
"sering memakan bakpao terlalu banyak dapat
menyebabkan obesitas" Aku
membaca majalah itu begitu keras, padahal isi
dari majalah itu sama sekali
tidak seperti apa yang aku baca, ya aku
memang
sengaja melakukannya. Ketika
dia mendengar itu, dia sedikit menoleh
kepadaku.
"OBESITAS ADALAH PENYAKIT BERBAHAYA
DAN MEMATIKAN" lanjutku semakin keras.
Mungkin
karena tidak tahan dengan ucapanku, dia pun
keluar kelas.
Aku dan Okta berusaha mencari tahu siapa
Dendy sebenarnya. Itu kan bukan
urusanku? tapi entah kenapa aku begitu
penasaran dengannya. Apa yang
membuatnya begitu mencintai suatu makanan
seperti bakpao? "kita harus
ngikutin dia sampai rumahnya" kata Okta
"serius?" aku sedikit tidak percaya.
"iya, nanti sepulang sekolah deh kita ikutin dia"
Setelah pulang sekolah aku dan Okta cepat-
cepat mengikuti Dendy yang keluar
gerbang sekolah dan menaiki sebuah angkot.
Aku dan Okta menaiki angkot lain
yang berjurusan sama berada dibelakangnya.
"kira-kira dia mau turun kemana
ya" Okta begitu penasaran.
"eh eh dia turun tuh" kataku
"bentar sabar" Setelah dia turun dan memasuki
sebuah gang kami pun juga
turun "oh dia tinggal didaerah sini"
Dia kadang melihat kebelakang, mungkin berasa
diikutin, kami pun sangat
berhati-hati. Dendy lalu masuk kesebuah rumah.
"Oh jadi ini rumahnya" kataku. "ya udah
mending
kita pulang aja" ajak Okta
Aku dan Okta akhirnya pulang, aku belum
menemukan informasi apa-apa tentang
Dendy, hanya sebuah rumah. Aku tidak bisa
menyimpulkan apa-apa.
Keesokan harinya seperti hari-hari biasa, ya aku
melihatnya dibangku
memakan sebuah bakpao dan kotak makan
besar
itu ada dimeja Aku duduk dan
tiba-tiba dia berbicara "sudah puas mengikutiku
kemarin?"
JLEB! rasanya kaget mendengarnya.
"ka-kamu bicara sama siapa?" aku sedikit gugup.
"ya kamulah, siapa lagi"
"maksudnya apa ya?"
"nggak usah ikut campur privasi orang deh
kamu"
Aku semakin gugup mendengar
dia bicara seperti itu, tapi aku mencoba tetap
tenang.
"cowok aneh, emang kamu nggak sadar kalau
kamu tuh aneh. Tiap harinya makan
bakpao diam-diam pas pelajaran bawa kotak
makan yang gedenya kayak perut
kamu" kataku sambil mengangkat kotak
makannya. "lihat isinya cuma bakpao"
aku membuka kotak makan itu.
"bukan urusan kamu" katanya ingin merebut
kotak makan itu. Anak-anak
dikelas melihat kami bertengkar dan ada salah
dari mereka si Roby yang
cekikikan melihat kami. Aku dan Dendy berebut
kotak makan itu "lepaskan" Aku
lepas dan kotak makan itu jatuh, seketika
bakpao-bakpao didalamnya
berceceran dilantai. "oops sorry" kataku.
Semua anak-anak langsung tertawa, Dendy
melihatku wajahnya memerah, kilatan
amarah dari mata sipitnya begitu tajam. Dia lalu
keluar kelas. Sampai
pelajaran jam ke-5 dia tidak masuk kelas, aku
tidak tahu dia pergi kemana?
***
Ketika itu hari Selasa, suasana pagi ketika
aku masuk kedalam kelas
terlihat berbeda. Tidak ada seorang laki-laki
bertubuh gendut dengan pipi
bakpaonya duduk dibangku sebelahku, tidak ada
kotak makan besar yang berada
dimeja, tidak ada sebuah bakpao yang dimakan
hingga habis tak tersisa. Aku
duduk seperti biasa, tapi ada yang tidak biasa,
ya
Dendy tidak masuk
sekolah hari ini.
"si Dendy kemana ya" tanya Okta.
Aku hanya diam, yang ada dipikiranku adalah
apa
gara-gara kemarin dia tidak
masuk.
"udah deh jangan terlalu dipikirin" kata Okta
menghiburku. Tapi, aku merasa
bingung disatu sisi aku senang karena aku
terhindar dari cowok aneh seperti
Dendy, tapi disisi lain aku merasa bersalah gara-
gara aku dia seperti ini.
Ketika pulang sekolah aku masih memikirkan
kejadian kemarin ketika
kata-kata itu keluar dari mulutku
"cowok aneh" ya aku panggil dia aneh didepan
teman-teman sejahat itukah
aku?
Dipinggir jalan ada yang jualan bakpao tak tahu
kenapa aku berbelok dan
memesan bakpao rasa coklat. "satu bakpao rasa
coklat" kata penjual itu
dengan tersenyum memberiku sebuah bakpao
hangat. "terimakasih" kataku dan
membayar bakpaonya.
Aku memakan bakpao itu dan rasanya begitu
lezat, aku mencoba menelannya
sekaligus seperti yang biasa Dendy lakukan
"uhuk" aku tersedak, tapi aku
senang, yah ini menyenangkan "hahaha" aku
tertawa sendiri. Siang itu, aku
lalu pergi kerumah Okta. Aku mengetuk pintu
adiknya Okta yang membuka pintu
“kak Tania cari kak Okta ya?” “iya, kak Okta
mana?” “ada dibelakang, lagi
nangis” aku sedikit kaget mendengarnya, aku
pun
langsung masuk rumah dan
ada Okta yang menangis dihalaman belakang
“kamu kenapa?” tanyaku. “kucingnya
meninggal” kata Lusi. “hiks, padahal aku sudah
merawatnya baik-baik” kata
Okta disela tangisnya sambil menabur bunga
diatas kuburan kecil yang
ternyata itu kuburan kucing. Aku tahu Okta suka
memelihara kucing, banyak
kucing dirumahnya dari macam kucing Persia
bahkan kucing kampung pun
dipelihara, tapi aku tak pernah mengira sampai
begini dia menyukai kucing.
***
Seperti biasa aku memikirkan kejadian-
kejadian yang sudah terjadi,
diatas kasur yang empuk aku nyalakan mp3
diiringi lagu-lagu dari Mocca.
Pikiranku tertuju pada Okta. Kalau dipikir-pikir
Okta itu sama seperti
Dendy tapi bedanya Dendy cinta bakpao
sedangkan Okta cinta kucing. Mereka
berdua sama-sama aneh. Dan yang paling
anehnya lagi adalah mereka nggak
sadar kalau mereka tuh aneh.
***
Pagi hari aku
bingung sekali mencari novel
yang baru aku beli kemarin, ya aku memang
suka
mengkoleksi novel. “ma,
novel yang baru aku beli kemarin dimana?” “kok
kamu Tanya mama, itukan
novel kamu ya kamu dong yang tahu tempatnya
dimana” Aku semakin sebal
dengan jawaban mama, setiap aku tanya
tentang
novel dia selalu
menanggapinya seperti itu. Aku pun berangkat
sekolah dengan pikiran yang
kacau, masih kepikiran terus dimana novel itu.
Ketika jam istirahat aku mengajak Okta pergi
kekantin tapi ia tidak mau.
“emang kamu nggak laper?” tanyaku “nggak
kok”
wajahnya terlihat murung. “masih
kepikiran sama kucing kamu yang meninggal itu
ya?” dia menganggukan
kepalanya. “udahlah jangan terlalu dipikirin itu
kan cuma kucing” “apa kamu
bilang cuma kucing? kamu nggak ngerasain
gimana rasanya kehilangan sesuatu
yang kamu sayangi makanya kamu bisa
ngomong
gitu” “duhh, kok kamu jadi
marah sih” dia diam saja. “jujur ya, kamu sama
Dendy itu sama, sama-sama
aneh” kataku “Tan, emang kamu nggak nggak
sadar kalau kamu sendiri tuh
aneh, lihat diri kamu yang tergila-gila sama
novel,
lihat koleksi novel
kamu dan lihat coba kalau kamu kehilangan
novel pasti ngamuk-ngamuk apa itu
nggak aneh?” Aku tak peduli dengan ucapannya,
aku berlalu dari hadapannya.
***
Aku dan Okta marahan, hingga 3 harian kami
tidak saling menyapa satu
sama lain maupun mengobrol seperti biasa.
Waktu itu ketika jam istirahat
aku lihat ada Dendy dan wanita setengah baya
keluar dari ruang kepala
sekolah. Aku tidak tahu wanita itu siapa tapi aku
berpikir mungkin itu
mamanya Dendy.
***
Keesokan harinya ketika
aku berangkat sekolah menelusuri
koridor aku mendengar pembicaraan para gadis
yang berbincang-bincang duduk
dikursi koridor. Aku dengar mereka
membicarakan Dendy yang akan pindah
sekolah. Aku langsung mempercepat langkahku
menuju kelas dan aku
melihatnya, laki-laki itu duduk tenang
dibangkunya dan kebiasaan itu tak
berubah masih ada kotak makan besar berisi
bakpao dimejanya. Aku sedikit
lega melihatnya berangkat sekolah hari ini.
Dikelas itu juga aku melihat
Okta yang sedang duduk dibangkunya, dia sama
sekali tidak melihatku bahkan
mengajakku mengobrol seperti biasa, dia benar-
benar marah. Sekarang aku
sudah kehilangan semuanya, kehilangan
sahabatku Okta karena aku
menganggapnya aneh, kehilangan Dendy yang
akan pindah sekolah karena
gara-gara aku yang juga menganggapnya aneh.
Apa aku juga kehilangan Dendy
si Mr. Bakpao itu? Iya jujur aku merasa
kehilangan Dendy, karena aku mereka
berdua pergi menjauh. Aku ingin sekali meminta
maaf, tapi aku terlalu
gengsi untuk mengatakannya. Kalau dipikir-pikir
kata-kata Okta ada benarnya
juga, aku dengan dia dan Dendy tidak ada
bedanya kita semua sama-sama aneh.
Apa cinta terhadap sesuatu yang berlebihan itu
aneh ?
***
Ketika itu hari
Kamis ada pelajaran olahraga, seperti biasa kami
yang bersekolah disalah
satu SMA diJakarta ini harus lari 5 putaran
dilapangan basket untuk
pemanasan. Roby, Angga, Seno dan Rika
menertawakanku karena ketika aku
mengajak Okta bicara tapi aku malah dicuekin.
Aku lihat Dendy yang duduk
karena kelelahan berlari dan aku lihat Okta yang
tak menanggapiku malah
mengobrol dengan teman lain. Roby, Angga,
Seno dan Rika seperti biasa
selalu mengganggu “ciee yang lagi marahan”
sindir Rika. Aku tidak suka
dengan kata-kata Rika barusan, dia pikir itu lucu
apa?. Mereka pun
menggangguku, aku sempat ingin menangis
karena diledek terus tapi aku
tahan, mereka tak tahu rasanya kehilangan
sesuatu hal yang kita sayangi,
persis seperti apa yang diucapkan Okta waktu
itu
kepadaku, dan sekarang
posisiku sama seperti Okta, karena aku
kehilangan seorang sahabat yang
begitu aku sayangi. Aku cuma bisa terdiam
tertunduk menahan air mata ini
jatuh. “cukup” aku mendongakkan kepala
mendengar suara itu. Aku lihat
Dendy. “kalian nggak ada kerjaan gangguin
orang
terus?” “mau jadi jagoan”
Roby mendekati Dendy. “aku nggak suka main
dengan cara kekerasan” “bilang
aja kalau takut” “takut dengan orang kayak
kamu
hahaha itu lucu” Roby
langsung melemparkan pukulan kearah Dendy
dengan sigap Dendy menahan tangan
Roby dengan satu tangan kanannya, lalu
mendorong Roby hingga tersungkur
dilantai. “dasar monster” triak Rika. Angga dan
Seno menolong Roby dan
membawanya menuju UKS. Okta yang melihat
kejadian itu langsung
menghampiriku “ada apa?” tanyanya. Dendy
langsung berpaling “tunggu”
kataku. Dia menoleh “maaf” akhirnya kata itu
muncul juga setelah lama aku
pendam. “maaf untuk semuanya, maafin aku
yang berpikiran buruk padamu dan
Okta, aku menyesal” air mata yang aku tahan
tak
terbendung lagi. Dia
tersenyum, senyuman yang pertama aku lihat
dari Dendy. “it’s okay Tan,
jangan sedih, aku tidak tahan melihat wanita
menangis” katanya. “iya, Tania
aku Cuma kesel sama kamu tapi sebenarnya aku
nggak marah sama kamu” Okta
memelukku. Pelukan dari seorang sahabat yang
begitu hangat. Ketika kejadian
itu aku dan Dendy jadi sedikit akrab, kami
kadang
mengobrol walau sedikit
kaku. Disela-sela obrolan kami kadang dia bisa
melucu sehingga membuatku
tertawa, aku tak pernah mengira ia seasyik ini.
Dibalik pipi bakpaonya
terselip sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan
dengan kata-kata. “jangan-jangan
kamu suka sama dia” “ih ngaco deh kamu”
kataku sambil membaca novel. “udah
ngaku aja, aku harap kamu bisa ungkapin
perasaan kamu ke Dendy” Kata Okta. Kata-kata
Okta barusan membuatku tak bisa tidur
semalaman, aku bingung sama apa yang
aku rasain, apa aku benar-benar cinta sama
Dendy?
Aku masih
ingat Dendy mengajakku dan
Okta kerumahnya untuk merayakan tahun baru
imlek. Pukul 7 malam aku dan
Okta berada dirumahnya, dekorasi rumah Dendy
begitu kental dengan budaya
China, penuh dengan warna merah ternyata dia
berdarah Tionghoa. Wanita
setengah baya yang pernah aku lihat bersama
Dendy kini berada dihadapanku
dan Okta menyambut kami dengan hangat
ternyata dugaanku benar wanita itu
memang mamanya Dendy. Kami berbincang
akrab sambil memakan kue kranjang dan
tak lupa aku memberikan sebuah kotak besar
berwarna putih kepada Dendy, itu
sebagai angpaonya dia. “wah, banyak banget
bakpaonya” katanya kaget melihat
isi kotak besar putih itu adalah bakpao. Kami
berempat, aku, Okta, Dendy
dan mamanya keluar rumah untuk melihat
karnaval barongsai malam itu.
Barongsai itu menari-nari, melonjak-lonjak
beriringan dengan musik,
gerakannya begitu lincah Okta sampai
kegirangan
melihatnya. Dendy memberiku
sebuah amplop berwarna merah “Tan, coba deh
kamu masukin amplop itu kemulut
barangsai itu” Aku coba melakukannya dan
rasanya senang sekali. Malam ini
malam yang nggak akan pernah aku lupa.
Gerakan barangosai memakan amplop
itu berlangsung sekitar separuh dari tarian.
Setelah itu kami berkumpul
dilapangan untuk pesta kembang api. Banyak
orang-orang berkumpul disini,
anak-anak muda asyik bercanda menghabiskan
waktu dengan kekasihnya. Aku dan
mamanya Dendy duduk ditikar dipinggir lapangan
sambil menikmati es buah. “Dendy
jarang sekali membawa temannya kerumah, tapi
kali ini berbeda. Dia sekarang
sudah berubah” kata mama Dendy kepadaku
sambil tersenyum melihat langit
penuh dengan kembang api yang dinyalakan
Dendy dan Okta ditengah lapangan.
Mereka terlihat seru sekali. “berubah?” kataku
sedikit bingung. “iya, dia
berubah. Sejak papanya meninggal ketika ia
berumur 10 tahun dia jadi
pendiam dan tidak suka bergaul yang ia sukai
hanya memakan bakpao, lucu
sekali tapi itulah anakku” “maaf tante, kalau
boleh tahu kenapa Dendy
begitu menyukai bakpao” “bakpao adalah
makanan kesukaan papanya, ia persis
seperti Dendy” Aku lihat matanya berkaca-kaca.
Malam itu juga rasa
penasaranku terjawab sudah.
