Rabu, 26 Maret 2014

That Should Be Me

Hellloooooooooooooo ini JD nya rada gaje tapi enak dibaca dan dinimati kok,,,, hehehehehe

Follow ya @shawty_666





jantung Eliza berdegup kencang melihat kekasihnya Greyson berkali-kali mengeluarkan darah dari mulutnya.
Greyson mengidap penyakit parah yaitu TBC. Namun Penyakitnya dapat sembuh jika ia dioperasi tapi biasa operasi tidaklah murah ada 100 euro. Harga yang setimpal untuk kesembuhan kekasihnya.
Eliza duduk disamping kekasihnya, mengelus punggungnya yang sedari tadi batuk tiada henti ia memandang wajah kekasihnya yang pucat.
"El-liza"panggil greyson dengan terbata-bata.
"iya grey, ada apa?"tanya Eliza khawatir dia mengambil tissue dan mengusap darah itu dari mulut greyson
perlahan air mata eliza keluar dan membasahi wajah cantiknya. Matanya memerah menatap Greyson dan membersihkan sisa-sisa darah itu
"maaa-aaf"sepatah kata itu yang terlontar dari mulut greyson, itu membuat eliza semakin tak berhenti untuk menangis
"buat apa kau berkata seperti itu Grey""lebih baik"kata Grey terputus, melepaskan tangan Eliza yang masih membersihkan sisa darah dibibirnya.
"Sudah 6 tahun kita pacaran, disaat kita akan menikah dokter memvonisku mempunyai penyakit yang mengerikan ini. Lebih baik ..."
Tubuhnya bergetar
"putus"

Seakan pedang menusuk tubuh Eliza ketika Grey meminta putus
Selama ini Eliza berusaha untuk menjaga & merawat hubungan mereka namun, karena penyakit sialan ini Grey menyerah seakan tiada harapan untuk hidup untuknya.
"Hentikan ucapanmu Grey penyakit ini bisa sembuh" Jerit Eliza
"aku tau tapi dengan biaya sebanyak itu? lebih baik aku mati saja toh itu semua akan sia-sia

kau pasti bisa sembuh, bagaimanapun caranya kau harus sembuh. Kalau perlu akan kujual tubuhku"Ucap Eliza meninggi & meninggalkan kekasihnya yang menatapnya sedih

"jangan lakukan itu Eliza"kini suara itu terdengan melemah. Grey tak ingin menangis tapi kali ini ia tak sanggup untuk menahan air mata itu jatuh
SKIP

Suara Sepatu eliza terdengar keras sekali ketika berjalan dirumah sakit.
Didalam hatinya ia merasa kesal terhadap Grey yang sudah menyerah sebelum bertanding. Ia mencoba untuk menahan air matanya & melupakan ucapan Grey yang bodoh
Ia tak mau seluruh orang yang ada dirumah sakit menatapnya curiga, ia mempercepat langkah kakinya tangan kanannya kini menutup mulutnya dan terus mempercepat langkah kakinya untuk cepat keluar dari rumah sakit.
Sudah banyak yang eliza lakukan untuk kesembuhan Grey.
Mulai dari bekerja Pagi Siang & malam juga bekerja nonstop. Namun tetap saja 100 juta euro bukanlah hal yang sedikit.
Jordan temannya juga berusaha untuk membantu mengumpulkan uang Sumbangan untuk Grey yang mengidap penyakit TBC.
Eliza berjalan dengan pandangan kosong sudah beberapa kali ia menabrak orang yang berlalu lalang namun ia tak peduli. Hati & pikirannya terlalu sakit

ia terus berjalan bagaikan mayat hidup (zombie)
Hingga ia menabrak sesuatu. Toko televisi sedang ada siaran berita tentang artis muda yang terkenal & kaya raya diL.A
Eliza menatap kelayar kaca itu.
"Andai saja aku kaya raya"pikirnya dalam hati sambil melihat foto-foto orang kaya itu ditivi
Seorang presenter berita itu berbicara
"Justin Drew Bieber, Hebat bukan pria muda ini adalah artis terkaya, suaranya bagus dan banyak wanita tertarik padanya apalagi kebaikannya yang selalu menyumbangkan kekayaannya untuk orang yang membutuhkan sungguh luar biasa"
Eliza langsung memikirkan pria itu "baik sekali sudah tampan, kaya dan pintar" bahkan menjadikan Justin sebagai idolanya yang sangat ia kagumi.
Eliza berharap dapat menemuinya, mungkin itu hanya sebuah harapan, tak mungkin justin mau menemui gadis rendah ini.
Eliza langsung memikirkan pria itu "baik sekali sudah tampan, kaya dan pintar" bahkan menjadikan Justin sebagai idolanya yang sangat ia kagumi.
Eliza berharap dapat menemuinya, mungkin itu hanya sebuah harapan, tak mungkin justin mau menemui gadis rendah ini.
Eliza lalu berfikir mungkin kalau ia bertemu dengan justin dan menceritakan kisahnya dengan Grey mungkin justin akan luluh dan mau membantunya.
Eliza tau dimana pria itu tinggal dan berharap bahwa justin adalah penyelamatnya
Ia melangkahkan kakinya lebih tepatnya ia berlari menuju rumah bieber. Cuaca DiL.A sedang buruk, Pukul 3 sore seakan pukul 8 malam. Saking mendungnya.
Eliza sampai disebuah perumahan elit
Perumahan yang hanya ditinggali oleh orang-orang kaya.
Eliza berkali-kali berfikir ini adalah sebuah ide yang buruk.
Dengan ragu ia bertanya kepda penjaga yang ada didepan portal.Penjaga itu berbadan gemuk bahkan kancing-kancing yang ada dibajunya tak sanggup tuk menahan lemak-lemak yang ada ditubuhnya.
Ditangannya terdapat sebuah majalah dan tangan yang satunya sibuk mengambil donat dengan selai coklat dan dimakannya dengan rakus.
"permisi" ucap Eliza lembut. Penjaga itu menoleh menatap eliza dengan tatapan aneh.
Dengan nada separuh menghina dan mengejek ia bertanya"mau cari siapa
"Maaf aku hanya ingin tahu dimana rumah Justin Drew Bieber"
"ya tentu saja saya tau, kau liat rumah yang besar dan mewah itu"tanganya sambil menunjuk rumah yang besar & mewah
"ya"
"itulah rumahnya. nomor satu"
"terimakasih"kata Eliza senang. Eliza menuju rumah yang bertulis nomor satu dengan tinta keemasan. Ia memperhatikan rumah yang didesign klasik & mewah menjadi satu. Kagum,itu yang dirasakan Eliza