***
“ajak dia
nonton malam minggu besok” kata
Okta pas dikantin. “ngomong apa sih kamu?” “ya
ngomongin kamu sama
Dendylah, udah deh besok malam minggu kamu
ajak dia nonton” kata Okta
semangat. Ketika dering bel masuk kelas
berbunyi, aku dan Okta cepat-cepat
masuk kedalam kelas ada pelajaran matematika
gurunya killer banget. “Tan,
Tania” Okta memanggilku pelan ketika pelajaran
berlangsung. Dia
mengedip-ngedipkan matanya seperti memberi
kode. Aku tahu maksudnya mungkin
tentang rencananya dia yang nyuruh aku
ngajakin
Dendy buat nonton. “Den”
kataku pelan. Dia menoleh mataku dan mata
sipitnya dia bertemu “kamu suka
nonton film?” “suka emangnya kenapa?” “ada
film bagus” “oh ya, film apa?”
dia sepertinya tertarik. “mau tahu filmnya apa?
Malam minggu kita nonton
ya?” “aku sama kamu?” wajahnya terlihat tidak
yakin. “ya iyalah” “berdua” “hn”
aku sedikit kesal. “BOLEH” katanya keras sekali,
sehingga guru killer yang
sedang nulis dipapan tulis menoleh kearah kami.
“kalau kalian mau ngobrol,
silahkan keluar’ katanya tegas. Aku dan Dendy
hanya menahan tawa.
Malam minggu pun tiba aku dan Dendy
menikmati film horror, film kesukaanku.
Setelah selesai menonton film kami berjalan
menyusuri jalanan kota Jakarta
yang ramai. Ada anak-anak bermain sepeda,
penjual-penjual kaki lima
dipinggir jalan yang sibuk melayani pelanggan,
toko-toko yang memajang
barang-barangnya begitu rapi, dan para anak-
anak muda sibuk berpacaran. Aku
dan Dendy terlihat seperti sepasang kekasih
mungkin? Duhh, ngarep. Kami
berdua mampir untuk membeli bakpao dipinggir
jalan “coba deh Tan, telan
sekaligus” Dendy mempraktekkannya didepanku.
Aku pun mencobanya, dan aku
pun tersedak karena ukuran bakpaonya yang
begitu besar. Dendy sampai
tertawa melihatku, tawa yang begitu lepas.
Malam semakin larut, Dendy mengantarku
pulang
sampai didepan rumah. “Tan,
makasih ya buat malam ini, seru banget” aku
cuma tersenyum malu. “mmm” dia
sedikit berpikir. “Tan, 3 hari lagi aku akan pindah
keBali” dia terlihat
serius. “mamaku harus meneruskan bisnis
restaurant papa yang udah lama
ditinggal sejak ia meninggal” Aku sudah tidak
tahu mau bicara apa. “jadi,
kamu akan pindah” aku terdiam sebentar,
rasanya aku ingin memeluknya tapi … “aku
kira kamu pindah gara-gara aku” “hah, gara-gara
kamu kok bisa?” “ya aku kan
dulu…” aku masih bingung mau bicara apa.
“menganggapku cowok aneh?”
tegasnya. “mungkin” kataku. “hahaha kamu lucu
banget sih Tan, jelas
nggaklah, kamu itu baik Tan. Kamu adalah
teman terbaik aku yang pernah
aku temuin” Teman yah dia memanggilku teman.
“yah, aku ngerti itu aku masuk
dulu yah” “tunggu” katanya. Aku menoleh, aku
harap dia memintaku untuk
memeluknya. “malam ini malam yang nggak
akan pernah aku lupa” Katanya
sambil memperlihatkan senyumnya dan
berpaling
dariku melangkah pergi hingga
ia tak terlihat dari gelapnya jalan tanpa
memelukku.
***
Ketika disekolah
Okta terus saja memaksaku untuk mengatakan
perasaanku terhadap Dendy, tapi
aku begitu takut dan gengsi. Apalagi kalau dia
menolakku. “kamu nggak mau
kan nanti nyesel? Sebelum dia pergi kamu harus
ngungkapin perasaan kamu”
Okta terus mendesakku. Ketika dikelas aku
hanya bisa diam, aku senderkan
kepalaku dimeja, rasanya kepalaku begitu berat
sekali.
***
Detik-detik yang
aku takuti datang juga. Ketika itu aku melihat
Dendy dan mamanya keluar
dari ruang kepala sekolah, setelah itu mereka
masuk kedalam kelas. Dendy
berpamit dan mengucapkan kata perpisahan
didepan kelas. Persis seperti
ketika ia pertama kali masuk kekelas kami, tapi
bedanya kali ini
ditangannya tidak ada bakpao maupun kotak
makan yang besar. “selamat
tinggal teman-teman” kata-kata itu terucap dari
mulutnya. Membuat mataku
berkaca-kaca. Dia lalu melihatku “bangku itu
sangat berkesan bagiku”
katanya menunjuk bangku yang ada
disampingku.
Aku melihat senyum itu lagi,
senyuman yang begitu manis kala itu. Aku
hanya
bisa menatapnya melangkah
pergi keluar kelas. Ingin rasanya aku teriak
“TIDAK, JANGAN PERGI!” tapi
mulutku rasanya berat untuk bicara. “kenapa
kamu diam aja?” Okta
menghampiriku. Aku hanya menggelengkan
kepalaku, aku bingung harus apa?
“sudahlah, tidak apa-apa” Okta memelukku.
Bendungan air mata itu pecah
seketika.
***
Ketika pulang sekolah aku mampir
kesebuah toko bakpao, aku
duduk dan memesan sebuah bakpao rasa coklat.
Aku lihat bakpao itu. Aku
teringat Dendy. Aku yang terlalu naïf, aku yang
terlalu gengsi untuk
mengungkapkan perasaanku, hingga seseorang
yang aku cinta pergi. Bodoh?
Jelas iya aku memang bodoh. Menyesal? Untuk
apa? Semuanya sudah terjadi. Dendy
entah sekarang kamu ada dimana, jika kamu
membaca cerita ini aku hanya
ingin mengucapkan kata-kata yang sulit aku
ucap
“Mr. Bakpao I Love You”
Lady Gagal
NEVER STOP DREAMING, NEVER GIVE UP !!!!
Label
- About Justin Bieber (10)
- Just Dreaming (8)
- Quote (8)
- Terjemahan Lagu Barat (8)
- About Me (4)
- Cerpen (3)
- Puisi (2)
Minggu, 07 Februari 2016
Mr. Bakpao
Selasa, 21 Juli 2015
Where Are Ü Now - Justin Bieber dan Terjemahan
I need you, that I need you
Aku membutuhkanmu
I need you, that I need you
Aku membutuhkanmu
Aku membutuhkanmu
I need you, you, you, you, you, you
Aku membutuhkanmu, mu,mu,mu,mu,mu
Aku membutuhkanmu, mu,mu,mu,mu,mu
I need you, that I need you
Aku membutuhkanmu
Aku membutuhkanmu
I need you, that I need you
Aku membutuhkanmu
Aku membutuhkanmu
I need you, you, you, you, you, you
Aku membutuhkanmu, mu,mu,mu,mu,mu
Aku membutuhkanmu, mu,mu,mu,mu,mu
You, you, you
Kamu,kamu,kamu
Kamu,kamu,kamu
I need you the most
Aku sangat membutuhkanmu
Aku sangat membutuhkanmu
I gave you the key when the door wasn't open, just admit it
Ku beri kau kunci saat pintu terkunci, akui itu
Ku beri kau kunci saat pintu terkunci, akui itu
See, I gave you faith, turned your doubt into hoping, can't deny it
Lihat,ku berikan kepercayaan,keraguanmu berubah menjadi harapan, tak bisa menyangkalnya
Lihat,ku berikan kepercayaan,keraguanmu berubah menjadi harapan, tak bisa menyangkalnya
Now I'm all alone and my joys turned to moping
Sekarang aku sendirian dan kegembiraanku berubah menjadi kesuraman
Sekarang aku sendirian dan kegembiraanku berubah menjadi kesuraman
Tell me, where are you now that I need you?
Katakan padaku, dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Katakan padaku, dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Where are you now?
Dimana kamu sekarang?
Dimana kamu sekarang?
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Couldn't find you anywhere
Tak bisa menemukanmu dimanapun
Tak bisa menemukanmu dimanapun
When you broke down I didn't leave you
Saat kau hancur aku tak meninggalkanmu
Saat kau hancur aku tak meninggalkanmu
I was by your side
Aku berada disampingmu
Aku berada disampingmu
So where are you now that I need you?
Jadi dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Jadi dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
I gave you attention when nobody else was payin'
Ku beri kau perhatian
Ku beri kau perhatian
I gave you the shirt off my back, what you sayin', to keep you warm
Ku beri kau kemeja yang ku pakai, tuk membuatmu hangat
Ku beri kau kemeja yang ku pakai, tuk membuatmu hangat
I showed you the game everybody else was playin', that's for sure
Ku tunjukkan permainan yang orang lain sedang mainkan, itu pasti
Ku tunjukkan permainan yang orang lain sedang mainkan, itu pasti
And I was on my knees when nobody else was prayin', oh Lord
Dan aku berlutut saat tak ada orang yang berdoa, oh tuhan
Dan aku berlutut saat tak ada orang yang berdoa, oh tuhan
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
I need you, that I need you
Aku membutuhkanmu
Aku membutuhkanmu
I need you, that I need you
Aku membutuhkanmu
Aku membutuhkanmu
I need you, you, you, you, you, you
Aku membutuhkanmu, mu,mu,mu,mu,mu
Aku membutuhkanmu, mu,mu,mu,mu,mu
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
I need you, that I need you
Aku membutuhkanmu
Aku membutuhkanmu
I need you, that I need you
Aku membutuhkanmu
Aku membutuhkanmu
I need you, you, you, you, you, you
Aku membutuhkanmu, mu,mu,mu,mu,mu
Aku membutuhkanmu, mu,mu,mu,mu,mu
I need you the most
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Where are you now that I need you?
Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
I need you the most (I need you the most, I need you the most)Dimana kamu sekarang saat aku membutuhkanmu?
Aku sangat membutuhkanmu (Aku sangat membutuhkanmu,Aku sangat membutuhkanmu)
A Thousand Years
Cerita ini dimulai pada pertengahan Agustus 2012. Ketika itu sehabis
latihan basket aku membuka akun facebookku. Hanya sekedar untuk
menghibur diri disaat lelah. Ya waktu itu facebook adalah media sosial
yang lagi digemari anak-anak remaja.
~ ^ ~
"Jay, hari Sabtu kamu mau ga nemenin aku?"
"kemana?"
"disekolah aku ngadain lomba gambar, aku pengen ikut"
"wah, bagus itu kamu kan jago gambar anime"
"iya aku pengen banget ngembangin hobi aku"
"ga usah ditanya, aku pasti bakalan datang"
"jadi kamu bakalan pergi ke Singapore?" tanya Kesha.
"iya aku disana akan tinggal dengan om ku"
Dia terlihat kecewa,dan aku mengerti perasaannya.
Aku iseng membuka sebuah group difacebook bernama "Roleplayers Family",
pas aku lihat banyak sekali anggotanya. Ternyata itu sebuah permainan
buat anak facebook, jadi kita harus menggunakan nama samaran untuk bisa
bergabung digroup itu, nama samarannya harus nama artis setelah itu kita
harus mencari pasangan untuk dijadikan pacar didalam group tersebut.
Permainannya tidak serius, tapi kalau misal srek dan nyambung sama
pasanganya boleh serius dan boleh pacaran beneran. Itu terserah sama
diri sendiri. Aku cari dicatatan daftar-daftar nama yang sudah terdaftar
dalam group Roleplayers, mereka sudah berpasangan, ada Justin Bieber
dan Selena Gomez, Edward Cullen dan Katty Perry, Cody Simpson dan Taylor
Swift. Aku lalu ngepost status digroup itu "aku belum punya pasangan,
tapi boleh gabung ga?"
Dan langsung aja banyak cewek-cewek yang comment. Aku sampai bingung ada yang nulis
"sama aku aja"
"sama aku, aku juga belum"
Gimana ya ngebalesnya jadi bingung.
Beberapa menit kemudian ada inbox difacebook, "hey, jadi couple aku yuk"
"oke deh"
"beneran? Aku christina perri btw nickname kamu apa?"
"namanya boleh selain artis ga?"
"kayaknya ga boleh deh"
"ya sudah kamu panggil aja aku Jay, Jay Park" aku memilih nama itu karena lagi suka sama Rapper asal korea.
"kamu jarang on ya, aktif dong di Roleplayers"
"iya on tapi cuma sebentar"
Pembicaraan kami selesai, ketika kami saling bertukar nomor HP.
Dan langsung aja banyak cewek-cewek yang comment. Aku sampai bingung ada yang nulis
"sama aku aja"
"sama aku, aku juga belum"
Gimana ya ngebalesnya jadi bingung.
Beberapa menit kemudian ada inbox difacebook, "hey, jadi couple aku yuk"
"oke deh"
"beneran? Aku christina perri btw nickname kamu apa?"
"namanya boleh selain artis ga?"
"kayaknya ga boleh deh"
"ya sudah kamu panggil aja aku Jay, Jay Park" aku memilih nama itu karena lagi suka sama Rapper asal korea.
"kamu jarang on ya, aktif dong di Roleplayers"
"iya on tapi cuma sebentar"
Pembicaraan kami selesai, ketika kami saling bertukar nomor HP.
Ketika itu sore hari, seperti biasa aku
latihan basket dan pulang dalam keadaan lelah. Pas aku cek pesan diHP
"hei Jay park, ini aku Christina Perri"
Lalu aku balas
"hei, nama asli kamu siapa sih?"
Dan waktu itu aku tahu bahwa nama aslinya Alivia Regista dan begitu pula aku beri tahu nama asliku Rizal Yanuar. Pembicaraan kami bersambung sampai malam hari,dia begitu nyambung diajak ngobrol dan aku nyaman sekali dengannya walaupun aku sama sekali belum tahu orangnya.
"alivia,kamu udah punya pacar" Aku lancang menanyakan hal itu.
"belum, kamunya?"
"sudah, tapi ga apa-apa kan?"
Aku pikir aku harus jujur, aku memang sudah mempunyai pacar.
"haha iya ga apa-apa kok, kan cuma permainan. Eh, tapi pacar kamu apa ga marah?"
"ga tau juga sih kan dia ga tahu, asal jangan dimasukin aja facebooknya dia ke group"
"oh oke sip"
Aku sedikit khawatir jika Kesha tahu aku ikup permainan itu, ya Kesha adalah kekasihku. Aku mengenalnya sejak duduk dibangku SMP, waktu itu dia sahabatku tapi lama-lama aku mempunyai perasaan sama dia. Setelah lulus dan masuk SMA yang sama di kota Jakarta, aku beranikan diri untuk menembaknya dan ternyata dia punya perasaan yang sama kayak aku. Beruntung banget punya pacar kayak Kesha, gadis berdarah tionghoa , bermata sipit itu adalah gadis yang paling pengertian walaupun dia sedikit protektif.
Lalu aku balas
"hei, nama asli kamu siapa sih?"
Dan waktu itu aku tahu bahwa nama aslinya Alivia Regista dan begitu pula aku beri tahu nama asliku Rizal Yanuar. Pembicaraan kami bersambung sampai malam hari,dia begitu nyambung diajak ngobrol dan aku nyaman sekali dengannya walaupun aku sama sekali belum tahu orangnya.
"alivia,kamu udah punya pacar" Aku lancang menanyakan hal itu.
"belum, kamunya?"
"sudah, tapi ga apa-apa kan?"
Aku pikir aku harus jujur, aku memang sudah mempunyai pacar.
"haha iya ga apa-apa kok, kan cuma permainan. Eh, tapi pacar kamu apa ga marah?"
"ga tau juga sih kan dia ga tahu, asal jangan dimasukin aja facebooknya dia ke group"
"oh oke sip"
Aku sedikit khawatir jika Kesha tahu aku ikup permainan itu, ya Kesha adalah kekasihku. Aku mengenalnya sejak duduk dibangku SMP, waktu itu dia sahabatku tapi lama-lama aku mempunyai perasaan sama dia. Setelah lulus dan masuk SMA yang sama di kota Jakarta, aku beranikan diri untuk menembaknya dan ternyata dia punya perasaan yang sama kayak aku. Beruntung banget punya pacar kayak Kesha, gadis berdarah tionghoa , bermata sipit itu adalah gadis yang paling pengertian walaupun dia sedikit protektif.
Ketika itu dua hari lebih aku tidak membuka
facebook karena sibuk latihan basket untuk pertandingan minggu depan
dan aku sibuk menghabiskan waktuku dengan Kesha. Waktu itu hari kamis
cuaca begitu buruk, hujan diselingi angin membuat koneksi internet
dirumah jadi error dan selama dua hari aku tidak tahu kabar Perri.