Dilihat dari rumahnya menandakan bahwa pria ini mempunyai selera seni yang bagus. Ia memencet bel rumah itu dengan hati berdebar-debar. Sebuah kotak kecil berwarna putih diatas bel itu mengeluarkan suara
"maaf, kami tidak menerima sumbangan"
"maaf saya tak meminta sumbangan saya ingin bertemu dengan Justin Drew Bieber"

"apa anda sudah membuat janji"kata mesin itu

"belum namun kuharap ia mau menemuiku"


Eliza POV
Bodoh berkata apa aku, mau menemuiku? emangnya siapa diriku sehingga justin mau menemuiku.
"Tuan Bieber tak ada dirumah,Silahkan pergi"

"tak apa aku akan menunggunya"kata eliza dan mesin itu tidak mengeluarkan suara lagi.
Hampir 30menit dia berdiri didepan pagar pembatas bahkan mesin itu mengeluarkan suara lagi untuk menyuruhnya pergi tapi Eliza tidak mau pergi sebelum bertemu justin.
Hujan deras & petir malam itu membuat suasana menjadi dingin Eliza mulai cemas dengan penantiannya.
Ia duduk dan merapatkan jacketnya yang basah, dan menekuk kakinya yang dingin.Ia terus berharap hujan berhenti dan justin mau menemuinya. Namun dugaannya salah hampir 2jam ia diguyur hujan.
Tubuhnya kini terasa panas,menandakan bahwa ia sakit.Tubuhnya menggigil akibat hujan itu.Ia hampir putus asa bibirnya yang merah kini menjadi putih pucat. Mata hazelnya mulai sayu. Didalam kekhawatirannya ia terus berharap Justin mau menemuinya.
Tiba-tiba pagar besar itu terbuka.Seseorang mengenakan payung menampakan diri. Senyuman tipis terukir diwajahnya.
"Masuklah Tuan Justin ingin menemuimu"katanya dan memayungi tubuh Eliza.

Eliza tersenyum, ketika ia ingin berdiri tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh pingsan.
SKIP

Eliza membuka matanya, ia mencium harum bunga teratai ia tersadar sekarang, dan menatap ruangan yang luas hanya ada dia dan kasur yang besar.
Disebelahnya ada makanan yang enak-enak, melihat itu Eliza buru-bur memakannya
Namun aneh,pakaian yang semalam dikenakannya sudah tidak melekat ditubuhnya. Kini ia mengenakan gaun berwarna merah selutut dengan belahan didadanya.Ia terkejut melihat dirinya dan wajahnya pun sudah dipoles dengan make up.
Eliza berjalan bingung melihat dirinya.
Sebuah suara pintu terbuka.
"perkenalkan nama saya Kenny Hamilton,Saya kepal pelayan disini. Seperti yang anda harapkan Tuan Justin mau menemui anda izinkan saya menunjukan jalan"katanya sopan
"Ba-baiklah"jawab Eliza ragu & mengiktui pria itu.
Eliza berjalan, ia memakai sepatu hak tinggi berwarna emas yang dilapisi berlian. Jelas bahwa sepatu ini bukan miliknya.
Kenny mengetuk sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati.
"masuk" terdenga suara didalam suaranya sangat maskulin.
Kenny membuka pintu & menganggukan kepala,ia menyuruh masuk Eliza, Eliza sedikit ragu.
Ia berjalan gugup keruangan kerja yang luas dan besar terdapat barang-barang mewah,dan lukisan yang mahal. Disana ada seorang pria, rambutnya acak-acakan meghadap jendela.
Kenny membuka pintu & menganggukan kepala,ia menyuruh masuk Eliza, Eliza sedikit ragu.
Ia berjalan gugup keruangan kerja yang luas dan besar terdapat barang-barang mewah,dan lukisan yang mahal. Disana ada seorang pria, rambutnya acak-acakan meghadap jendela.
"Apa yang dapat kubantu melihat pengorbananmu yang menungguku terus bertahan diguyur hujan, pasti sesuatu yang penting" suara berat itu semakin membuat Eliza gugup.
"Saya ingin meminjam uang"kata Eliza ragu
Satu alis justin terangkat dia kaget mendengar Eliza bicara itu
"kalau anda berkenan saya akan bercerita dan membuat anda berfikir ulang mau meminjamkan saya uang apa tidak"
Justin mengangguk menandakan setuju. Eliza disuruh duduk dikursi yang berada tepat dihadapannya.
Mata justin dari tadi memperhatikan gadis itu seakan menatap sesuatu yang menarik untuk diliat.
Eliza menceritakn semua kisahnya, tentang pernikahannya yang batal dengan kekasihnya, wajah justin tetap sama dingin dan mempesona, terlihat dari wajahnya ia memiliki ketertarikan terhadap cerita Eliza.
"jadi kau mau meminjam 100juta euro"kata justin dengan suara dan wajah yang data
Eliza mengangguk, Justin kembali menghadap kejendela.
"hmm 100juta euro, bagaimana kamu bisa mengembalikannya jika aku meminjamimu uang"
Eliza diam mendengar ucapan justin, ia meremas tangannya. Suaranya bergetar "A-aku mau menjadi pelayan anda tanpa digaji"
"sampai kamu mati uang 100juta juga tidak akan lunas"
Eliza masih terdiam, ia berfikir, berfikir terus berfikir keras.
Sementara justin menunggu jawaban Eliza.
"Tu-Tubuhku, Tubuhku adalah milikmu"






     