Pas disekolah aku membuka laptopku dan pas aku buka facebook banyak banget pesan dari Perri dichat dan dia menyebut "Jay, I miss u" digroup. Aku merasa bersalah sudah mengabaikannnya , akhirnya aku menelepon dia. Aku minta maaf sama dia, dan aku jelasin kalau akhir-akhir ini aku memang lagi sibuk. Dia bilang, dia tidak apa-apa dan dia ngerti itu.
Setelah itu kami bertukar foto agar lebih tahu sama lain. Aku lihat fotonya, dia begitu cantik dan manis. Tapi aku tidak mau membahasnya bisa-bisa aku suka beneran sama dia. Aku langsung cek nama-nama pasangan yang sudah terdaftar di dalam group, pas aku cari nama Jay Park dan Christina Perri belum tercatat aku lalu sms dia. "ya udah, coba aku sms peyton" balasnya
"peyton? Siapa dia?" tanyaku
"dia admin di group itu dan kebetulan dia satu sekolah sama aku"
Pas disekolah aku membuka laptopku dan pas aku buka facebook banyak banget pesan dari Perri dichat dan dia menyebut "Jay, I miss u" digroup. Aku merasa bersalah sudah mengabaikannnya , akhirnya aku menelepon dia. Aku minta maaf sama dia, dan aku jelasin kalau akhir-akhir ini aku memang lagi sibuk. Dia bilang, dia tidak apa-apa dan dia ngerti itu.
Setelah itu kami bertukar foto agar lebih tahu sama lain. Aku lihat fotonya, dia begitu cantik dan manis. Tapi aku tidak mau membahasnya bisa-bisa aku suka beneran sama dia. Aku langsung cek nama-nama pasangan yang sudah terdaftar di dalam group, pas aku cari nama Jay Park dan Christina Perri belum tercatat aku lalu sms dia. "ya udah, coba aku sms peyton" balasnya
"peyton? Siapa dia?" tanyaku
"dia admin di group itu dan kebetulan dia satu sekolah sama aku"
Setelah seminggu aku dekat dengan Perri,
dia mengajakku untuk bertemu. Aku kaget mendengarnya, karena sepertinya
aku belum siap buat ketemu dia dan bahkan aku tidak ingin bertemu, cukup
didunia maya saja aku mengenalnya. Tapi dia terus memaksa, dan aku
tidak bisa menolak. Ketika sore hari setelah pertandingan basket melawan
sekolah lain selesai, aku berniat bertemu dengan Perri ditaman dekat
sekolahku. Aku cepat-cepat kesana tapi HP aku berdering ada sms dari
Kesha "selamat ya sayang, kamu menang tanding basketnya, aku sama
teman-teman udah nunggu kamu dikafe biasa cepat kesini ya" wah, aku
seneng banget, aku pun cepat-cepat menaiki motorku dan menuju kekafe.
Ternyata dikafe banyak teman-teman dari
sekolah yang sengaja merayakan kemenangan tim basket sekolah kami, "eh,
kaptennya udah datang" sambut Arya
"kita senang-senang malam ini, kalian semua aku traktir deh" kata Kesha
"ciee mentang-mentang pacarnya yang kapten basket" goda Dinda dia juga salah satu temanku ketika SMP dan kita satu sekolah lagi.
"ciee ciee ciee" dan semuanya menggodaku dan Kesha. Aku cuma bisa senyam-senyum. Akhirnya kita pesan apa saja yang kita mau, dan makan sepuasnya diiringi musik yang mengalun dikafe itu.
"sudah jam 8 hujan ga berhenti-berhenti ya" kata Rafi sambil melihat jam tangannya.
"iya, akhir-akhir ini kan cuaca lagi buruk, kemarin aja pas aku lagi main ditaman tiba-tiba hujan, ngeselin banget kan" kata Dinda
"belum mandi sih makanya diguyur pake air hujan" goda Rafi
"enak aja" kata Dinda sambil jitak kepala Rafi.
Pas denger itu aku jadi inget sesuatu, tapi aku juga lupa sesuatu itu apa. Aku langsung periksa HP yang ada didalam tas, ternyata banyak banget sms dari Perri kalau dia udah nunggu aku ditaman dekat sekolah. Langsung aja wajahku berubah jadi pucat, karena keasyikan ngumpul bareng teman-teman aku jadi lupa kalau hari ini aku mau menemui Perri. Aku berfikir, berfikir, terus berfikir agar aku bisa meninggalkan kafe ini. Tapi, aku tidak enak dengan Kesha, aku tahu pasti dia yang nyiapin ini semua buat aku. "sorry, ya temen-temen kayaknya aku mesti cabut sekarang deh"
"emang mau kemana sih?"
"mamaku tadi sms,aku disuruh nganterin dia kerumah saudara aku yang lagi sakit" dia berfikir sebentar.
"tapi diluar hujan hlo Rizal" katanya khawatir
"ga apa-apa hujannya kan air malah jadi seger" Setelah aku berpamitan sama temen-temen aku cepat-cepat tancap gas ketaman dekat sekolah. Aku berfikir mungkin Perri sudah pulang, tidak mungkin ia sebodoh itu menungguku ditengah hujan yang deras ini, aku berharap dia sudah pergi.
"kita senang-senang malam ini, kalian semua aku traktir deh" kata Kesha
"ciee mentang-mentang pacarnya yang kapten basket" goda Dinda dia juga salah satu temanku ketika SMP dan kita satu sekolah lagi.
"ciee ciee ciee" dan semuanya menggodaku dan Kesha. Aku cuma bisa senyam-senyum. Akhirnya kita pesan apa saja yang kita mau, dan makan sepuasnya diiringi musik yang mengalun dikafe itu.
"sudah jam 8 hujan ga berhenti-berhenti ya" kata Rafi sambil melihat jam tangannya.
"iya, akhir-akhir ini kan cuaca lagi buruk, kemarin aja pas aku lagi main ditaman tiba-tiba hujan, ngeselin banget kan" kata Dinda
"belum mandi sih makanya diguyur pake air hujan" goda Rafi
"enak aja" kata Dinda sambil jitak kepala Rafi.
Pas denger itu aku jadi inget sesuatu, tapi aku juga lupa sesuatu itu apa. Aku langsung periksa HP yang ada didalam tas, ternyata banyak banget sms dari Perri kalau dia udah nunggu aku ditaman dekat sekolah. Langsung aja wajahku berubah jadi pucat, karena keasyikan ngumpul bareng teman-teman aku jadi lupa kalau hari ini aku mau menemui Perri. Aku berfikir, berfikir, terus berfikir agar aku bisa meninggalkan kafe ini. Tapi, aku tidak enak dengan Kesha, aku tahu pasti dia yang nyiapin ini semua buat aku. "sorry, ya temen-temen kayaknya aku mesti cabut sekarang deh"
"emang mau kemana sih?"
"mamaku tadi sms,aku disuruh nganterin dia kerumah saudara aku yang lagi sakit" dia berfikir sebentar.
"tapi diluar hujan hlo Rizal" katanya khawatir
"ga apa-apa hujannya kan air malah jadi seger" Setelah aku berpamitan sama temen-temen aku cepat-cepat tancap gas ketaman dekat sekolah. Aku berfikir mungkin Perri sudah pulang, tidak mungkin ia sebodoh itu menungguku ditengah hujan yang deras ini, aku berharap dia sudah pergi.
Setelah sampai ditaman, aku mencari-cari
seseorang. Waktu itu memang sepi sekali, hanya bola lampu taman yang
menerangiku malam itu, lebatnya hujan membuat aku susah mencari apakah
ada orang atau tidak. Aku pikir mungkin Perri sudah pergi. Aku kendarai
motorku dan memutari taman. Pandanganku tertuju pada seseorang yang
sedang duduk dikursi taman.
Apa mungkin itu Perri, aku sedikit ragu mendekatinya. Aku takut itu bukan dia melainkan hantu. Malam, hujan dan sesepi ini pikiranku jadi tambah kacau ditambah dinginnya air hujan yang menusuk tulang-tulangku.
Aku turun dari motor dan menghampirinya "PERRI" triakku. Dan dia menoleh "JAY". Tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangannya dan mengajaknya menaiki motorku. Hujan begitu deras, aku mengajaknya berteduh ditempat yang menurutku lebih aman. Didepan toko yang sudah tutup, ya menurutku itu sudah aman dari derasnya hujan. Aku duduk disampingnya tak bicara sepatah kata pun. Aku binggung harus bicara apa. Akhirnya aku beranikan diri untuk memecahkan suasana "kenapa tidak pulang saja"
"tidak" wajahnya tertunduk, ia menggigil kedinginan. Entah sadar atau tidak aku memeluknya.
Apa mungkin itu Perri, aku sedikit ragu mendekatinya. Aku takut itu bukan dia melainkan hantu. Malam, hujan dan sesepi ini pikiranku jadi tambah kacau ditambah dinginnya air hujan yang menusuk tulang-tulangku.
Aku turun dari motor dan menghampirinya "PERRI" triakku. Dan dia menoleh "JAY". Tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangannya dan mengajaknya menaiki motorku. Hujan begitu deras, aku mengajaknya berteduh ditempat yang menurutku lebih aman. Didepan toko yang sudah tutup, ya menurutku itu sudah aman dari derasnya hujan. Aku duduk disampingnya tak bicara sepatah kata pun. Aku binggung harus bicara apa. Akhirnya aku beranikan diri untuk memecahkan suasana "kenapa tidak pulang saja"
"tidak" wajahnya tertunduk, ia menggigil kedinginan. Entah sadar atau tidak aku memeluknya.
Sejak kejadian itu aku jadi mikirin dia
terus. Aku minta maaf kepadanya berkali-kali "kamu ga perlu minta maaf,
bukan salah kamu kok. Aku senang kamu datang" senyum manis itu terlihat
malam itu ketika aku mengantarnya pulang sampai rumahnya, tak ada raut
wajah marah atau kecewa.
Hari Senin setelah pulang sekolah aku berjanji menjemput Perri disekolahnya. Rencananya aku ingin mengajaknya jalan-jalan sekalian menebus kesalahanku kemarin yang tidak menepati janji. Sekolah Perri tidak begitu jauh dengan sekolahku.
Ketika aku menjemputnya dia begitu senang sekali "jay, kerumah aku yuk" katanya. Aku sedikit kaget, masa dia ngajakin jalan kerumahnya. Tapi, aku turuti itung-itung nebus kesalahan.
Aku masuk kerumahnya dan dia mengajakku masuk kamarnya, aku rada ga enak masa masuk kekamar cewe "udah ga apa-apa, papa sama mama lagi kerja" aku nurut aja
Pas aku masuk kamarnya, aku kagum banget lihat kamarnya yang penuh dengan gambar anime "ini kamu sendiri yang gambar?"
"yup!" katanya lalu dia keluar kamar
"mau kemana?" tanyaku
"ngambil minuman, kamu minum apa?"
"yang dingin aja deh"
Wah, ternyata Perri pinter gambar anime, begitu banyak gambar yang terpajang dikamarnya belum lagi kertas-kertas yang berserakan dilantai penuh dengan gambar anime.
Dia masuk kekamar dan bawa minuman juga kue.
"Jay, minum dulu" Aku minum jus jeruk itu.
"kamu tinggal sama siapa aja?"
"sama mama sama papa, tapi kalau jam segini mereka masih kerja dikantor, jadi aku sendirian disini"
Aku kasihan sama dia, pasti dia kesepian. "gambar kamu bagus-bagus, aku suka"
"makasih" katanya malu-malu
"kamu suka banget ya sama anime?"
dia nganggukin kepalanya. "aku juga suka anime, tapi aku ga bisa gambar sehebat kamu"
"jay gimana kalau aku ajarin"
"boleh"
Dan kita habisin waktu dengan menggambar anime.
Hari Senin setelah pulang sekolah aku berjanji menjemput Perri disekolahnya. Rencananya aku ingin mengajaknya jalan-jalan sekalian menebus kesalahanku kemarin yang tidak menepati janji. Sekolah Perri tidak begitu jauh dengan sekolahku.
Ketika aku menjemputnya dia begitu senang sekali "jay, kerumah aku yuk" katanya. Aku sedikit kaget, masa dia ngajakin jalan kerumahnya. Tapi, aku turuti itung-itung nebus kesalahan.
Aku masuk kerumahnya dan dia mengajakku masuk kamarnya, aku rada ga enak masa masuk kekamar cewe "udah ga apa-apa, papa sama mama lagi kerja" aku nurut aja
Pas aku masuk kamarnya, aku kagum banget lihat kamarnya yang penuh dengan gambar anime "ini kamu sendiri yang gambar?"
"yup!" katanya lalu dia keluar kamar
"mau kemana?" tanyaku
"ngambil minuman, kamu minum apa?"
"yang dingin aja deh"
Wah, ternyata Perri pinter gambar anime, begitu banyak gambar yang terpajang dikamarnya belum lagi kertas-kertas yang berserakan dilantai penuh dengan gambar anime.
Dia masuk kekamar dan bawa minuman juga kue.
"Jay, minum dulu" Aku minum jus jeruk itu.
"kamu tinggal sama siapa aja?"
"sama mama sama papa, tapi kalau jam segini mereka masih kerja dikantor, jadi aku sendirian disini"
Aku kasihan sama dia, pasti dia kesepian. "gambar kamu bagus-bagus, aku suka"
"makasih" katanya malu-malu
"kamu suka banget ya sama anime?"
dia nganggukin kepalanya. "aku juga suka anime, tapi aku ga bisa gambar sehebat kamu"
"jay gimana kalau aku ajarin"
"boleh"
Dan kita habisin waktu dengan menggambar anime.
Semakin hari aku dan Perri semakin dekat,
kuakui aku nyaman bersamanya. Dan bahkan aku sering membohongi Kesha
untuk ketemuan sama dia. Malam minggu ini aku benar-benar bingung. Kesha
mengajakku keluar untuk nonton film sedangkan Perri juga mengajakku
keluar. Aku bilang sama Kesha kalau aku ga bisa tapi dia maksa.
"kamu sekarang berubah ya Rizal"
"berubah apanya?"
"seperti ada sesuatu yang kamu sembunyiin"
"hah, ga ada sumpah"
"bener? Jangan pernah kecewain aku Rizal"
Akhirnya aku lebih memilih pergi bareng Kesha. Dia mengirim pesan "hi" tapi tidak aku balas.
~ ^ ~
"mau ice cream" kataku sambil menyodorkan ice cream coklat pada Perri
"mau"
"kamu lagi gambar apa?"
"ini buat kamu"
"buat aku?" Dia memberiku gambar anime buatannya, gambar anime itu mirip dirinya sendiri, seorang gadis berkuncir dua, tersenyum manis dan anime itu ada tulisannya i love you jay.
"wow! Ini bagus banget. Makasih ya, bakalan aku simpen gambar ini"
Dia terlihat senang. "jay" panggilnya.
"kamu sayang aku apa nggak?"
Tiba-tiba dia bilang gitu, aku jadi gugup mau jawab gimana.
"ahm aku mmm"
Sumpah, aku bingung mau ngomong apa.
"haha kamu ga usah pusing gitu dong aku kan cuma becanda" terus dia colek es cream kehidung aku.
"jahil ya kamu" aku balik aja colek dia pake es cream kepipi chubbynya haha, aku kira dia serius.
"kamu sekarang berubah ya Rizal"
"berubah apanya?"
"seperti ada sesuatu yang kamu sembunyiin"
"hah, ga ada sumpah"
"bener? Jangan pernah kecewain aku Rizal"
Akhirnya aku lebih memilih pergi bareng Kesha. Dia mengirim pesan "hi" tapi tidak aku balas.
~ ^ ~
"mau ice cream" kataku sambil menyodorkan ice cream coklat pada Perri
"mau"
"kamu lagi gambar apa?"
"ini buat kamu"
"buat aku?" Dia memberiku gambar anime buatannya, gambar anime itu mirip dirinya sendiri, seorang gadis berkuncir dua, tersenyum manis dan anime itu ada tulisannya i love you jay.
"wow! Ini bagus banget. Makasih ya, bakalan aku simpen gambar ini"
Dia terlihat senang. "jay" panggilnya.
"kamu sayang aku apa nggak?"
Tiba-tiba dia bilang gitu, aku jadi gugup mau jawab gimana.
"ahm aku mmm"
Sumpah, aku bingung mau ngomong apa.