"Tu-Tubuhku, Tubuhku adalah milikmu"ucap Eliza
Ucapan terakhir Eliza membuat Justin menoleh & mendekatinya.
Seringai muncul diwajahnya Ia tersenyum dan menyentuh pipi Eliza.
"kenapa kamu berfikir aku mau menyentuh tubuhmu bahkan tubuh sepertimu sudah banyak kudapatkan dari gadis manapun" ucap justin menghina
Eliza terdiam tak dapat bicara apapun.
Tubuhnya? jika ia memberikan tubuhnya sama saja ia mengkhianati kekasihnya.Namun lebih baik begitu dari pada eliza harus melihat Grey beristirahat didalam peti mati.
"kenapa kau tak bisa jawab?"kata Justin sambil menuangkan wine digelasnya.
"minum ini"seru Justin sambil menyerahkan gelas winenya.Secara perlahan Eliza meminumnya.Minuman yang nikmat yang belum pernah ia minum bahkan Eliza meminumnya dengan rakus sehingga menyebabkan beberapa tetes wine meluncur keluar dari bibirnya yang dipoles lipstik merah.
Justin Menatap tetesan wine itu yang keluar dari bibir eliza lalu turun didagunya kemudian meluncur dileher putih jenjang Eliza. Ia menjilat bibir bawahnya seakan berkata, menarik.
Eliza menyudahi minumnya dan mengelam dagunya.Ia dapat merasakan tubuhnya memanas sehabis minum wine.
Tangan yang dipenuhi tatto burung hantu, ikan dll itu mengulurkan tangannya meminta gelasnya kembali.
"Menarik.Akan kuberikan uang 100juta euro untuk kekasihmu..."kata-katanya terputus seringai licik muncul diwajahnya yang tampan.
Ia berjalan dan menepuk pundak Eliza dari belakang lalu berisik ditelinga Eliza
"kau tak perlu membayar uang pinjaman itu. Namun kau harus menjadi pembantu sekaligus..." Suara dingin justin membuat tubuh Eliza merinding.Mereka diam. Justin seakan menahan kata-katanya membuat Eliza penasaran.
"Pelacurku juga" tenggorokan eliza terasa tercekat tak dapat bicara sepatah katapun."kau setuju?" tanyanya
Eliza terdiam tak menjawab dan itu membuat Justin gusar tapi dia dengan pintar menyembunyikan rasa kesalnya "jawab aku"
"I-iya"jawab Eliza ia tak peduli demi Grey bahkan monsterpun ia lawan.
Justin menuju kearah jendela.Ia mengambil burung kecil yang ada disarang tepat diluar jendela.Dielusnya kepala burung itu pelan dan burung itu menggosokan kepalanya ditangan Justin seakan menyukainya.
"kau itu jika kau berbohong"kata justin mengenggam burung itu.
Burung itu menjerit tak nyaman. Eliza melihatnya dengan kebingungan.Dalam satu remasan burung itu hancur ditangan Justin. Ia menutup mulutnya rasa tak percaya matanya terbelalak.Justin berjalan mendekati Eliza.
Justin menyentuh wajah Eliza dengan darah yang masih melekat ditangannya, diciumnya pundak Eliza membuat tubuhnya Eliza bergetar.
"Aku menyukai kekerasan apalagi dalam hal bercinta"Gumamnya dipundak Eliza dan tertawa senang namun mengerikan.
Justin menatapnya dengan tatapan tertarik dan ingin menghabisinya.
Menjadi pelacur pria itu? mendengarnya saja Eliza sudah jijik. "Bodoh" kata-kata itu selalu ada difikiran Eliza. Justin berjalan menuju kesebuah kotak dan isinya adalah kalung.
Kalung itu lebih mirip yang digunakan oleh anjing atau kucing. Kalung itu terdapat lonceng. "Sayang, ini adalah kalung yg membuktikan bahwa kau adalah miliku.Kalung ini tidak bisa kau lepas kecuali aku yang melepasnya didalamnya ada pelacak yang dapat melacak kemanapun kau pergi jangan pernah mencoba kabur"
"kalau berkhianat..."katanya sambil memakaikan kalung itu."kau tak mau kan? kalau kau dan kekasihmu yang penyakitan itu tewas mengenaskan dirumahmu yang kecil"katanya sambil menjilat telinga Eliza dan membuat Eliza duduk tak nyaman.
"Ti-Tidak tuan"kata Eliza rasanya ia ingin menampar pria itu. Dari belakang ia dapat merasakan tangan Justin menyentuh lehernya. Diangkatnya leher itu dan dijilatnya dengan kasar sementara tangan kirinya mulai menelusup kedalam baju Eliza.
Eliza merasa risih dengan perlakuan tuannya. Rasa takut menjalar diwajahnya yang menegang akibat perlakuan tuannya. Tangan hina milik pria itu menyentuhnya dengan lembut tapi mencekam.Kini Justin mulai mengecup leher Eliza dan tangannya bermain dengan tubuh gadis itu.
Air mata mulai keluar membasahi wajah Eliza ketika tangan kekar itu mulai mengelus pahanya yang mulus. Ia mengigit bibir bawahnya berfikir betapa rendahnya dirinya sekarang. Justin mengecup air mata asin itu seakan itu adalah hal kesenangan tersndiri untuknya.
"kenapa sayang? kau menangis,apa kau takut? apa tuan warewolf ini terlalu kasar terhadapmu?"kata Justin dengan nada memelas yang dibuat-buat. Eliza mengangguk.
"jadi kau takut sweety? kau tak perlu takut aku tak akan melumatmu sampai habis aku lebih suka menikmatimu sedikit demi sedikit agar aku bisa merasakan tubuhmu yang halus dan putih itu"
Justin berjalan kedepan dan menghadap muka Eliza,didekatkannya kepalanya didada Eliza
"kenapa sweetheart? jantungmu berdetak kencang apakah kau sudah bernafsu untuk memainkannya denganku?"tanya justin dengan pandangan iba yang dibuat2
"siapa namamu"tanyanya
"Eliza"
"nama lengkap"
"Eliza Meredith"kata Eliza sambil menelan ludahnya karna takut
Justin menatap gadis itu lalu tersenyum simpul.
Diusapnya air mata gadis itu lalu didekapnya untuk menenangkan
"tenanglah aku tak akan melumatmu sekarang"kata Justin mngelus punggung Eliza."Pulanglah hari ini hari Sabtu, kau mulai kerja hari Senin bawa barang2mu aku akan menyiapkan kamar untukmu"ucap Justin memeluk gadis itu.
Setengah tak percaya dengan ucapan Justin.
Eliza menatap pria itu dengan perasaan bingung. "Senyumlah sayang, jangan menangis lagi" perlahan senyuman itu muncul dari wajah gadis itu. Justin seperti mempunyai 2 kepribadian kadang jahat seperti srigala yang mau menerkam mangsanya dan terkadang baik seperti malaikat.
Justin berjalan menuju meja kerjanya dikeluarkan sebuah kertas dan ia menulis sesuatu "ini" menyerahkan sebuak cek untuk dicairkan.
"sembuhkanlah kekasihmu aku akan menyruh kenny untuk mengantarmu pulang"
Eliza mengambil cek itu senyum menghiasi wajahnya.
"sekarang kau boleh pulang"
"terimakasih Tuan saya akan menyampaikan kabar berita ini kepada kekasih saya" Eliza berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu.
"kurasa Tuan Justin tidak sejahat yang aku kira"pikirnya dalam hati