"haha kamu ga usah pusing gitu dong aku kan cuma becanda" terus dia colek es cream kehidung aku.
"jahil ya kamu" aku balik aja colek dia pake es cream kepipi chubbynya haha, aku kira dia serius.
Ga tau kenapa berhari-hari aku memikirkan
Perri terus kata-katanya yang "kamu sayang aku apa ga?" terus aja
muter-muter dikepalaku. Aku tahu dia ga serius tapi ga tau kenapa aku
memikirkan itu terus. Pas dikelas aku tanya sama temanku dinda. "din,apa
sih artinya kalau aku mikirin seseorang itu terus dan kata-katanya
selalu ada dikepalaku"
"itu berarti kamu sayang sama dia"
"masa sih"
"dia cewek apa cowok"
"rahasia"
"ciee rizal sekarang main rahasia-rahasiaan aku aduin Kesha hlo"
Apa benar ya yang dibilang Dinda, aku sayang sama Perri?
"itu berarti kamu sayang sama dia"
"masa sih"
"dia cewek apa cowok"
"rahasia"
"ciee rizal sekarang main rahasia-rahasiaan aku aduin Kesha hlo"
Apa benar ya yang dibilang Dinda, aku sayang sama Perri?

~ ^ ~
"Jay, hari Sabtu kamu mau ga nemenin aku?"
"kemana?"
"disekolah aku ngadain lomba gambar, aku pengen ikut"
"wah, bagus itu kamu kan jago gambar anime"
"iya aku pengen banget ngembangin hobi aku"
"ga usah ditanya, aku pasti bakalan datang"
Aku seneng banget dengan bakat Perri, dia
pinter gambar anime aku harap dia bisa menang lomba. Dan suatu hari
nanti aku yakin dia pasti bisa ngewujudtin cita-citanya.
Aku pun siap-siap kesekolahannya. "Perri semoga kamu menang" kataku pada gambar anime pemberiannya yang aku pajang didinding kamarku. Kalau aku mau tidur pasti lihat gambar itu dulu.
Pas aku keluar kamar ternyata diruang tamu ada dinda sama Kesha, mereka lagi ngobrol sama mama.
"tuh keluar anaknya,baru aja diomongin" kata mama "wangi banget sih kamu, mau kemana?" tanyanya.
Masa aku kasih tau kalau aku mau ketemu Perri .
"emang anaknya ga boleh wangi apa"
"dasar ngambekan, dinda Kesha tante kedalam dulu ya",
mama mengacak rambutku lalu pergi dari ruang tamu. "kalian ngapain kesini"
"ngapain?" Kesha malah balik Tanya.
"duh rizal, ga usah belaga lupa deh. Kita kan mau hunting peralatan buat acara camping,cape deh" kata dinda
"oh iya ya, minggu depan kita kan ada camping"
"dasar rizal, aku kira tadi udah siap" dinda bawel banget
"iya bawel, ini juga udah siap kok"
Aku pun siap-siap kesekolahannya. "Perri semoga kamu menang" kataku pada gambar anime pemberiannya yang aku pajang didinding kamarku. Kalau aku mau tidur pasti lihat gambar itu dulu.
Pas aku keluar kamar ternyata diruang tamu ada dinda sama Kesha, mereka lagi ngobrol sama mama.
"tuh keluar anaknya,baru aja diomongin" kata mama "wangi banget sih kamu, mau kemana?" tanyanya.
Masa aku kasih tau kalau aku mau ketemu Perri .
"emang anaknya ga boleh wangi apa"
"dasar ngambekan, dinda Kesha tante kedalam dulu ya",
mama mengacak rambutku lalu pergi dari ruang tamu. "kalian ngapain kesini"
"ngapain?" Kesha malah balik Tanya.
"duh rizal, ga usah belaga lupa deh. Kita kan mau hunting peralatan buat acara camping,cape deh" kata dinda
"oh iya ya, minggu depan kita kan ada camping"
"dasar rizal, aku kira tadi udah siap" dinda bawel banget
"iya bawel, ini juga udah siap kok"
Setelah pulang dari hunting peralatan camping aku lalu kerumah Perri. Aku mengetuk pintu dan dia yang buka
"hi" sapaku kikuk
"ada apa?"
"sorry, aku . ."
Dia keluar, lalu duduk diteras. Aku lalu duduk disampingnya.
"gimana lombanya"
"mungkin hari ini bukan hari keberuntungan aku, jadi aku kalah "
"kok bisa sih, gambar kamu kan bagus, jurinya buta kali ya"
Kayaknya aku ga perlu jelasin apa-apa kedia, pasti dia tau kenapa aku ga dateng ke acara lomba.
"hi" sapaku kikuk
"ada apa?"
"sorry, aku . ."
Dia keluar, lalu duduk diteras. Aku lalu duduk disampingnya.
"gimana lombanya"
"mungkin hari ini bukan hari keberuntungan aku, jadi aku kalah "
"kok bisa sih, gambar kamu kan bagus, jurinya buta kali ya"
Kayaknya aku ga perlu jelasin apa-apa kedia, pasti dia tau kenapa aku ga dateng ke acara lomba.
~ ^ ~
Sore ini seperti biasa aku latihan basket pas selesai ternyata ada Perri "kamu ngapain kesini" tanyaku sedikit kaget
"kenapa, ga boleh ya?"
"ya bolehlah, aku malah senang banget kamu kesini"
"ini" dia memberiku minum "perhatian banget sih kamu, makasih ya" aku minum, minuman pemberiannya pas banget aku lagi haus
"Rizal" tiba-tiba Kesha dateng dan memelukku, aku hampir tersedak dibuatnya. Dia melihat ke arah Perri.
"hi,aku alivia tapi kamu bisa panggil aku Perri" kata Perri menyodorkan tangannya
"Kesha, kamu temannya rizal ya" Kesha menyambut tangan Perri dengan senang
"iya"
"kayaknya kamu bukan anak sini deh"
"aku anak SMU Citra Bangsa"
"oh,eh itu bukannya SMUnya artis . . . ."
dan mereka asik ngobrol, dan aku dicuekin. Dasar cewek.
Sore ini seperti biasa aku latihan basket pas selesai ternyata ada Perri "kamu ngapain kesini" tanyaku sedikit kaget
"kenapa, ga boleh ya?"
"ya bolehlah, aku malah senang banget kamu kesini"
"ini" dia memberiku minum "perhatian banget sih kamu, makasih ya" aku minum, minuman pemberiannya pas banget aku lagi haus
"Rizal" tiba-tiba Kesha dateng dan memelukku, aku hampir tersedak dibuatnya. Dia melihat ke arah Perri.
"hi,aku alivia tapi kamu bisa panggil aku Perri" kata Perri menyodorkan tangannya
"Kesha, kamu temannya rizal ya" Kesha menyambut tangan Perri dengan senang
"iya"
"kayaknya kamu bukan anak sini deh"
"aku anak SMU Citra Bangsa"
"oh,eh itu bukannya SMUnya artis . . . ."
dan mereka asik ngobrol, dan aku dicuekin. Dasar cewek.
~ ^ ~
Malamnya aku telfon Perri
"tadi ada Kesha"kataku
"jadi, itu pacar kamu, cantik banget ya"
"yah, dia emang cantik"
"dia cantik, trus tadi siang dia enak banget diajakin ngobrol, asik dan baik lagi"
"kok kamu puji-puji dia terus sih"
"ya emang bener kan apa kata aku"
"kamu sih belum tau kalau dia lagi ngambek"
"hahah kenapa?"
"harimau aja takut ama dia"
"harimau apa kamu hahah"
"hmm, udah deh jangan ngomongin dia terus ntar dia denger lagi"
"hahah ya udah sama tidur"
"ok good night ya"
"good night sayang"
"tadi kamu bilang apa?"
"bilang apa?"
"itu tadi"
"aku ga bilang apa-apa jay"
"ahm,ya udah deh mungkin aku salah denger"
Aku tutup telfonnya, tapi tadi aku ga salah denger deh kayaknya dia panggil aku sayang.
~ ^ ~
Akhirnya aku bisa jalan juga bareng Perri, aku mengajaknya kekafe.
"aku,Kesha dan teman-temanku sering ngumpul dikafe ini"
"wow pasti seru banget ya"
"jelas lah, kadang sampai larut malam, kafenya mau tutup dan kita semua diusir"
"hahaha" dia ketawa "sorry"
"sorry, for what?"
"rasanya, aku seperti selingkuhan kamu, ya aku tau kita ga ada apa-apa tapi permainan itu buat aku merasa kalau aku tuh selingkuhan kamu"
"dua cappucino extra cream" kata pelayan yang mengantar pesanan.
"kamu maunya gimana" tanyaku
"aku ga tau, aku pengen akhiri ini semua tapi ga tahu kenapa aku ga pengen"
Aku cuma bisa diam dan nikmati cappucino, aku tahu kenapa dia bicara kayak gitu dan begitu juga aku sama kayak dia ga mau permainan ini berakhir tapi apa harus aku bilang kedia kalau aku sayang sama dia. Buruk! Aku bisa hancurin semuanya. Dia bukan siapa-siapa aku, aku ga mungkin khianati Kesha. Kita terjebak dalam satu permainan konyol sebagai Christina Perri dan Jay Park.
Malamnya aku telfon Perri
"tadi ada Kesha"kataku
"jadi, itu pacar kamu, cantik banget ya"
"yah, dia emang cantik"
"dia cantik, trus tadi siang dia enak banget diajakin ngobrol, asik dan baik lagi"
"kok kamu puji-puji dia terus sih"
"ya emang bener kan apa kata aku"
"kamu sih belum tau kalau dia lagi ngambek"
"hahah kenapa?"
"harimau aja takut ama dia"
"harimau apa kamu hahah"
"hmm, udah deh jangan ngomongin dia terus ntar dia denger lagi"
"hahah ya udah sama tidur"
"ok good night ya"
"good night sayang"
"tadi kamu bilang apa?"
"bilang apa?"
"itu tadi"
"aku ga bilang apa-apa jay"
"ahm,ya udah deh mungkin aku salah denger"
Aku tutup telfonnya, tapi tadi aku ga salah denger deh kayaknya dia panggil aku sayang.
~ ^ ~
Akhirnya aku bisa jalan juga bareng Perri, aku mengajaknya kekafe.
"aku,Kesha dan teman-temanku sering ngumpul dikafe ini"
"wow pasti seru banget ya"
"jelas lah, kadang sampai larut malam, kafenya mau tutup dan kita semua diusir"
"hahaha" dia ketawa "sorry"
"sorry, for what?"
"rasanya, aku seperti selingkuhan kamu, ya aku tau kita ga ada apa-apa tapi permainan itu buat aku merasa kalau aku tuh selingkuhan kamu"
"dua cappucino extra cream" kata pelayan yang mengantar pesanan.
"kamu maunya gimana" tanyaku
"aku ga tau, aku pengen akhiri ini semua tapi ga tahu kenapa aku ga pengen"
Aku cuma bisa diam dan nikmati cappucino, aku tahu kenapa dia bicara kayak gitu dan begitu juga aku sama kayak dia ga mau permainan ini berakhir tapi apa harus aku bilang kedia kalau aku sayang sama dia. Buruk! Aku bisa hancurin semuanya. Dia bukan siapa-siapa aku, aku ga mungkin khianati Kesha. Kita terjebak dalam satu permainan konyol sebagai Christina Perri dan Jay Park.
~ ^ ~
Aku ga bisa kayak gini terus, sama saja aku permainkan hati dua cewek, Kesha dan Perri. Aku sayang sama Kesha, jujur aku ga bisa ninggalin dia, tapi perasaanku ke Perri semakin hari semakin aneh. Perasaan itu emang ada. Aku tahu dia juga sayang sama aku, buktinya dia begitu berat untuk mengakhiri permainan ini. Saat ini, detik ini juga aku benar-benar suka sama dia, bukan ini bukan rasa suka yang biasa, ini sepeti CINTA?
~ ^ ~
"kenapa nomor kamu ga aktif" malam ini aku temui dia dirumahnya.
Aku dan dia duduk didepan teras.
"kamu bisa main gitar" tanyaku yang melihatnya membawa gitar.
"baru belajar"
"aku bisa ngajarin kamu"
"emang kamu bisa"
"sini" aku ambil gitarnya dari dia.
Aku coba buat mainin gitar itu sambil nyanyi lagu a thousand years, aku tau itu lagu favoritenya, begitu manis ketika aku melihat senyumannya, senyum yang ga akan pernah aku lupa. Perri, maksudku alivia aku mencintaimu. Dia menatapku sendu, lalu menyenderkan kepalanya dipundakku. Entah apa yang aku rasakan saat ini, bahagia atau apa. Aku memeluknya, dalam kehangatan malam bibir kami saling menyatu.
Aku ga bisa kayak gini terus, sama saja aku permainkan hati dua cewek, Kesha dan Perri. Aku sayang sama Kesha, jujur aku ga bisa ninggalin dia, tapi perasaanku ke Perri semakin hari semakin aneh. Perasaan itu emang ada. Aku tahu dia juga sayang sama aku, buktinya dia begitu berat untuk mengakhiri permainan ini. Saat ini, detik ini juga aku benar-benar suka sama dia, bukan ini bukan rasa suka yang biasa, ini sepeti CINTA?
~ ^ ~
"kenapa nomor kamu ga aktif" malam ini aku temui dia dirumahnya.
Aku dan dia duduk didepan teras.
"kamu bisa main gitar" tanyaku yang melihatnya membawa gitar.
"baru belajar"
"aku bisa ngajarin kamu"
"emang kamu bisa"
"sini" aku ambil gitarnya dari dia.
Aku coba buat mainin gitar itu sambil nyanyi lagu a thousand years, aku tau itu lagu favoritenya, begitu manis ketika aku melihat senyumannya, senyum yang ga akan pernah aku lupa. Perri, maksudku alivia aku mencintaimu. Dia menatapku sendu, lalu menyenderkan kepalanya dipundakku. Entah apa yang aku rasakan saat ini, bahagia atau apa. Aku memeluknya, dalam kehangatan malam bibir kami saling menyatu.
~ ^ ~
Aku merasa aku bukanlah diriku yang sebenarnya, melainkan orang lain. Bukan rizal tapi jay park. Aku harus bisa menentukan Perri atau Kesha
"kenapa kamu ngajak aku kesini" tanyaku
"ini tempat pertama kali kita bertemu kan'' Malam ini aku jalan bareng Perri, dia mengajakku ketoko yang sudah tutup, aku ingat waktu itu pertamanya aku bertemu dengannya karena hujan aku mengajaknya berteduh disini. Dan kali ini kejadiannya sama, aku duduk disampingnya dia tapi bedanya malam ini tidak hujan. "kamu tahu?"
"tahu apa?" tanyaku sedikit bingung
"maafin aku jay"
"maaf? Maaf untuk apa? Emang kamu salah apa?"
"maaf ma-maaf" kata-katanya jadi terbata-bata
"maafin aku udah sayang sama kamu"
Rasanya kayak mimpi. Apa? Perri sayang sama aku, aku pengen denger sekali lagi kata itu.
"pas pertama kita kenalan difacebook dan ikut permainan itu. Aku senang banget, aku belum pernah mengenal cowok sebelumnya. Ketika kita bertemu dan melewati hari-hari bersama aku baru ngerasain ini yang namanya hidup. Kamu menciptakan kenangan yang begitu indah, untuk kebersamaan kita yang singkat ini"
"maksud kamu?"
"aku mau permainan ini berakhir"
"kenapa? bukannya tadi kamu bilang kamu sayang sama aku"
"jangan tanya kenapa!" nadanya sedikit membentak
"kamu tau perasaan aku kekamu itu . . . "
"ssst" dia menyuruhku diam.
Aku merasa aku bukanlah diriku yang sebenarnya, melainkan orang lain. Bukan rizal tapi jay park. Aku harus bisa menentukan Perri atau Kesha
"kenapa kamu ngajak aku kesini" tanyaku
"ini tempat pertama kali kita bertemu kan'' Malam ini aku jalan bareng Perri, dia mengajakku ketoko yang sudah tutup, aku ingat waktu itu pertamanya aku bertemu dengannya karena hujan aku mengajaknya berteduh disini. Dan kali ini kejadiannya sama, aku duduk disampingnya dia tapi bedanya malam ini tidak hujan. "kamu tahu?"
"tahu apa?" tanyaku sedikit bingung
"maafin aku jay"
"maaf? Maaf untuk apa? Emang kamu salah apa?"