SKIP


Kenny pria yang pertama ditemuinya dihalaman sedang menunggunya. Sebuah mobil elegan terparkir didepan Eliza, Kenny membuka pintu mobil itu dan mempersilahkan Eliza masuk. "terimakasih" kata Eliza sambil memasuki mobil mewah itu.
Kenny menutup pintu mobil dan masuk untuk mengemudikannya.
"miss bisakah anda menunjukan jalan rumah anda?"tanyanya sopan
"Tentu sir,tapi kau tak perlu memanggilku miss panggil saja aku Eliza mulai hari Senin aku sudah bekerja dirumah Tuan Bieber"
"benarkah selamat datang kalau bgitu"katanya dengan tersenyum.
Eliza menatap pria yang berpakaian gelap sedang focus mengemudikan mobil, kulitnya yang coklat manis serta senyumannya pasti membuat gadis terpesona terhadapnya.
"kenny"panggil Eliza
"Ya miss Eliza"tanyanya bingung
"Eliza saja" dan Kenny hanya tersenyum
"Ya Eliza"
"sudah berapa lama kau bekerja dengan Tuan Justin?"
"hmm berapa lama ya aku tak bisa mengingatnya. Mungkin sudah lama sejak aku kecil"
Eliza diam menunggu jawaban selanjutnya. Suasana menjadi hening.
"Tuan Justin adalah penyelamatku"ucap pemuda yang masih remaja itu memecahkan suasana."sebenarnya dulu aku adalah preman liar yang tinggal digorong2 L.A ayahku yang brengsek meninggalkanku dengan ibuku"
"kemana arah jalan rumahmu Eliza"tiba2 ia bertanya
"Jalan abraham no.64" Eliza masih penasaran dengan cerita Kenny tapi dia merasa tidak enak untuk kepoin kenny
"bolehkan saya melanjutkan crita saya"
"Ya"Eliza antusias sekali
"ibuku yang sakit2an membutuhkan uang untuk berobat dan aku sangat frustasi"
"Waktu itu aku berniat untuk merampok, ya aku terpaksa melakukannya
Seorang pria berambut coklat berjalan sendirian, kira2 waktu itu usiaku 11 tahun dan sekarang aku sudah 18tahun haha cukup lama bukan"

FLASHBACK ON  (KENNY MEMORIS)

Anak kecil berkulit coklat sedang memgang erat pisau yg ada ditangannya. dengan bergetar ia menatap pria yang ada didepannya dengan senyuman diwajahnya. membunuh orang, Seorang Kenny kecil hanya mencari uang utk membeli obat ibunya
Apakah itu salah?
"Se-serahkan semua uangmu?"kata Kenny kecil bergetar sambil menodongkan pisau kepada pria itu.
Anak kecil mau menodong orang dewasa pikir pria itu "kenapa kau melakukan ini?"katanya dengan tatapan iba dan seringai diwajahnya menunjukan ia tertarik pada anak ini.
"Apa peduli mu hah? cepat berikan uangmu"
Pria itu berjalan mendekati Kenny dan membuat ia berjalab mundur. Ia berjongkok tangannya seakan hendak memukul Kenny, kenny pun memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan terjadi. "Ini"katanya sambil mengeluarkan pistol dari saku celananya.
"kalau mau merampok lebih baik pake ini daripada pake pisau mainanmu"Merasa terhina Kenny kecil menepis pisau itu dan mengacungkan pisaunya.
Bukannya takut pria itu tersenyum "kau tak takut masuk penjara dengan umurmu yang sekecil ini"
"AKU TAK PEDULI, APA URUSSANMU YANG AKU PEDULIKAN ADALAH UANG UNTUK IBUKU"Kini bukan tanganya saja yang bergetar tubuhnya juga ikut bergetar. Laki2 itu tersenyum pertunjukan memalak amatir yang dilakukan bocah ini membuatnya senang.
Ia mengambil pistol yang tadi ditepis anak itu dan menaruhnya kembali kesaku celananya."Aku mau memberi uang utk ibumu asal kau mau menjadi bawahanku, aku membutuhkan seseorang yang pemberani seperti kau" Suaranya yang berat membuat Kenny terkejut.
Perlahan air matanya keluar, ia mencoba menahannya tapi tak bisa, ia merasakan seseorang mendekapnya, pria itu? pria yang ingin dipalaknya malah memberinya uang, bahkan memeluknya.
"Te-ter-terimakasih"kata Kenny tak percaya
"sama2"
Kenny melihat pria itu, mungkin usianya 2 atau 1 tahun lebih tua darinya "siapa nama anda tuan?"tanya kenny. "Justin Bieber mulai kini kau menjadi pelayanku"
FLASBACK OFF (Kenny Memoris)

"sejak saat itu aku bekerja dengannya, dia begitu baik saya bersumpah akan menjadi pelayan setianya"
"ternyata benar Justin adalah orang yg baik"Pikir Eliza

SKIP



Eliza berjalan gontai menuju kamarnya. Hari senin adalah hari utk memulai hidup baru, ia tak yakin bisa bertemu lagi dengan Grey kekasihnya atau pun Jordan temannya. Maka besok Eliza mau kerumah sakit utk menemani Grey dan membayar biaya pengobatannya. Namun bagaimana caranya Eliza menjelaskan darimana uang ini didapat.
apa ia harus bicara oh aku dapat uangnya dari Tuan Justin Bieber artis terkenal itu, aku akan jadi pelayan disana sekaligus jadi teman dirajangnya, Oh Tuhan!
Pasti Grey tidak mau dioperasi jika aku mnjelaskannya.
Hufft lupakan ini semua. Eliza terlalu lelah. Ia melepas pakainnya dan menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi ia keluar dengan selembar handuk yang melekat ditubuhnya.
Handphone Eliza berdering ada pesan masuk dihapenya. Pesan singkat dari nomer yg tak dikenal.

From: Uknown

Jangan mencoba kabur dariku sayang

Eliza kaget membaca pesan itu. Ia membalas

To: Uknow

Siapa kamu? 






Nih gue mau buat Behind The Scene serial That Should Be Me
"Justin Justin" Gue triak2 manggil Justin
"Ehh riena demam bieber"
"Buruan syuting"
Si Justin langsung menuju keTKP

Pas camera udah siap Justin mulai beraksi
Justin menuju kejendela lalu mengambil burung yang ada disarang "buurrrr" burungnya malah lepas
"Cut! gimana sih Justin burungnya kenapa dilepas" gue marah
"anu itu, ga sengaja"
"ulang"
Akhirnya crew syuting cari burung lagi dipasar burung

"rolling, action"
Justin mulai lagi jalan mendekati jendela lalu mengambil burung yang ada disarangnya
"aaaawww"pekik Justin
"Cut! kenapa lagi"
"takut ini kan burung hantu"
"Duhh Tejo"panggil gue
"iya non sutradara begimana sih lu beli burung malah burung hantu"
"Ya trus burung apa dong"
"Burungnye elu"
SiTejo matanya langsung melotot kaget gitu

"cari burung emprit"

Akhirnya Tejo kluar buat cari burung emprit. Hampir 2 jam lebih siTejo belum balik2 apa burungnya ilang ya
Akhirnya kita mutusin semua crew Justin, Eliza, Kenny gue dan lain2 cameramen juga nyari siTejo assisten gue.

Pas kita cari diluar siTejo lagi ada digenteng
"Jo lo ngapain"triak gue
"cari burung emprit non"

"kok disitu"
"burung empritnya kadang lewat sini jd kalo lewat langsung tangkep deh"
Gue pun langsung jatuh pingsan.

Setelah gue sadar didepan gue udah ada burung emprit, ternyata Tejo udah beli dipasar burung.
Lalu kita mulai syuting lagi
"rolling, action"

Justin mulai berjalan mendekati jendela lalu mengambil burung yang disarangnya
"hlo maa burungnya"
Pas gue liat tuh sarang ternyata burungnya gak ada "TEJOOO"
"iye nona sutradara"
"tuh burung ngapa ga lo taro kesarang"
"hlo bukannya udah non"
"Noh liaaatt gue colok juga lu"
"hehehehe pintu sarangnya lupa saya tutup"kata Tejo dengan wajah idiotnya
Langsung aja dah gue pingsan kali ini disertai kejang2 dan mulut gue berbusa.

Akhirnya waktu itu gak jadi syuting diBreak dulu makanya Nextnya jadi lama gara tuh asissten gue

Udah dulu Behind The Scenenya
Cap Cus yukkk kecerita

Eliza membalasnya "siapa kamu?"

From: Uknown
Bukan kah kita baru bertemu? I'm Your Lord

Eliza kaget membaca pesan itu. Apa itu Justin tuannya. Dari mana dia bisa tau nomer HP Eliza. Apa Justin menggeledah ponselnya. Eliza masih saja tak percaya ia pun menelpon nomer itu.
"Hallo"terdengar suara berat seorang pria

"siapa ini?"

"kau masih tak percaya yang kau telpon ini adalah tuanmu?"


"Ya aku tak percaya"

"Bagaimana agar aku bisa membuatmu percaya? Apa dengan bercinta denganmu baru kau bia mengenali suara dan sifatku hnn?"
Kata-kata itu sukses membungkam Eliza. Ia langsung mematikan teleponnya. "Tidak mungkin" Pekik Eliza.
Suara dari Ponselnya terdengar lagi

From: Uknown

Kenapa dimatikan? Simpan nomor ku yah. Aku tak bisa menahanmu 4 hari terlalu lama bagiku. Aku ingin segera melumatmu

"4 hari bukannya hanya 2 hari"pikir Eliza

To: Uknown

aku simpan


balas Eliza.

SKIP

Gadis latin itu melangkahkan kakinya dengan gembira. Ia sudah tak sabar untuk menemui kekasihnya yang dirumah sakit. Ia berjalan menuju kamar 217, dan membuka knop pintu secara perlahan.
Matanya menatap seorang pria bertubuh kurus yang berbaring lemah dikasurnya yang nyaman. Eliza mengelus rambut hitamnya dengan lembut dan membuat Pria yang sedang tidur itu terbangun.
"Eliza"katanya kaget & ia beranjak duduk dikasurnya. Eliza mengambil tempat duduk disisi ranjang.
Disentuhnya pria itu dengan lembut,prlahan air mata Eliza mulai jatuh.
"Eliza kamu kenapa?"Tanya Grey menyentuh tangan Eliza. "Eliza kurasa kalung itu bukan kesukaanmu" Grey menyentuh lonceng yg ada dikalung itu terdapat ukiran huruf J dari emas.
"J?"tanya Grey
"Ahmm ini, mulai saat ini aku suka kalung yang seperti ini mmm J itu sebenarnya huruf G yang dibaca J, inisial nama kamu"katanya bahagia mengelus rambut Grey. Grey balik senyum terhadapnya.
"Grey,aku sudah dapat uangnya. sekarang kamu udah bisa operasi"
Mata Grey terbelalak mendengarnya.Ia sama sekali tak percaya dengan apa yang diucapkan Eliza.
"Itu gak mungkin, jawab aku apa yang kamu lakukan?"

Dengan riang gembira Eliza menjelaskan "Aku bertemu dengan orang kaya & baik hati ia tersentuh mendengar cerita kita"
"Dia memberiku uang, dan aku harus bekerja dirumahnya dia untuk membalas budi orang baik itu"

Grey tersenyum simpul "Kau bohong Eliza, aku tau itu. Jawab aku Eliza. Aku yakin pasti kamu melakukan hal gila"

"Aku gak bohong Grey,besok aku udah kerja disana maaf aku ga bisa nungguin kamu operasi"
Grey terdiam. Eliza memeluk tubuhnya. Ia tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang terpenting adalah kesembuhan Grey.

"kau tidak melakukan hal bodoh kan Eliza?"

"Oh iya aku lupa aku kan harus mencairkan cek ini"Kata Eliza mengalihkan pembicaraan.

"Bank tutup hari minggu"Ucap Grey
"Oh" Eliza seperti orang idiot saja"kau benar, sepertinya aku harus menyerahkan cek ini kepada Jordan utk dicairkan"
Grey merasa Aneh dengan kekasihnya. Tapi ia memilih untuk diam. Mungkin setelah ia sembuh Eliza mau menceritakan semuanya.
Eliza memutuskan untuk menemani Grey yang sedang asik menceritakan semua kejadian yang menarik dirumah sakit ini. Eliza tak henti2nya tertawa dan tersenyum.