"maaf ma-maaf" kata-katanya jadi terbata-bata
"maafin aku udah sayang sama kamu"
Rasanya kayak mimpi. Apa? Perri sayang sama aku, aku pengen denger sekali lagi kata itu.
"pas pertama kita kenalan difacebook dan ikut permainan itu. Aku senang banget, aku belum pernah mengenal cowok sebelumnya. Ketika kita bertemu dan melewati hari-hari bersama aku baru ngerasain ini yang namanya hidup. Kamu menciptakan kenangan yang begitu indah, untuk kebersamaan kita yang singkat ini"
"maksud kamu?"
"aku mau permainan ini berakhir"
"kenapa? bukannya tadi kamu bilang kamu sayang sama aku"
"jangan tanya kenapa!" nadanya sedikit membentak
"kamu tau perasaan aku kekamu itu . . . "
"ssst" dia menyuruhku diam.
"aku ga perlu tau perasaan kamu. Lebih baik seperti ini"
Apa memang ini yang terbaik, aku rasa ada sesuatu yang aargh aku sampai bingung harus gimana
Apa memang ini yang terbaik, aku rasa ada sesuatu yang aargh aku sampai bingung harus gimana
"jay" panggilnya.
"iya, Perri"
"kamu bisa mewujudkan keinginan aku apa tidak"
"apa Perri?"
"malam ini aku ingin memelukmu lebih lama tanpa jeda tanpa diburu masa dan terhalang oleh dia"
"tentu saja" aku lalu memeluknya.
"kamu bisa mewujudkan keinginan aku apa tidak"
"apa Perri?"
"malam ini aku ingin memelukmu lebih lama tanpa jeda tanpa diburu masa dan terhalang oleh dia"
"tentu saja" aku lalu memeluknya.
"zal,yang bagus dong mainnya"
"ini juga udah bagus"
"kamu nglempar bola kayak nglempar jemuran emak kamu"
Aku langsung duduk dan istirahat, "kenapa sih?" tanya Rafi
"ini juga udah bagus"
"kamu nglempar bola kayak nglempar jemuran emak kamu"
Aku langsung duduk dan istirahat, "kenapa sih?" tanya Rafi
"kenapa apanya?"
"ya kenapa main basketnya ngawur gitu, lagi mikir apa sih?"
"kepo kamu" aku langsung beranjak dari lapangan basket
"zal,belum selesai latihan basketnya"
Pikiranku cuma Perri, Perri, Perri, dan Perri. Sejak semalam itu nomornya ga aktif, difacebook juga ga on. Aku harus kerumahnya.
Malam ini aku kerumahnya, pas aku ketuk pintu tidak ada yang membuka, rumahnya juga kelihatan sepi. Didalam juga terlihat gelap. Kemana ya dia, apa sudah tidur, masa baru jam 7 udah tidur sih. Aku coba lagi buat menelponnya tapi selalu saja nomornya ga aktif. Perri dimana sih kamu, jangan buat aku khawatir.
Besoknya aku datang lagi kerumahnya dia, dan beruntungnya aku, dia ada dirumah. Seperti biasa aku berada dikamarnya, dan dia asik menggambar.
"dua minggu lagi kita ujian ya" katanya.
"kepo kamu" aku langsung beranjak dari lapangan basket
"zal,belum selesai latihan basketnya"
Pikiranku cuma Perri, Perri, Perri, dan Perri. Sejak semalam itu nomornya ga aktif, difacebook juga ga on. Aku harus kerumahnya.
Malam ini aku kerumahnya, pas aku ketuk pintu tidak ada yang membuka, rumahnya juga kelihatan sepi. Didalam juga terlihat gelap. Kemana ya dia, apa sudah tidur, masa baru jam 7 udah tidur sih. Aku coba lagi buat menelponnya tapi selalu saja nomornya ga aktif. Perri dimana sih kamu, jangan buat aku khawatir.
Besoknya aku datang lagi kerumahnya dia, dan beruntungnya aku, dia ada dirumah. Seperti biasa aku berada dikamarnya, dan dia asik menggambar.
"dua minggu lagi kita ujian ya" katanya.
Dua minggu lagi memang akan ada ujian nasional
"iya tapi aku malas banget buat belajar"
"kok gitu kamu harus rajin belajar biar bisa lulus"
"kalau misalnya kita udah lulus, kamu mau kuliah dimana?"
"belum tahu"
"aku harap bisa satu kampus sama kamu" kataku tapi dia tidak memperhatikanku dan tetap asik menggambar.
"iya tapi aku malas banget buat belajar"
"kok gitu kamu harus rajin belajar biar bisa lulus"
"kalau misalnya kita udah lulus, kamu mau kuliah dimana?"
"belum tahu"
"aku harap bisa satu kampus sama kamu" kataku tapi dia tidak memperhatikanku dan tetap asik menggambar.
"aku sibuk belajar jay, udah dulu ya"
katanya ketika kutelpon. Semakin hari aku semakin jauh dari Perri. Dia
sibuk belajar buat ujian dan begitu pula aku. Rasanya malas sekali buat
belajar, karena Perri begitu cuek dan akhir-akhir ini ia seperti tidak
menganggapku lagi.
Untung ada Kesha dia yang selalu nyemangatin aku buat belajar dan ngingetin aku ketika aku malas belajar.
Hingga akhirnya ujian pun tiba. Ujian diadakan selama 4 hari. Dan selama 4 hari itu aku tidak pernah menghubungi Perri kita sibuk masing-masing.
"zal, nanti kamu mau kuliah dimana?" tanya mama.
"ga tau"
"kok ga tau, lebih baik kamu ikut om kamu di Singapore, dan kuliah disana"
Rasanya aku malas sekali buat memikirkan nanti mau kuliah dimana, kecuali aku tau Perri ingin kuliah dimana, dan aku pengen banget bisa satu kampus sama dia. Aku pengen kasih sesuatu buat dia, jadi aku gambar saja anime. Aku gambar diriku sendiri dan disitu ada tulisannya "i love you Perri". Setelah kelulusan nanti aku bakal kasih gambar ini kedia, ini sebagai hadiah buat dia. Aku yakin dia bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.
~ ^ ~
Sore ini Kesha kerumahku "zal, nanti kamu kuliah dimana?"
"aku lagi ga mau mikirin itu"
"kok gitu emangnya kamu ga mau kuliah"
Aku emang lagi ga mood buat mikirin nanti kuliah dimana. Kenapa semua orang selalu bertanya mau kuliah dimana ketika lulus SMA. "belum tau sha"
"aku harap kita bisa satu kampus, zal"
Untung ada Kesha dia yang selalu nyemangatin aku buat belajar dan ngingetin aku ketika aku malas belajar.
Hingga akhirnya ujian pun tiba. Ujian diadakan selama 4 hari. Dan selama 4 hari itu aku tidak pernah menghubungi Perri kita sibuk masing-masing.
"zal, nanti kamu mau kuliah dimana?" tanya mama.
"ga tau"
"kok ga tau, lebih baik kamu ikut om kamu di Singapore, dan kuliah disana"
Rasanya aku malas sekali buat memikirkan nanti mau kuliah dimana, kecuali aku tau Perri ingin kuliah dimana, dan aku pengen banget bisa satu kampus sama dia. Aku pengen kasih sesuatu buat dia, jadi aku gambar saja anime. Aku gambar diriku sendiri dan disitu ada tulisannya "i love you Perri". Setelah kelulusan nanti aku bakal kasih gambar ini kedia, ini sebagai hadiah buat dia. Aku yakin dia bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.
~ ^ ~
Sore ini Kesha kerumahku "zal, nanti kamu kuliah dimana?"
"aku lagi ga mau mikirin itu"
"kok gitu emangnya kamu ga mau kuliah"
Aku emang lagi ga mood buat mikirin nanti kuliah dimana. Kenapa semua orang selalu bertanya mau kuliah dimana ketika lulus SMA. "belum tau sha"
"aku harap kita bisa satu kampus, zal"
~ ^ ~
Hari ini pengumuman kelulusan, anak-anak begitu antusias untuk membuka amplop yang dibagikan guru
"aaaarrgghh aku lulus"
"yeeeeee"
"zal, gimana? Lulus?"
"aku lulus sha" Kesha langsung memelukku. Kita semua corat-coret baju dan tanda tanganin baju teman-teman buat kenang-kenangan.
Dan malamnya seperti biasa aku dan teman-teman merayakan kelulusan ini dikafe tempat kita biasa nongkrong. Dan malam itu aku nyanyiin sebuah lagu dikafe itu dengan gitar. "lagu ini buat seseorang yang selama ini aku sayang. Terimakasih, karena selama ini selalu mendukung dan menemaniku tiap harinya." Aku lalu memainkan gitar itu, dan bait demi bait aku lantunkan. Lagu itu membuatku flashback. Ketika itu ada gadis yang rela kedinginan duduk dibangku taman, saat malam hari dan diguyur derasnya hujan dan dia tetap setia menunggu disitu. Menunggu laki-laki bodoh sepertiku. Laki-laki yang tidak bisa memilih cinta.
Setelah selesai bernyanyi aku duduk disofa kafe,dan kuminum minuman favoriteku cappucino extra cream "lagunya bagus, thanks ya" kata Kesha duduk dan mencium pipiku.
"hah, apa?" aku bingung.
"lagu yang barusan kamu nyanyiin itu buat aku kan Rizal?"
"ahm yah tentu" aku lalu cium keningnya, sumpah aku ngerasa bersalah banget sama dia. Disaat aku sama dia, pikiran ku malah kecewek lain. Ingin sekali rasanya aku keluar dari lingkaran masalah ini.
Hari ini pengumuman kelulusan, anak-anak begitu antusias untuk membuka amplop yang dibagikan guru
"aaaarrgghh aku lulus"
"yeeeeee"
"zal, gimana? Lulus?"
"aku lulus sha" Kesha langsung memelukku. Kita semua corat-coret baju dan tanda tanganin baju teman-teman buat kenang-kenangan.
Dan malamnya seperti biasa aku dan teman-teman merayakan kelulusan ini dikafe tempat kita biasa nongkrong. Dan malam itu aku nyanyiin sebuah lagu dikafe itu dengan gitar. "lagu ini buat seseorang yang selama ini aku sayang. Terimakasih, karena selama ini selalu mendukung dan menemaniku tiap harinya." Aku lalu memainkan gitar itu, dan bait demi bait aku lantunkan. Lagu itu membuatku flashback. Ketika itu ada gadis yang rela kedinginan duduk dibangku taman, saat malam hari dan diguyur derasnya hujan dan dia tetap setia menunggu disitu. Menunggu laki-laki bodoh sepertiku. Laki-laki yang tidak bisa memilih cinta.
Setelah selesai bernyanyi aku duduk disofa kafe,dan kuminum minuman favoriteku cappucino extra cream "lagunya bagus, thanks ya" kata Kesha duduk dan mencium pipiku.
"hah, apa?" aku bingung.
"lagu yang barusan kamu nyanyiin itu buat aku kan Rizal?"
"ahm yah tentu" aku lalu cium keningnya, sumpah aku ngerasa bersalah banget sama dia. Disaat aku sama dia, pikiran ku malah kecewek lain. Ingin sekali rasanya aku keluar dari lingkaran masalah ini.
Seharusnya aku harus pilih, antara bersama Kesha atau Perri. Tapi, aku begitu egois, aku ga mau kehilangan dua gadis itu.
Rasanya aku pengen banget bilang sayang ke Perri. Sejak berbulan-bulan lamanya aku jadi pacar permainanannya tak sekalipun aku memanggil dia dengan sebutan sayang. Padahal aku begitu menyayanginya. Laki-laki macam apa aku. Aku ga boleh jadi loser.
Paginya aku kerumahnya, dan tentu saja aku bawa gambar buatanku.
Pas aku sampai rumahnya orang-orang terlihat sibuk, memasukkan barang-barang dan dimasukan kedalam mobil "Perri" panggilku ketika melihatnya "ini ada apa?"
"persiapan pindah"
"hah! Pindah! Kemana?"
"ikut papa, dan sepertinya aku juga akan kuliah disana"
"disana, disana dimana?"
"kamu ga perlu tahu"
Aku ga percaya itu jawabannya. Bukan ini yang ingin aku dengar. "itu apa?"
"buat kamu" Dia buka gambar itu. "ini kamu sendiri yang gambar?" aku nganggukin kepala. "makasih,ini gambar yang paling bagus, katanya ga bisa gambar anime"
"Perri"
"apa"
"aku mohon, aku mohon kamu jujur sama aku, kamu pindah kemana"
"apa harus"
"ck" aku acak-acak rambutku karena frustasi harus gimana. Dia gadis yang aku cintai mau pergi dengan mudahnya "please, aku mohon Perri. Aku mau jujur sama kamu, kalau selama ini aku juga sayang sama kamu,aku ga mau kalau kamu pergi" aku pegang tanggannya erat-erat.
"jay,aku ga pernah kok ninggalin kamu. Aku ga perlu kasih tau kamu aku pindah kemana. Aku pindah bukan untuk jauh dari kamu, justru ini yang terbaik. Aku senang bisa kenal sama kamu, juga dengan Kesha. Dia gadis yang baik, aku ga mau nyakitin gadis sebaik dia. Permainan ini harus berakhir. Suatu hari nanti kalau kita memang jodoh, aku yakin kita pasti bakalan ketemu lagi"
"alivia,ayo sayang kita berangkat"
"iya pah"
"selamat tinggal jay" dia lepas genggaman tanganku dan masuk ke mobil. Mobil itu melaju, sampai akhirnya mobil itu lenyap dari pandanganku.
Rasanya aku pengen banget bilang sayang ke Perri. Sejak berbulan-bulan lamanya aku jadi pacar permainanannya tak sekalipun aku memanggil dia dengan sebutan sayang. Padahal aku begitu menyayanginya. Laki-laki macam apa aku. Aku ga boleh jadi loser.
Paginya aku kerumahnya, dan tentu saja aku bawa gambar buatanku.
Pas aku sampai rumahnya orang-orang terlihat sibuk, memasukkan barang-barang dan dimasukan kedalam mobil "Perri" panggilku ketika melihatnya "ini ada apa?"
"persiapan pindah"
"hah! Pindah! Kemana?"
"ikut papa, dan sepertinya aku juga akan kuliah disana"
"disana, disana dimana?"
"kamu ga perlu tahu"
Aku ga percaya itu jawabannya. Bukan ini yang ingin aku dengar. "itu apa?"
"buat kamu" Dia buka gambar itu. "ini kamu sendiri yang gambar?" aku nganggukin kepala. "makasih,ini gambar yang paling bagus, katanya ga bisa gambar anime"
"Perri"
"apa"
"aku mohon, aku mohon kamu jujur sama aku, kamu pindah kemana"
"apa harus"
"ck" aku acak-acak rambutku karena frustasi harus gimana. Dia gadis yang aku cintai mau pergi dengan mudahnya "please, aku mohon Perri. Aku mau jujur sama kamu, kalau selama ini aku juga sayang sama kamu,aku ga mau kalau kamu pergi" aku pegang tanggannya erat-erat.
"jay,aku ga pernah kok ninggalin kamu. Aku ga perlu kasih tau kamu aku pindah kemana. Aku pindah bukan untuk jauh dari kamu, justru ini yang terbaik. Aku senang bisa kenal sama kamu, juga dengan Kesha. Dia gadis yang baik, aku ga mau nyakitin gadis sebaik dia. Permainan ini harus berakhir. Suatu hari nanti kalau kita memang jodoh, aku yakin kita pasti bakalan ketemu lagi"
"alivia,ayo sayang kita berangkat"
"iya pah"
"selamat tinggal jay" dia lepas genggaman tanganku dan masuk ke mobil. Mobil itu melaju, sampai akhirnya mobil itu lenyap dari pandanganku.
~ ^ ~
"mah, kapan Rizal ke Singapore?"
"kamu beneran mau kuliah disana, mama jadi senang. Secepatnya mama kontak om kamu"
Aku putuskan untuk meninggalkan Indonesia. Bukan untuk lari dari masalah. Aku sengaja pilih ini. Aku pengen melupakan semua dan buka lembaran baru. Lebih baik aku tak memilih antara Kesha ataupun Perri. Karena, kalau aku lakukan itu aku bakalan nyakitin perasaan mereka. Mereka berdua adalah cewek berhati baik jadi mana mungkin aku tega nyakitin mereka. Aku ga bisa kalau disuruh milih.