SKIP

Pagi menjelang Sore. Sore menjelang malam. Udah seharian Eliza menemani Grey. Sampai Grey tertidur
Eliza membuka knop pintu dan keluar dari ruangan. Ia harus menyiapkan pakaiannya untuk kerumah Justin besok.

SKIP

Eliza menunggu Kenny menjemputnya. Sialnya Kenny tidak bilang jam berapa dia akan menjemput. Sudah 2 jam Eliza duduk didepan terasny.
Ia sudah menceritakan semuanya kepada Jordan. Jordan sangat marah sekali. Malam itu air mata Eliza tak hentinya jatuh, ia memohon agar Jordan tidak memberitahu Grey.
Jordan paling tidak suka jika melihat Eliza menangis, makanya dia setuju utk merahasiakannya
Walaupun ia masih menyuruh Eliza untuk berfikir ulang akan keputusannya, tapi semuanya udah terlambat. Eliza sudah terlanjur membuat perjanjian itu.

Sebuah mobil hitam itu menuju kepekarangannya. "Maaf Eliza, saya harus mengantar Tuan Justin dulu"Ucap Kenny dengan senyumannya.
Kenny cepat2 memasukkan barang2 Eliza kedalam bagasi mobil
"memangnya Tuan justin kemana?"Tanya Eliza membantu memasukan barang2nya
"KeJerman selama 3 hari. Ada urusan mendadak dengan rekan bisnisnya. Saya disuruh utk mempersiapkan anda selama 3 hari"
Pantas saja Justin bilang 4 hari terlalu lama, Namun ada bagusnya ia bisa terhindar dari Tuan WereWolf itu pikir Eliza.
"tiga hari utk mempersiapkan aku?"tanya Eliza bingung
"Hanya dalam waktu 3hari Tuan Justin menyuruhku utk mengajarimu tentang peraturan dirumahnya saya akan menjelaskan semuanya
"Tuan Justin tidak menyukai kesalahan sedikitpun,kuharap kau tidak melakukannya"Jelas Kenny dan itu semakin membuat Eliza bingung.
Oke, siap2 Eliza untuk tinggal disarang Srigala.

SKIP

rasa takjub menghantui Eliza. Bagaimana tidak Rumah Justin begitu besar dan mewah.
Ukiran nada2 terdapat pada dinding rumah, mencerminkan bahwa pria ini memang mempunyai seni musik yang tinggi. Serta Lukisan2 mahal itu menandakan bahwa ia orang yang berkelas.
Seperti istana saja.
"Eliza"

"Ya Kenny"
"kau sudah bekerja disini, peraturan pertama kalo kerja jangan sampe memecahkan barang2 disini
mengingat harganya selangit, kedua kau harus membersihkan kamar Tuan Justin tiap hari ia akan marah jika kamarnya kotor, jangan kaget jika kamarnya selalu berantakan apalagi kalo membawa seorang wanita"

"tak perlu dijelasin jg udah kliatan"pikir Eliza
"Ketiga, Tuan Justin adalah artis besar dan teman2nya juga banyak bahkan dari luar negri, tau kan Hollywood? semuanya kenal dengan Tuan Justin. Tak jarang mereka kesini utk mngadakan kerjasama maka diharapkan agar kamu tidak berbuat kesalahan"
"Kalau misalnya kamu bisa menyenangkan tamu Tuan Justin, dia pasti akan bangga denganmu. Aku kira itu saja yg harus aku jelaskan. mmm oh ya Eliza"

"Ya kenny"

"Kau tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun disini bagi Tuan Justin kesalahan adlh sesuatu yg fatal"
Kata2 Kenny sangat Horror "Baiklah Kenny, akan kuusahakan utk tidak berbuat kesalahan"
"bagus"ucap Kenny tersenyum.
Kenny dan Eliza terus berjalan menyusuri rumah itu.
"Eliza ini tempat tidurmu dibawah tangga dan..."kata kenny terpotong sambil membuka knop pintu kamar.
"dan apa?"Tanya Eliza penuh curiga
"dan dibawah adalah kamar Tuan Justin"Kenny tersenyum ketika mengatakan itu
"Tak bisakah kau mengganti kamarku?"
"maaf Eliza, Tuan Justin yg menyuruhku. Katanya biar gampang disuruh2"

Sebuah nada dering telpon berbunyi.
Kenny segera merogoh celananya dan mengeluarkan ponsel itu. "Ah maaf Eliza, silahkan nikmati kamarmu"Ucapnya berjalan jauh dan mengangkat panggilan itu.
Eliza masuk kedalam kamrnya dan menyeret kopernya.
Ruangan itu tidak terlalu besar didalam terdapat meja rias,kasur yg bisa dipakai utk 2 orang, kamar mandi sendiri, Beberapa lemari besar & kecil. "hmm lumayan juga buat seorang pembantu"ucap Eliza.
Eliza membuka kopernya dan menyusun pakaiannya kedalam lemari besar.
Terdengar suara pintu diketuk "Masuk"kata Eliza
"maafkan saya Eliza, saya baru saja mendapatkan sebuah kabar Tuan Justin tidak jadi keJerman. Kerjasamanya diganti dirumahnya mengingat rumah Tuan Justin begitu nyaman, sepertinya mereka akan membicarakan tentang pembuatan single baru, oh ya kerjasama ini bernilai 150 dollar"
"baik"kata Eliza mengerti.
"ini baju kerjamu"kata Kenny mengeluarkan baju hitam berenda putih ditambah rok mini yg membuat Eliza jijik untuk memakainya.
"kau serius?"Eliza tak percaya harus memakai ini
"mm yah, kuharap kau senang kerja disini maaf saya harus menyiapkan sesuatu"Kata Kenny pamit pergi.
Eliza menghela nafas berat, batalnya Justin keJerman membuatnya sedih. Cepat2 ia mandi dan memakai baju pelayannya.
Ketukan pintu dikamarnya terdengar lagi. Mungkin Kenny yang bertanya apakah aku sudah siap apa tidak pikir Eliza. Tangannya membuka knop pintu itu
"Kenn.."panggilan Eliza berhenti ketika melihat seseorang itu bukan Kenny.
"Tu-tuan"Eliza tak percaya itu adalah tuannya. Ya Tuhan dia tampan sekali, senyuman itu? *authorpingsan*
"sayang"ucapanya mnatap mata Eliza. Tanpa dipersilahkan Justin masuk kedalam kamar. Mata Hazelnya menyusuri kesekeliling kamar sementara kedua tangannya dimasukan kedalam saku miliknya.
"lumayan juga"katanya
"Tuan"kata Eliza dengan ragu kaki kecilnya mengikuti tuannya yang sedang berjalan nyusuri tiap sudut kkamar itu. Eliza menabrak tubuh Justin,ketika justin mendadak berhenti. Pria berambut emas itu membalikan badannya, membuat Eliza kaget dan menundukan kepalanya.
"kau kenapa? takut denganku?"kata Justin dengan nada cueknya.
"Ti-tidak tuan"Eliza bergetar. Tangan Justin menyentuh pipi Eliza dan menaikan wajahnya sehingga mata mereka bertemu. Dielusnya pipi itu dengan lembut *oouuhh* *authorjungkirbalik*
Hingga Eliza merasakan bibir tuannya. Eliza terkejut dan tanpa sadar ia langsung mendorong tuannya membuat tuannya jatuh tersungkur dilantai.
"Gawat! benar2 gawat"itu yang selalu diucapkan Eliza dalam hati.
"Berani sekali kau"Kata Justin penuh ancaman.
"maafkan saya tuan, saya terkejut"kata Eliza menyentuh bibirnya. Justin mendengus kesal berjalan keluar dari kamar itu "BRAAAK" terdengar suara ia menutup pintu dengan kasar.
"huffft bodoh!"kata Eliza merutuki dirinya