Aku telah berdosa pada Kesha, selama ini aku membohonginya. Dibelakangnya aku berpacaran dengan cewek lain hanya karena permainan konyol.
"mah, kapan Rizal ke Singapore?"
"kamu beneran mau kuliah disana, mama jadi senang. Secepatnya mama kontak om kamu"
Aku putuskan untuk meninggalkan Indonesia. Bukan untuk lari dari masalah. Aku sengaja pilih ini. Aku pengen melupakan semua dan buka lembaran baru. Lebih baik aku tak memilih antara Kesha ataupun Perri. Karena, kalau aku lakukan itu aku bakalan nyakitin perasaan mereka. Mereka berdua adalah cewek berhati baik jadi mana mungkin aku tega nyakitin mereka. Aku ga bisa kalau disuruh milih.
Aku telah berdosa pada Kesha, selama ini aku membohonginya. Dibelakangnya aku berpacaran dengan cewek lain hanya karena permainan konyol.
"jadi kamu bakalan pergi ke Singapore?" tanya Kesha.
"iya aku disana akan tinggal dengan om ku"
Dia terlihat kecewa,dan aku mengerti perasaannya.
“sha, aku boleh jujur sama kamu?” aku sedikit ragu untuk bicara.
“jujur apa?”
“sebenarnya, ahm aku” Dia menatapku dalam-dalam dan aku sama sekali tak berani menatap mataya.
“aku sebenarnya, aku”
“Rizal kamu kenapa sih?’’
“sha, maaf. Maafin aku, selama ini aku
bohong sama kamu aku khianati kamu. Aku pacaran dengan cewek lain.
Perri, kamu ingat dia?”
Dia menatapku lekat-lekat, seakan dia ga percaya apa yang barusan aku katakan.
“permainan konyol difacebook, permainan itu
yang buat aku bisa pacaran sama Perri. Digroup Roleplayers, tadinya aku
Cuma main-main sama dia tapi aku bodoh, aku mencintainya. Dan lebih
bodohnya lagi aku juga mencintaimu”
Dia tetap menatapku tak percaya, lalu dia
melangkah pergi. Rasanya lega bisa jujur sama Kesha dan aku sudah siap
menerima resiko ini. Kesha pasti sangat membenciku.
~ ^ ~
Hari ini aku akan berangkat ke Singapore, mama mengantarku sampai ke Bandara. Dia dari tadi menangis.
Hari ini aku akan berangkat ke Singapore, mama mengantarku sampai ke Bandara. Dia dari tadi menangis.
“mama masih ga percaya kamu sudah besar Rizal, padahal rasanya baru kemarin mama ganti popok kamu” Dia memelukku.
“Rizal” panggil seseorang yang mengagetkanku.
“Kesha” aku tak percaya dia ada disini.
“Dinda meneleponku dan menyuruhku kesini” Dia mendekatiku.
“maaf aku..”
“tenang saja, anggap semuanya sudah berlalu. Sakit, itu pasti tapi…” Aku
memeluknya. Pelukan begitu erat, aku ga peduli ini dimana dan siapa
saja yang memandang kami, rasanya aku ingin pelukan ini jangan berakhir.
Dia menangis, air mata itu keluar dan turun kepipinya dan membasahi
pundakku.
Dia melepas pelukanku, “selamat tinggal” katanya. Aku usap air matanya.
"aku ga mau kamu sedih, aku ga pernah ninggalin kamu. Suatu hari nanti kalau kita jodoh pasti kita bakalan ketemu lagi" kataku. Dia menatapku dan air mata itu tak henti-hentinya keluar dari mata sipitnya. Aku ga tega melihatnya menangis.
"aku ga mau kamu sedih, aku ga pernah ninggalin kamu. Suatu hari nanti kalau kita jodoh pasti kita bakalan ketemu lagi" kataku. Dia menatapku dan air mata itu tak henti-hentinya keluar dari mata sipitnya. Aku ga tega melihatnya menangis.
“sebelum aku pergi, aku ingin tahu apa kamu memaafkan aku?”
“yah, tentu” Aku lega mendengarnya. Kesha benar-benar gadis yang baik, aku bodoh pernah sia-siain dia.
Aku yakin suatu hari nanti entah itu kapan,
dimana dan entah keadaannya seperti apa, aku yakin banget bisa ketemu
Kesha ataupun Perri. Entah itu mereka udah mempunyai kekasih lain, atau
bahkan menikah. Tapi, yang jelas aku percaya bahwa jodoh itu emang ada.
Kira-kira kapan ya aku ketemu mereka berdua lagi?
Kira-kira kapan ya aku ketemu mereka berdua lagi?
Created by Rina
Alumni 2014/AP
Follow Me : @Rinzzle666
Pin: 53A1A472

Different Summers
Kalau
kamu sadar, aku tersiksa dengan semua kebohongan status ini!
Aku dan Daniel sudah bersahabat sejak kami masih kecil. Rumahku dan rumahnya
Daniel juga sangat dekat dan kami selalu bersekolah di sekolah yang sama di
Jakarta. Sekarang kami duduk dibangku SMA. Aku dan Daniel sangat berbeda, bukan
beda karena aku cewek dan dia cowok tapi sifat dan perilaku kami bisa dibilang
berbanding terbalik. Daniel adalah cowok yang begitu detail akan apapun, dari
ujung rambut hingga ujung kaki pun ia perhatikan betul-betul. Sedangkan aku?
aku sama sekali tidak begitu peduli dengan semua itu. Aku dikenal sebagai cewek
tomboi, untuk urusan perawatan kulit, perawatan kuku ataupun rambut aku tidak
pernah melakukannya kesalon pun itu karena dipaksa oleh mama untuk potong
rambut dan itu pun aku begitu malas. Daniel juga rajin bangun pagi, katanya
bangun pagi itu buat tubuh jadi sehat, kita bisa meluangkan waktu untuk
jogging. Beda dengan aku yang begitu malas untuk bangun pagi. Bangun pagi untuk
sekolah pun aku harus dibangunin sama mama, kadang Daniel yang membangunkanku
dengan teriakan-teriakannya dan suara falsnya yang merusak gendang telingaku,
ya dia teriak tepat dikupingku. Aku sering melemparnya dengan bantal guling
atau bola basket yang ada dikamarku.
"RA, BANGUN WOE DASAR
KEBO!" Setelah itu dia nyanyi-nyanyi gak jelas dengan suara falsnya dan
guling melayang kekepalanya.
Untuk urusan olahraga, Daniel tidak begitu tertarik. Beda dengan aku yang begitu menyukai basket, sepak bola, bahkan aku juga sering mengikuti eksschool panjat tebing. Daniel lebih suka meluangkan waktunya untuk belajar, mengikuti les matematika dan les biola.
Untuk urusan olahraga, Daniel tidak begitu tertarik. Beda dengan aku yang begitu menyukai basket, sepak bola, bahkan aku juga sering mengikuti eksschool panjat tebing. Daniel lebih suka meluangkan waktunya untuk belajar, mengikuti les matematika dan les biola.
Aku begitu cuek dengan apapun,
beda dengan Daniel yang selalu memperhatikan apapun. "Raquel, ini rambut
kamu kusut banget kamu keramas gak sih?"
"bawel banget" jitakan melayang ke kepalanya.
Keluargaku dan keluarga Daniel begitu dekat, kami sering liburan musim panas bersama-sama. Biasanya kami menghabiskan waktu kami untuk piknik, atau menghabiskan waktu untuk bermain pasir dipantai. Aku masih ingat ketika Aku dan Daniel berumur 5 tahun, seperti biasa keluarga kami menghabiskan liburan musim panas bersama. Dan waktu itu kami berada di Pantai.
"bawel banget" jitakan melayang ke kepalanya.
Keluargaku dan keluarga Daniel begitu dekat, kami sering liburan musim panas bersama-sama. Biasanya kami menghabiskan waktu kami untuk piknik, atau menghabiskan waktu untuk bermain pasir dipantai. Aku masih ingat ketika Aku dan Daniel berumur 5 tahun, seperti biasa keluarga kami menghabiskan liburan musim panas bersama. Dan waktu itu kami berada di Pantai.
"laquel" panggil Daniel
dengan suara cadelnya.
"apa Daniel"
"lihat, langit jadi olanye kenapa ya?"
"mataharinya kan mau tenggelam" kataku yang sedang duduk dengannya dipasir sambil melihat matahari terbenam.
"apa Daniel"
"lihat, langit jadi olanye kenapa ya?"
"mataharinya kan mau tenggelam" kataku yang sedang duduk dengannya dipasir sambil melihat matahari terbenam.
"ha tenggelam? Apa
matahalinya gak bisa belenang?"
"duh gak tau deh" pada dasarnya aku emang sejak kecil cuek.
"hiks huaaa" tangis Daniel menggelegar.
"ssst diam"
"kasihan matahalinya tenggelam, aku takut Laquel. Aku takut langit jadi gelap" katanya sambil menangis
"kamu tenang aja, mataharinya emang tenggelam tapi kan masih ada aku. Aku yang akan jaga kamu, aku yang jadi matahari buat kamu biar kamu gak takut gelap" Daniel berhenti menangis, ia mengelap air matanya.
"janji?" katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"janji" aku sambut jarinya dengan jari kelingkingku.
"duh gak tau deh" pada dasarnya aku emang sejak kecil cuek.
"hiks huaaa" tangis Daniel menggelegar.
"ssst diam"
"kasihan matahalinya tenggelam, aku takut Laquel. Aku takut langit jadi gelap" katanya sambil menangis
"kamu tenang aja, mataharinya emang tenggelam tapi kan masih ada aku. Aku yang akan jaga kamu, aku yang jadi matahari buat kamu biar kamu gak takut gelap" Daniel berhenti menangis, ia mengelap air matanya.
"janji?" katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"janji" aku sambut jarinya dengan jari kelingkingku.
Cerita ini berawal ketika Daniel
mulai jatuh cinta dengan seorang cewek populer disekolah, Chacha. Cewek
feminim, dengan rambut panjang lurusnya yang sering ia gerai, populer dan salah
satu anggota cheers. Tak salah kalau Daniel begitu menyukainya, hingga suatu
saat Daniel berani menyatakan cintanya. Ya, Chacha menerima cintanya. Itu
karena bantuanku. Aku yang merencanakan suprise dinner yang begitu mewah untuk
Chacha dan malam itu mereka jadian.
Jujur, aku tidak begitu suka dengan Chacha. Dia sering memanfaatkan Daniel. Sebenarnya, aku gak bisa membiarkan semua ini, tapi melihat Daniel bahagia bersamanya, apa boleh buat?
Jika dihitung-hitung sudah 3 bulan mereka pacaran tapi gak lepas dari kata putus nyambung. Chacha sering sembarangan mutusin Daniel, entah itu masalahnya sepele atau karena kecerobohan Daniel yang kadang telat jemput Chacha, bahkan tidak ada masalah apa-apa Daniel diputusin. Tapi endingnya mereka balikan lagi.
Dan pagi itu aku melihat Daniel murung, aku sudah tebak itu pasti gara-gara cewek itu.
"muka kusut aja, sana setrika"
"Chacha, Ra! Kemarin aku baru putus sama dia dan sekarang dia udah punya cowok lain"
"terus"
"Raquel!"
"terus apa masalahnya?"
"dia pacaran sama Romeo, aku gak terima Ra!"
"udahlah relain aja, kalau dia emang sayang sama kamu dia gak mungkin ninggalin kamu"
"sakit hati aku Ra, sakit banget rasanya" dia mengacak-acak rambutnya frustasi
Jujur, aku tidak begitu suka dengan Chacha. Dia sering memanfaatkan Daniel. Sebenarnya, aku gak bisa membiarkan semua ini, tapi melihat Daniel bahagia bersamanya, apa boleh buat?
Jika dihitung-hitung sudah 3 bulan mereka pacaran tapi gak lepas dari kata putus nyambung. Chacha sering sembarangan mutusin Daniel, entah itu masalahnya sepele atau karena kecerobohan Daniel yang kadang telat jemput Chacha, bahkan tidak ada masalah apa-apa Daniel diputusin. Tapi endingnya mereka balikan lagi.
Dan pagi itu aku melihat Daniel murung, aku sudah tebak itu pasti gara-gara cewek itu.
"muka kusut aja, sana setrika"
"Chacha, Ra! Kemarin aku baru putus sama dia dan sekarang dia udah punya cowok lain"
"terus"
"Raquel!"
"terus apa masalahnya?"
"dia pacaran sama Romeo, aku gak terima Ra!"
"udahlah relain aja, kalau dia emang sayang sama kamu dia gak mungkin ninggalin kamu"
"sakit hati aku Ra, sakit banget rasanya" dia mengacak-acak rambutnya frustasi
"udahlah, jangan
dipikirin"
Aku coba buat tenangin Daniel, sahabatku. Sampai begini dia depresi hanya gara-gara cewek matre kayak Chacha.
Aku coba buat tenangin Daniel, sahabatku. Sampai begini dia depresi hanya gara-gara cewek matre kayak Chacha.
ôôô
"Ra, Raquel"
"lah berisik banget sih"
Daniel teriak-teriak masuk kamarku dan aku sedang sibuk main video games.
"aku punya ide, kamu harus bantuin aku"
"ide apa'an?"
"aku tahu cara bales perbuatannya Chacha"
"cewek itu lagi, udahlah lupain dia"
"gak bisa Ra, aku gak bisa biarin dia bahagia sama Romeo. Jujur ya, aku masih sayang sama dia"
"cewek matre kayak dia buat apa disayangi"
"maksud kamu apa sih Ra?"
Aku masih sibuk dengan video games yang aku mainkan, ferrari.
"Ra, kamu harus jadi pacar pura-pura aku"
Aku kaget dan melotot kearahnya, mobil yang kumainkan menabrak mobil lain dan game over.
"gila"
"ayolah Ra, please ini ide yang paling bagus"
"ide yang bagus? Ini ide yang paling gila"
"Ra, kamu tega ngebiarin sahabat kamu sakit hati kayak gini?"
Daniel mohon-mohon dan mukanya dimelas-melasin.
"untungnya apa coba kalau aku jadi pacar pura-pura kamu, malu yang ada"
"gampang, kamu tenang aja semua PR kamu, aku yang kerjain dan tentunya selama kamu jadi pacar pura-puraku kamu bisa makan gratis sepuasnya dikantin aku yang bayar"
"serius?"
"iya serius, cuma pura-pura aja kok"
"bener cuma pura-pura"
"iya tenang aja, kita harus kerjasama. Janji?" katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"hmm" dengan malas aku kaitkan jari kelingkingku dengan jarinya.
"lah berisik banget sih"
Daniel teriak-teriak masuk kamarku dan aku sedang sibuk main video games.
"aku punya ide, kamu harus bantuin aku"
"ide apa'an?"
"aku tahu cara bales perbuatannya Chacha"
"cewek itu lagi, udahlah lupain dia"
"gak bisa Ra, aku gak bisa biarin dia bahagia sama Romeo. Jujur ya, aku masih sayang sama dia"
"cewek matre kayak dia buat apa disayangi"
"maksud kamu apa sih Ra?"
Aku masih sibuk dengan video games yang aku mainkan, ferrari.
"Ra, kamu harus jadi pacar pura-pura aku"
Aku kaget dan melotot kearahnya, mobil yang kumainkan menabrak mobil lain dan game over.
"gila"
"ayolah Ra, please ini ide yang paling bagus"
"ide yang bagus? Ini ide yang paling gila"
"Ra, kamu tega ngebiarin sahabat kamu sakit hati kayak gini?"
Daniel mohon-mohon dan mukanya dimelas-melasin.
"untungnya apa coba kalau aku jadi pacar pura-pura kamu, malu yang ada"
"gampang, kamu tenang aja semua PR kamu, aku yang kerjain dan tentunya selama kamu jadi pacar pura-puraku kamu bisa makan gratis sepuasnya dikantin aku yang bayar"
"serius?"
"iya serius, cuma pura-pura aja kok"
"bener cuma pura-pura"
"iya tenang aja, kita harus kerjasama. Janji?" katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"hmm" dengan malas aku kaitkan jari kelingkingku dengan jarinya.
"Ra, ayo Ra"
"Daniel, kamu apa-apa'an aku lagi main basket" si Daniel narik tangan aku.
"Daniel, kamu apa-apa'an aku lagi main basket" si Daniel narik tangan aku.
"ada Chacha sama Romeo
disana, ayo Ra"
Dengan paksa Daniel narik tangan aku dan aku terpaksa keluar dari lapangan basket, padahal aku masih pengen main basket.
Ternyata dia membawaku ke kantin dan disitu ada Chacha sama Romeo yang lagi asyik makan.
"Raquel sayang, kamu mau makan apa?" tiba-tiba Daniel berkata seperti itu, keras lagi. Mataku langsung melotot kearahnya. Dengan paksa dia menyuruhku duduk. "mbak, bakso dong dua sama es jeruk dua gak pake lama" katanya sama Mbak Tatik yang punya kantin.
"siap mas Daniel" sahut Mbak Tatik.
"gila kamu Dan"
"udah ikutin aja" bisiknya sambil melirik kearah Chacha.
Tiba-tiba Romeo dan Chacha berdiri dari kursinya dan beranjak dari kantin, aku lihat dia sesaat melirik kearahku dan Daniel. Ini memang gila.
"Dan, tuh dia udah Pergi"
"emangnya cuma dia apa yang bisa cepet dapet pacar, aku juga bisa kali" kata Daniel.
Aku berpikir, jika aku cuma dijadikan bahan permainannya Daniel. Sebenarnya aku tidak mau melakukan kebohongan ini, tapi demi sahabatku.
Semua kebohongan ini kita lakukan gak cuma sekali tapi berkali-kali. Setiap ada Chacha, akting kita dimulai dan seperti biasa Daniel memanggilku dengan sebutan sayang, itu membuatku risih.
Dengan paksa Daniel narik tangan aku dan aku terpaksa keluar dari lapangan basket, padahal aku masih pengen main basket.
Ternyata dia membawaku ke kantin dan disitu ada Chacha sama Romeo yang lagi asyik makan.
"Raquel sayang, kamu mau makan apa?" tiba-tiba Daniel berkata seperti itu, keras lagi. Mataku langsung melotot kearahnya. Dengan paksa dia menyuruhku duduk. "mbak, bakso dong dua sama es jeruk dua gak pake lama" katanya sama Mbak Tatik yang punya kantin.
"siap mas Daniel" sahut Mbak Tatik.
"gila kamu Dan"
"udah ikutin aja" bisiknya sambil melirik kearah Chacha.
Tiba-tiba Romeo dan Chacha berdiri dari kursinya dan beranjak dari kantin, aku lihat dia sesaat melirik kearahku dan Daniel. Ini memang gila.
"Dan, tuh dia udah Pergi"
"emangnya cuma dia apa yang bisa cepet dapet pacar, aku juga bisa kali" kata Daniel.
Aku berpikir, jika aku cuma dijadikan bahan permainannya Daniel. Sebenarnya aku tidak mau melakukan kebohongan ini, tapi demi sahabatku.
Semua kebohongan ini kita lakukan gak cuma sekali tapi berkali-kali. Setiap ada Chacha, akting kita dimulai dan seperti biasa Daniel memanggilku dengan sebutan sayang, itu membuatku risih.
Malam minggu, Daniel mengajakku
untuk pergi makan malam. Dia heboh banget "Ra, ayolah pake baju ini apa
susahnya sih"
Dia menyuruhku memakai dress pendek warna biru dan ada pitanya, membuatku risih.
Dia menyuruhku memakai dress pendek warna biru dan ada pitanya, membuatku risih.
"males"
"ayolah Ra, sekali aja"
"males" kataku cuek. Apa-apa'an si Daniel nyuruh aku pakai baju yang kayak gini, lihat aja aku pengen muntah.
Dia duduk ditempat tidurku, seperti berpikir.
"oke, terserah kamu mau pake baju apa, kita berangkat makan malam sekarang"
Untung Aku gak jadi pakai baju konyol itu. Akhirnya aku keluar dengan celana pendek dan baju kotak-kotak lengan panjang. Ternyata Daniel mengajakku ke restauran mewah, didalam sudah kuduga ada Chacha sama Romeo. Ketika makan hidangan, Daniel begitu gusar. Ia begitu tidak tenang
"ayolah Ra, sekali aja"
"males" kataku cuek. Apa-apa'an si Daniel nyuruh aku pakai baju yang kayak gini, lihat aja aku pengen muntah.
Dia duduk ditempat tidurku, seperti berpikir.
"oke, terserah kamu mau pake baju apa, kita berangkat makan malam sekarang"
Untung Aku gak jadi pakai baju konyol itu. Akhirnya aku keluar dengan celana pendek dan baju kotak-kotak lengan panjang. Ternyata Daniel mengajakku ke restauran mewah, didalam sudah kuduga ada Chacha sama Romeo. Ketika makan hidangan, Daniel begitu gusar. Ia begitu tidak tenang
"Dan, kok gak dimakan
sih"
"udah, habisin aja makanannya" katanya sambil melirik Chacha dan Romeo.
"hey, kalian ada disini juga" Chacha dan Romeo menghampiri meja makan kami. Malam itu Chacha begitu anggun dengan balutan dress pendek warna biru, sama dengan dress yang tadi Daniel paksa biar kupakai. Hanya motifnya saja yang berbeda.
"udah, habisin aja makanannya" katanya sambil melirik Chacha dan Romeo.
"hey, kalian ada disini juga" Chacha dan Romeo menghampiri meja makan kami. Malam itu Chacha begitu anggun dengan balutan dress pendek warna biru, sama dengan dress yang tadi Daniel paksa biar kupakai. Hanya motifnya saja yang berbeda.
"oh iya, kita lagi habisin
malam mingguan disini" kata Daniel.
"boleh gabung?"
"oh iya" Daniel begitu kikuk, begitu pula aku, rasanya kalau kayak gini kita kayak lagi double date. Sendok demi sendok aku makan soup itu, soup yang begitu mahal tapi rasanya begitu tidak enak karena suasananya seperti ini. Chacha begitu menikmati bersenda gurau dengan Romeo, sedangkan Aku dan Daniel, oh tidak usah ditanya. Daniel dan aku begitu kacau.
"by the way, sejak kapan kalian jadian?"
"uhuk!" pertanyaan Chacha sukses buat aku tersedak.
"hati-hati Ra!" Chacha lalu memberiku air putih.
Daniel tiba-tiba menghampiri kursiku "hati-hati dong sayang. Kayaknya hari ini Raquel lagi gak enak badan kita harus balik deh"
"kita juga mau pulang nih, Romeo udah malam pulang yuk"
Dan akhirnya mau gak mau kita jalan dan keluar dari restauran itu bersama-sama. Ketika menuju tempat parkir Chacha sama Romeo bercanda dan saling tertawa. Daniel menggandeng tanganku erat sekali "Ra, kamu harus banyak istirahat" katanya sok perhatian. Aku tahu itu untuk manas-manasin Chacha. Ini buruk, buruk sekali. Rasanya aku ingin jitak kepalanya Daniel.
"boleh gabung?"
"oh iya" Daniel begitu kikuk, begitu pula aku, rasanya kalau kayak gini kita kayak lagi double date. Sendok demi sendok aku makan soup itu, soup yang begitu mahal tapi rasanya begitu tidak enak karena suasananya seperti ini. Chacha begitu menikmati bersenda gurau dengan Romeo, sedangkan Aku dan Daniel, oh tidak usah ditanya. Daniel dan aku begitu kacau.
"by the way, sejak kapan kalian jadian?"
"uhuk!" pertanyaan Chacha sukses buat aku tersedak.
"hati-hati Ra!" Chacha lalu memberiku air putih.
Daniel tiba-tiba menghampiri kursiku "hati-hati dong sayang. Kayaknya hari ini Raquel lagi gak enak badan kita harus balik deh"
"kita juga mau pulang nih, Romeo udah malam pulang yuk"
Dan akhirnya mau gak mau kita jalan dan keluar dari restauran itu bersama-sama. Ketika menuju tempat parkir Chacha sama Romeo bercanda dan saling tertawa. Daniel menggandeng tanganku erat sekali "Ra, kamu harus banyak istirahat" katanya sok perhatian. Aku tahu itu untuk manas-manasin Chacha. Ini buruk, buruk sekali. Rasanya aku ingin jitak kepalanya Daniel.
"wah, kalian romantis banget
ya" kata Chacha.
"tentu" Daniel memelukku. Aku coba memberontak.
"tentu" Daniel memelukku. Aku coba memberontak.
"Daniel, kamu gila"
bisikku.
"kita emang pasangan yang romantis, iya kan Raquel sayang" dan dia menciumku dihadapan Chacha dan Romeo. Aku dorong tubuhnya, dan aku berlari dari tempat itu. Aku benar-benar malu dibuatnya.
"Raquel" Daniel memanggilku. "kamu mau kemana?" Aku tetap berjalan, berharap ada taksi atau kendaraan umum yang lewat.
"Ra, kamu mau kemana?" dan untungnya ada, aku langsung masuk kedalam taksi.
"kita emang pasangan yang romantis, iya kan Raquel sayang" dan dia menciumku dihadapan Chacha dan Romeo. Aku dorong tubuhnya, dan aku berlari dari tempat itu. Aku benar-benar malu dibuatnya.
"Raquel" Daniel memanggilku. "kamu mau kemana?" Aku tetap berjalan, berharap ada taksi atau kendaraan umum yang lewat.
"Ra, kamu mau kemana?" dan untungnya ada, aku langsung masuk kedalam taksi.
ôôô
Sejak kejadian itu Daniel tidak
lagi kerumahku dan menggangguku seperti biasanya. Bahkan disekolah kami tak
saling menyapa. Aku lelah dengan semua kebohongan yang dibuatnya, aku merasa
tersiksa dan dipermalukan. Memang dia sahabatku dan aku harus menolongnya tapi
aku gak bisa nerusin semua kebohongan ini. Sekarang, terserah jika dia tidak
mau bersahabat denganku lagi.
Aku jadi ingat ketika dulu Aku dan Daniel masih kecil, sejak kecil kami memang sudah berbeda. Daniel begitu cengeng, dia gampang menangis tidak dengan aku. Dia begitu penakut akan apapun, apalagi dengan suasana baru yang belum dikenalnya. Aku ingat ketika itu pertama kali kita masuk TK. Dia begitu takut dan tidak mau membaur dengan teman-teman yang lain. "jangan tinggalin Daniel ma" rengeknya sambil memeluk mamanya.
"Daniel kamu harus sekolah" mamanya mencoba membujuk Daniel.
Aku jadi ingat ketika dulu Aku dan Daniel masih kecil, sejak kecil kami memang sudah berbeda. Daniel begitu cengeng, dia gampang menangis tidak dengan aku. Dia begitu penakut akan apapun, apalagi dengan suasana baru yang belum dikenalnya. Aku ingat ketika itu pertama kali kita masuk TK. Dia begitu takut dan tidak mau membaur dengan teman-teman yang lain. "jangan tinggalin Daniel ma" rengeknya sambil memeluk mamanya.
"Daniel kamu harus sekolah" mamanya mencoba membujuk Daniel.
Aku menghampirinya "Daniel
duduk sama aku yuk"
Aku gandeng tanggannya, "kamu gak usah takut, aku selalu nemenin kamu kok"
"janji? Ya" katanya menyodorkan jari kelingkingnya.
"iya aku janji" dengan senang hati aku kaitkan jari kelingkingku ke kelingkingnya.
Semuanya berlalu, masa-masa itu sudah berlalu. Kini Aku dan Daniel sudah tidak seperti dulu lagi. Kita sudah beranjak dewasa. Dan sepertinya dia tidak membutuhkanku lagi untuk menjaganya. Yah, menjaganya ketika hari gelap dan dia ketakutan, menemaninya ketika ia takut orang-orang yang tidak ia kenal disekelilingnya.
Aku gandeng tanggannya, "kamu gak usah takut, aku selalu nemenin kamu kok"
"janji? Ya" katanya menyodorkan jari kelingkingnya.
"iya aku janji" dengan senang hati aku kaitkan jari kelingkingku ke kelingkingnya.
Semuanya berlalu, masa-masa itu sudah berlalu. Kini Aku dan Daniel sudah tidak seperti dulu lagi. Kita sudah beranjak dewasa. Dan sepertinya dia tidak membutuhkanku lagi untuk menjaganya. Yah, menjaganya ketika hari gelap dan dia ketakutan, menemaninya ketika ia takut orang-orang yang tidak ia kenal disekelilingnya.
Summer, seperti biasa keluargaku
sibuk menentukan tempat untuk liburan, tapi kali ini aku tidak bersemangat
untuk membicarakannya. "Raquel, kamu maunya nanti liburan kemana"
"dirumah" jawabku singkat. Mama sama Papa begitu bingung dengan jawabanku.
"dirumah" jawabku singkat. Mama sama Papa begitu bingung dengan jawabanku.
Musim panas kali ini memang
berbeda, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya Aku dan Daniel
bersemangat membicarakan ini, kita yang selalu menentukan liburannya dimana.
Aku selalu memikirkannya, aku merindukannya.
Hingga akhirnya liburan itu tiba, keluargaku dan keluarga Daniel memutuskan untuk menghabiskan musim panas bersama di Bali.
"Raquel, bangun nak" mama membangunkanku.
"hei, sudah pagi Raquel, kita harus cepat-cepat ke bandara hari ini kita kan mau ke Bali" kata papa.
"Raquel, badan kamu panas sekali" Ucap mama tiba-tiba. Tubuhku begitu panas, kepalaku terasa pusing.
"pa, bagaimana Raquel sedang sakit" papa mencoba memeriksa tubuhku, menyentuh keningku dengan telapat tangannya.
"terpaksa kita cancel liburan ke Bali"
papa menelpon keluarga Daniel dan memberi tahu bahwa aku sakit. Mungkin tahun ini tidak akan ada yang namanya liburan musim panas.
Hingga akhirnya liburan itu tiba, keluargaku dan keluarga Daniel memutuskan untuk menghabiskan musim panas bersama di Bali.
"Raquel, bangun nak" mama membangunkanku.
"hei, sudah pagi Raquel, kita harus cepat-cepat ke bandara hari ini kita kan mau ke Bali" kata papa.
"Raquel, badan kamu panas sekali" Ucap mama tiba-tiba. Tubuhku begitu panas, kepalaku terasa pusing.
"pa, bagaimana Raquel sedang sakit" papa mencoba memeriksa tubuhku, menyentuh keningku dengan telapat tangannya.
"terpaksa kita cancel liburan ke Bali"
papa menelpon keluarga Daniel dan memberi tahu bahwa aku sakit. Mungkin tahun ini tidak akan ada yang namanya liburan musim panas.
ôôô
Hari-hari berlalu,
sudah 1 minggu aku sakit dan dirawat dirumah sakit. Aku bosan harus meminum obat yang pahit ini.
"Raquel, minum obatnya, apa kamu gak mau sembuh?" kata mama.
Aku memikirkan Daniel, aku sakit tapi dia sama sekali tidak menjengukku. Segitu marahkah dia denganku hanya gara-gara Chacha? dia lebih memilih cewek itu daripada sahabatnya sendiri. Jadi, dia benar-benar sudah tidak menganggapku lagi sebagai sahabatnya. Aku benci Daniel, aku benar-benar membencinya.
"Raquel, minum obatnya sayang! kalau begini terus kapan kamu bisa sembuh"
Aku terdiam, rasanya aku ingin menemui Daniel dan melempar kepalanya dengan bola basket.
"Raquel, sudah 2 hari kamu gak minum obat jangan buat mama sedih sayang"
"Aku benci Daniel" kataku.
"Aku benci dia ma, aku sakit berhari-hari tapi dia sama sekali gak jenguk aku" mama terdiam dan menatapku.
"apa dia udah gak nganggep aku sebagai sahabatnya"
"Raquel, jangan bicara seperti itu" mama mengelus rambutku. "Daniel menyayangimu, dia sangat menyayangimu tapi, mungkin takdir berkehendak lain"
"maksud mama?"
"sebaiknya mama harus kasih tau semua ini, sebenarnya Papa dan keluarganya Daniel tidak memperbolehkan Mama untuk kasih tahu kamu sebelum kamu sembuh tapi kamu harus tahu sayang"
"tahu apa ma?"
"Daniel, dia sudah tenang disurga"
"konyol!"
"Raquel, kamu yang sabar ya sayang. Daniel telah pergi meninggalkan kita"
"gak lucu, mana dia? mau aku pukul kepalanya"
"waktu dia dan keluarganya berada di bandara menunggu kita, papa kamu mengabarinya kalau kamu sakit dia sangat khawatir sama kamu, dia langsung meninggalkan bandara dan membatalkan liburan musim panas ke Bali waktu itu. Daniel ingin menemuimu tapi mobil yang dikendarainya menabrak truk"
Hari-hari berlalu,
sudah 1 minggu aku sakit dan dirawat dirumah sakit. Aku bosan harus meminum obat yang pahit ini.