Sebuah ketukan pintu terdengar lagi. Eliza Segera membuka pintu itu.










Sebuah ketukan pintu terdengar lagi. Eliza segera membuka pintu
"Tu-,"Ucapan Eliza terpotong ketika melihat Kenny dihadapannya "tamu Tuan Justin sudah datang hidangkan minuman ini"katanya memberikan nampan yg berisi fire whiskey,beberapa gelas & jus orange.
Kenny menunjuk ruang tamu dilihatnya tuannya yang sedang berbincang dengan seseorang, Eliza sepertinya familier dengan wajah itu "Hah chris brown"jeritnya dalam hati. Mereka didampingi oleh produser dan manager masing2 aku juga lihat usher dan scooter.
mereka berbincang2 dan tertawa dan tidak memperhatikan Eliza ketika ia datang. "owh ini minumannya lama sekali"gerutu seorang pria gemuk mungkin itu managernya Chris Brown pikir Eliza.
Eliza menaruh minuman itu dimeja & sebuah tangan usil memukul tepat dibagian bokongnya.
Eliza terlonjak kaget sementara Justin yang melihat itu dengan senyum menyeringai.
"Hey kid cantik sekali pelayanmu ini"kata Chris brown
"tentu Mr.brown"dengan nada datarnya
Setelah selesai menyusun minuman eliza pamit utk kembali, tapi Chris menariknya kepangkuannya.
Pria gemuk yang berada disisi Chris merasa jijik melihatnya lalu menyeruput fire whiskey.
"Bagaimana dengan kerjasama untuk duet dilagu ini, hmm aku rasa kalian berdua pas menyanyikan lagu ini"kata Scooter sambil membaca selembaran kertas berisi not2 lagu & lirik.
"Mr.Bieber aku akan menyetujui duet itu kalau kau mngijinkanku tidur dengan pelayanmu yang cantik ini"Ucap Chris sambil mengelus paha mulus Eliza. Dia begitu kaget "Tidur? memang semurah itukah dirinya?"tanyanya dalam hati yg kesal. Eliza hanya diam mngigit bibir bawahnya menahan perlakuan nakal Chris.
Ia tak tahan dan ingin melawan tapi ucapan Kenny terngiang dikepalanya yaitu tentang teman bisnin Tuan Justin jangan sampai berbuat kesalahan. Eliza harus bertahan kalo tidak ia akan dimarahi habis2an oleh Tuan Justin.
Justin menyilangkan kakinya lalu mengambil fire whiskey & diteguknya.
Ia mengambil selembar map yang berisi tentang kerjasamanya dengan Chris Brown.
"Menarik.Kalau kuserahkan dia pasti kau pasti setuju"kata Justin
"Ya Bieber, pelayanmu sungguh menarik"
Rasanya Eliza ingin menampar mulut pria ini. Justin meneguk Fire Whiskeynya lagi "kalau begitu.."
Eliza benar2 was2 jika Tuan Justin menyetujuinya
"batalkan saja kerjasamanya"Ucapnya sambil melempar map itu.
"APA? kau pasti bercanda? Hey kid kau akan berduet dengan penyanyi RnB yang memiliki banyak penghargaan"kata Chris tak percaya
"aku tak bercanda silahkan keluar"jawab Justin santai
"beraninya kau mengusirku"Kata Chris mendekati Justin mengambil Fire Whiskey yang ada ditangannya dan menuangkannya diwajah Justin. Sebuah penghinaan bagi Justin. Eliza menutup mulutnya tak percaya dgn perlakuan Chris.
Scooter dan Usher terkejut melihatnya, pria gemuk itu pun tersenyum sinis. Dengan segera Eliza mengambil tissue dan ingin mengelap wajah justin "tak perlu eliza"tolak Justin.
Justin mengambil tisue dan mengelapnya sendiri lalu berjalan pergi "datang kekamarku 10mnt lagi Eliza, Scooter aku tak enak badan hari ini"Lalu menaiki tangga.
Eliza benar2 takut, ia berjalan gontai kedapur "Hey apa yang kau lakukan?"Kenny menghampirinya
"Aku Tahu, aku tahu aku bodoh"Kata Eliza begitu gelisah
"Lebih baik kau kekamarnya sekarang biar aku yang mengurus ini"kata Kenny mengambil nampan yang dibawa Eliza.