"Raquel, minum obatnya, apa kamu gak mau sembuh?" kata mama.
Aku memikirkan Daniel, aku sakit tapi dia sama sekali tidak menjengukku. Segitu marahkah dia denganku hanya gara-gara Chacha? dia lebih memilih cewek itu daripada sahabatnya sendiri. Jadi, dia benar-benar sudah tidak menganggapku lagi sebagai sahabatnya. Aku benci Daniel, aku benar-benar membencinya.
"Raquel, minum obatnya sayang! kalau begini terus kapan kamu bisa sembuh"
Aku terdiam, rasanya aku ingin menemui Daniel dan melempar kepalanya dengan bola basket.
"Raquel, sudah 2 hari kamu gak minum obat jangan buat mama sedih sayang"
"Aku benci Daniel" kataku.
"Aku benci dia ma, aku sakit berhari-hari tapi dia sama sekali gak jenguk aku" mama terdiam dan menatapku.
"apa dia udah gak nganggep aku sebagai sahabatnya"
"Raquel, jangan bicara seperti itu" mama mengelus rambutku. "Daniel menyayangimu, dia sangat menyayangimu tapi, mungkin takdir berkehendak lain"
"maksud mama?"
"sebaiknya mama harus kasih tau semua ini, sebenarnya Papa dan keluarganya Daniel tidak memperbolehkan Mama untuk kasih tahu kamu sebelum kamu sembuh tapi kamu harus tahu sayang"
"tahu apa ma?"
"Daniel, dia sudah tenang disurga"
"konyol!"
"Raquel, kamu yang sabar ya sayang. Daniel telah pergi meninggalkan kita"
"gak lucu, mana dia? mau aku pukul kepalanya"
"waktu dia dan keluarganya berada di bandara menunggu kita, papa kamu mengabarinya kalau kamu sakit dia sangat khawatir sama kamu, dia langsung meninggalkan bandara dan membatalkan liburan musim panas ke Bali waktu itu. Daniel ingin menemuimu tapi mobil yang dikendarainya menabrak truk"
"gak, gak mungkin! Aku gak
percaya" Air mata itu keluar. Ini adalah pertamanya aku menangis untuknya.
"DANIEL AKU BENCI KAMU!!!" Aku berteriak histeris, melempar selimut dan bantal.
"tenang Raquel!!"
"AKU BENCI KAMU DANIEL!!!" Aku cabut selang infusku dan coba turun dari tempat tidur, darah keluar begitu derasnya dari lenganku. Aku coba keluar dari kamar, tapi terasa pusing, aku tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan Raquel!!"
"Aku coba buka mataku, aku lihat kesekeliling. Aku masih dirumah sakit, lenganku yang berdarah kini sudah bersih, selang infus itu pun sudah menempel rapi dilenganku.
"sudah papa bilang jangan kasih tahu Raquel tentang hal ini sebelum ia sembuh"
"tapi pa, mama kasihan sama dia. Raquel selalu memikirkan Daniel dia sampai tidak mau minum obat"
"mama" panggiku lemah. Aku lihat mereka sedang berdebat.
"Raquel, kamu sudah sadar sayang" mama menangis. "jangan lakukan hal seperti tadi, mama takut Raquel"
"DANIEL AKU BENCI KAMU!!!" Aku berteriak histeris, melempar selimut dan bantal.
"tenang Raquel!!"
"AKU BENCI KAMU DANIEL!!!" Aku cabut selang infusku dan coba turun dari tempat tidur, darah keluar begitu derasnya dari lenganku. Aku coba keluar dari kamar, tapi terasa pusing, aku tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan Raquel!!"
"Aku coba buka mataku, aku lihat kesekeliling. Aku masih dirumah sakit, lenganku yang berdarah kini sudah bersih, selang infus itu pun sudah menempel rapi dilenganku.
"sudah papa bilang jangan kasih tahu Raquel tentang hal ini sebelum ia sembuh"
"tapi pa, mama kasihan sama dia. Raquel selalu memikirkan Daniel dia sampai tidak mau minum obat"
"mama" panggiku lemah. Aku lihat mereka sedang berdebat.
"Raquel, kamu sudah sadar sayang" mama menangis. "jangan lakukan hal seperti tadi, mama takut Raquel"
ôôô
"RAQUEL!!!" bentak mama.
"mama gak mau lihat kamu buang-buang obat lagi"
"Raquel, lihat mama!" Aku terdiam dan memandang kearah jendela.
"sampai kapan kamu begini?"
"sampai Daniel jenguk aku"
Tiba-tiba mama menangis.
"Raquel, maafkan mama saying, gak seharusnya mama memberimu kabar buruk ini ketika kondisimu seperti ini"
mama menangis, suaranya sampai memenuhi kamar rumah sakit ini.
"mama mohon jangan begini sayang, kasihan Daniel disana dia pasti sedih melihatmu seperti ini. Sudah 3 minggu kamu sakit dan kamu tidak mau minum obat. Daniel pasti sedih melihatmu seperti ini"
Air mata itu jatuh lagi, ya aku menangis. Aku jadi cengeng sekarang.
"RAQUEL!!!" bentak mama.
"mama gak mau lihat kamu buang-buang obat lagi"
"Raquel, lihat mama!" Aku terdiam dan memandang kearah jendela.
"sampai kapan kamu begini?"
"sampai Daniel jenguk aku"
Tiba-tiba mama menangis.
"Raquel, maafkan mama saying, gak seharusnya mama memberimu kabar buruk ini ketika kondisimu seperti ini"
mama menangis, suaranya sampai memenuhi kamar rumah sakit ini.
"mama mohon jangan begini sayang, kasihan Daniel disana dia pasti sedih melihatmu seperti ini. Sudah 3 minggu kamu sakit dan kamu tidak mau minum obat. Daniel pasti sedih melihatmu seperti ini"
Air mata itu jatuh lagi, ya aku menangis. Aku jadi cengeng sekarang.
Aku jadi ingat masa-masa dulu
ketika Aku dan Daniel masih bersama.
Waktu itu Aku dan Daniel menanam dua biji bunga matahari. Beberapa minggu kemudian biji itu tumbuh, walaupun belum begitu tinggi.
"Laquel" panggilnya. "lihat bunga ini, mati"
"iya karena aku tidak menyiraminya" kataku yang melihat bunga matahariku mati.
"kamu sih, lihat bungaku tumbuh bagus kan" katanya.
"iya iya bunga kamu yang bagus" Bunga matahari Daniel tumbuh subur sedangkan punyaku sudah mati.
"yahh"
"kamu ngapain jadi sedih, yang mati kan bunga aku"
"iya, tapi kan bungaku jadi sendilian, kasihan"
"itu kan cuma bunga" kataku.
"Laquel, aku gak mau jadi bunga ini" katanya sambil menyentuh bunga matahari miliknya.
"kenapa?"
"aku takut sendilian, apalagi kalau kamu ninggalin aku"
"percaya sama aku, aku gak akan ninggalin kamu sendiri. Aku janji"
kataku sambil menyodorkan jari kelingkingku. Dia tersenyum dan menyambut jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya.
"Aku gak akan ninggalin kamu Daniel" kataku.
"Aku butuh kamu"
Waktu itu Aku dan Daniel menanam dua biji bunga matahari. Beberapa minggu kemudian biji itu tumbuh, walaupun belum begitu tinggi.
"Laquel" panggilnya. "lihat bunga ini, mati"
"iya karena aku tidak menyiraminya" kataku yang melihat bunga matahariku mati.
"kamu sih, lihat bungaku tumbuh bagus kan" katanya.
"iya iya bunga kamu yang bagus" Bunga matahari Daniel tumbuh subur sedangkan punyaku sudah mati.
"yahh"
"kamu ngapain jadi sedih, yang mati kan bunga aku"
"iya, tapi kan bungaku jadi sendilian, kasihan"
"itu kan cuma bunga" kataku.
"Laquel, aku gak mau jadi bunga ini" katanya sambil menyentuh bunga matahari miliknya.
"kenapa?"
"aku takut sendilian, apalagi kalau kamu ninggalin aku"
"percaya sama aku, aku gak akan ninggalin kamu sendiri. Aku janji"
kataku sambil menyodorkan jari kelingkingku. Dia tersenyum dan menyambut jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya.
"Aku gak akan ninggalin kamu Daniel" kataku.
"Aku butuh kamu"
ôôô
Aku memuntahkan obatku lagi.
"mama sudah gak tahu harus berbuat apa. Sampai kapan kamu begini Raquel?"
"Raquel, jangan seperti ini sayang. Jangan buat mama sama papa sedih"
"aku gak butuh obat, aku butuh Daniel"
mama menangis lagi, sudah berapa kali aku membuatnya menangis.
"baik kalau itu mau kamu" ucap papa.
Dan hari ini papa sama mama membawaku menemui Daniel dengan selang infus yang masih dilenganku. Sebenarnya dokter tidak memperbolehkanku karena kondisiku yang masih lemah tapi papa memaksa membawaku keluar dari rumah sakit dan janji hanya sebentar saja.
Ketika sampai di pemakaman aku tak percaya kalau makam yang di hadapanku bertuliskan nama sahabatku. Sahabat yang selalu menemaniku sejak kecil dan air mataku jatuh lagi.
"pa, ma tinggalin Raquel sendiri"
"tapi Raquel"
"aku mau sendiri disini, nemenin Daniel"
"papa sama mama nunggu kamu di mobil"
"Daniel" panggilku. "Aku kangen kamu"
Rasanya aku sudah tidak bisa bicara apa-apa, padahal begitu banyak yang ingin aku bicarakan. Hanya tangis, ya aku cuma bisa menangis.
"Daniel, aku minta maaf, maafin aku Daniel. Lihat ini"
Aku kaitkan jari kelingking kananku dengan jari kelingking kiriku. "Aku janji gak akan ninggalin kamu"
Aku memuntahkan obatku lagi.
"mama sudah gak tahu harus berbuat apa. Sampai kapan kamu begini Raquel?"
"Raquel, jangan seperti ini sayang. Jangan buat mama sama papa sedih"
"aku gak butuh obat, aku butuh Daniel"
mama menangis lagi, sudah berapa kali aku membuatnya menangis.
"baik kalau itu mau kamu" ucap papa.
Dan hari ini papa sama mama membawaku menemui Daniel dengan selang infus yang masih dilenganku. Sebenarnya dokter tidak memperbolehkanku karena kondisiku yang masih lemah tapi papa memaksa membawaku keluar dari rumah sakit dan janji hanya sebentar saja.
Ketika sampai di pemakaman aku tak percaya kalau makam yang di hadapanku bertuliskan nama sahabatku. Sahabat yang selalu menemaniku sejak kecil dan air mataku jatuh lagi.
"pa, ma tinggalin Raquel sendiri"
"tapi Raquel"
"aku mau sendiri disini, nemenin Daniel"
"papa sama mama nunggu kamu di mobil"
"Daniel" panggilku. "Aku kangen kamu"
Rasanya aku sudah tidak bisa bicara apa-apa, padahal begitu banyak yang ingin aku bicarakan. Hanya tangis, ya aku cuma bisa menangis.
"Daniel, aku minta maaf, maafin aku Daniel. Lihat ini"
Aku kaitkan jari kelingking kananku dengan jari kelingking kiriku. "Aku janji gak akan ninggalin kamu"
Aku senderkan kepalaku ditanah
yang penuh dengan bunga mawar itu. Aku menangis sepuas-puasnya hingga akhirnya
aku tertidur.


"Ra, Raquel bangun nak" Aku terbangun dan
lihat kesekeliling. Ternyata aku masih di pemakaman.
"sudah waktunya pulang Raquel" kata mama.
"tapi ma, kasihan Daniel dia sendirian disana. Dia pasti ketakutan. Dia takut dengan suasana yang baru"
Mama tersenyum dan mengusap pipiku yang kotor dengan tanah.
"Daniel memang tidak ada disini tapi dia ada disini" Mama menaruh telapak tangannya di dadaku.
"dia ada di hati kamu sayang, dia tidak akan pernah merasa kesepian selama dia ada disini, di hati kamu. Kamu harus jaga dia baik-baik dan jangan lupa untuk selalu mendoakannya"
Aku tersenyum mendengar itu dan mama langsung memelukku.
ôôô
Semakin hari keadaanku semakin membaik. Aku rajin minum obat dan sampai akhirnya Aku diizinkan untuk pulang kerumah, tentunya Aku bisa kesekolah lagi.
Aku jadi kangen saat-saat Daniel membangunkanku dengan teriak-teriakan dan suara falsnya. Aku kangen saat-saat dia menggangguku.
"Ra, Aku turut berduka cita atas kepergian Daniel dan aku seneng kamu bisa berangkat sekolah lagi"
"terimakasih" jawabku.
"maafin aku Ra"
"untuk apa?"
"untuk semua kelakuan aku ke Daniel dan kamu. Selama ini aku hanya memandang cowok dari materi, tapi sekarang aku sadar itu adalah perbuatan yang buruk"
"bagus" jawabku singkat.
"ini semua berkat kamu dan Daniel"
"lucu" Aku sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan ini.
"aku sudah tahu semuanya, Ra tentang kamu dan Daniel yang pura-pura pacaran hanya karena ingin membuatku cemburu dan ketika kalian marahan. Dia menemuiku dan menceritakan semuanya disaat itu juga dia bilang tidak menyukaiku lagi dan menyesal melakukan ini semua hanya untuk aku, cewek matre. Dia lebih menyukaimu"
"sudah waktunya pulang Raquel" kata mama.
"tapi ma, kasihan Daniel dia sendirian disana. Dia pasti ketakutan. Dia takut dengan suasana yang baru"
Mama tersenyum dan mengusap pipiku yang kotor dengan tanah.
"Daniel memang tidak ada disini tapi dia ada disini" Mama menaruh telapak tangannya di dadaku.
"dia ada di hati kamu sayang, dia tidak akan pernah merasa kesepian selama dia ada disini, di hati kamu. Kamu harus jaga dia baik-baik dan jangan lupa untuk selalu mendoakannya"
Aku tersenyum mendengar itu dan mama langsung memelukku.
ôôô
Semakin hari keadaanku semakin membaik. Aku rajin minum obat dan sampai akhirnya Aku diizinkan untuk pulang kerumah, tentunya Aku bisa kesekolah lagi.
Aku jadi kangen saat-saat Daniel membangunkanku dengan teriak-teriakan dan suara falsnya. Aku kangen saat-saat dia menggangguku.
"Ra, Aku turut berduka cita atas kepergian Daniel dan aku seneng kamu bisa berangkat sekolah lagi"
"terimakasih" jawabku.
"maafin aku Ra"
"untuk apa?"
"untuk semua kelakuan aku ke Daniel dan kamu. Selama ini aku hanya memandang cowok dari materi, tapi sekarang aku sadar itu adalah perbuatan yang buruk"
"bagus" jawabku singkat.
"ini semua berkat kamu dan Daniel"
"lucu" Aku sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan ini.
"aku sudah tahu semuanya, Ra tentang kamu dan Daniel yang pura-pura pacaran hanya karena ingin membuatku cemburu dan ketika kalian marahan. Dia menemuiku dan menceritakan semuanya disaat itu juga dia bilang tidak menyukaiku lagi dan menyesal melakukan ini semua hanya untuk aku, cewek matre. Dia lebih menyukaimu"
“maksud kamu?”
"iya, dia bilang dia
menyukaimu. Dia ketakutan ketika kamu marah. Dia begitu khawatir dan ingin
menemuimu tapi gak berani. Daniel sayang sama kamu Ra"
Air mata itu keluar lagi, Aku gak bisa menahannya dan Chacha memelukku.
Setelah pulang sekolah Aku pergi kemakamnya Daniel dan aku membawa setangkai bunga matahari.
"Daniel, aku sayang kamu"
Air mata itu keluar lagi, Aku gak bisa menahannya dan Chacha memelukku.
Setelah pulang sekolah Aku pergi kemakamnya Daniel dan aku membawa setangkai bunga matahari.
"Daniel, aku sayang kamu"
Created by Rina
Alumni 2014/AP
Follow Me : @Rinzzle666
Pin: 53A1A472
Me and Anggra, kenangan di SMK ga akan bisa kita lupain kita masih bersahabat meski lulus dan terpisah oleh jarak ...
Langganan:
Postingan (Atom)