SKIP



Eliza menghela napas ketika sudah sampai didepan pintu kamar Justin.Ia yakin Justin akan memarahinya habis2an. "Semangat Eliza"ucapnya lalu mengetuk pintu suara berat Justin menyuruhnya masuk. Sedikit terkejut karena begitu Luanya kamar itu dan barang2 mewah itu.
"Tuan"panggilnya lemah
Justin yang dipanggil segera dan mengambil handle pintu lalu menguncinya "duduklah diranjangku Eliza"katanya datar
selangkah demi selangkah ia menghampiri ranjang itu,lalu duduk dikasur yang empuk dengan perasaan gugup Tuan Justin sedang bertelanjang dada.
Bajunya yang terkena fire whiskey sudah dilepasnya ia menyeret kursi kecil dan duduk dihadapan Eliza. Wajahnya tanpa Ekspresi "kau benar2 membuatku kesal Eliza"ucapnya dingin membuat Eliza merinding ia tak berani mnatap mata Justin dan memilih utk menunduk.
"maaf tuan"kata2 itu keluar dari mulut Eliza
"maaf cuma maaf yang bisa kamu katakan?"
"maafkan saya tuan saya benar2 bodoh"
"Lihat aku Eliza aku tak menyuruhmu menunduk"ucapnya dengan nada tinggi
Eliza mengangkat wajahnya dengan sekuat tenaga menatap mata hazel justin
aku menyerah akhir2 ini aku kehilangan 100euro dan ditambah 150dollar dan itu ulahmu"
"maaf"
"kamu pikir aku memberimu apa hah? daun?"
"maaf"
"maaf aku juga bisa bilang maaf" Eliza hanya bisa diam "diam? hanya itu yg bisa kamu lakukan?"
Tetap saja Eliza diam tak menjawab "baiklah. kamu bener2 buat aku kesal" Justin menarik kursinya agar lebih dekat dengan Eliza, disentuhnya pipi Eliza "akan kuberi kau tantangan jikau kau tak mendesah selama permainan"
"itu tandanya kau menang dan aku akan membebaskanmu dari hutang tapi kalau tidak..."
Eliza gelisah karna Justin menahan ucapannya "anggap aku tak pernah menawarimu"


Justin menyentuh ...



ini justin pas dikamar.
"anggap aku tak pernah menawarimu"
Justin menyentuh wajah Eliza sebuah ciuman hangat melekat dibibirnya awalnya lembut menjadi ganas. Justin mendorong tubuh Eliza keranjang lalu menindihnya ia mulai mencium melumat bibir eliza bahkan mengigitnya membuat bibir Eliza berdarah.
ciuman panas Justin tidak hanya dibibir bahkan mulai turun menuju leher Eliza.
Eliza hanya diam menahan agar dia tak mendesah.Namun permainan Justin sangat hebat & panas. Tangan Justin mulai turun menjelajahi tubuh Eliza. Bibir Eliza diciumnya lagi dengan kasar.
Justin merobek pakaian Eliza membuat pakaian kerjanya berantakan berceceran dikamar itu. Justin bermain seperti kesetanan. Eliza menarik selimut menahan mulutnya agar tidak mendesah.
"masih bertahan Eliza?"Goda Justin
Mereka bermain hingga 30an menit pada saat yang terakhir Eliza sudah tidk kuat lagi.
Eliza mendesah ketika dia keluar, kini Eliza benar2 tidak kuat suara desahannya membuat Justin tersenyum kemenangan.
"Grey"tiba2 nama itu disebut Eliza
Justin kesal mendengar itu.
"Grey? pria penyakitan itu?"Kata Justin marah
"Grey? seberapa hebatnya permainan pria itu apa dia bisa memberikan kenikmatan ini?"
Justin kesal dan menyudahi permainannya. Sementara Eliza tertidur pulas karena kelelahan. Justin duduk disisi ruangan ia masih kesal dengan ucapan Eliza menyebut nama kekasihnya disela2 permainannya bukan namanya Tuan seperti biasanya ia memanggil Justin.
Justin mengambil fire whiskey dimejanya dan menegukanya dengan kasar. Ia ingin sekali memukul orang yang bernama Grey itu. Justin penasaran seperti apakah pria yang bernama Grey itu
Ia menatap Eliza yang sedang tidur pulas diranjangnya. Diambilnya tangan kiri Eliza dan dilihat dgn teliti.
Justin terkejut melihat cincin yang melingkar dijari manis Eliza. Ingin sekali ia mengambilnya lalu dibuangnya tapi ia berfikir itu adalah perbuatan rendah yang dilakukan oleh seorang Justin Bieber.
"kau sukses membuatku penasaran Eliza"ucapnya mengelus pipi Eliza.
Dilihatnya bibir Eliza yang membengkak akibat ulahnya. Ia mengecup bibi itu "kau tak pernah membuatku bosan Eliza"



SKIP



Eliza mengerjapkan matanya rasa sakit menjalar ditubuhnya. Ia melihat kelambut yang diukir dengan tinta emas. Ia mulai bangun dr tempat tidur mewah itu.
Eliza mengingat kejadian yang baru saja dialaminya, perlahan air mata itu jatuh antara sakit fisik & batin menjadi satu namun satu yang membuatnya benar2 menyesal ia sudah mengkhianati kekasihnya. Kini ia merasa menjadi wanita paling hina yang tak pantas untuk dipandang.
Sebuah pintu terbuka. Ia melihat pria berambut coklat keemasan membawa nampan berisi makanan. Raut wajah pria itu yang awalnya tersenyum menjadi bingung melihat Eliza menangis. Justin menaruh nampan itu disisi ranjang Justin duduk disisi ranjang dan menatap Eliza dengan balutan selimut itu.
Justin tau Eliza mencoba mnahan tangisnya tapi tak bisa
"kenapa Eliza? ada yang salah ka tak suka aku menyentuhmu?"kata Justin
Eliza terdiam dan menunduk beberapa helai rambutnya menutup wajahnya.
"apa kau menyesal?"katanya berjalan menuju lemari pakaian yang besar.
Eliza meremas selimutnya akibat perkataan Justin
"kenapa sayang kau merasa kekasihmu sudah tak pantas bersamamu karna kau sudah tidur dengan pria yg lebih baik darinya?"Ucap Justin tangannya mulai menyusuri deret pakaian dilemari.
"pria itu adalah pria yang tak pantas bersamamu, dia tak bisa membahagiakanmu bahkan dia tidak bisa menjaga ketika kita bercinta"Ingin sekali Eliza menampar Pria itu, menjelek2an kekasihnya maksud dia apa tapi mengingat posisinya sebagai apa Eliza hanya bisa diam.
Justin mengambil kemeja putih miliknya dan berjalan mendekati Eliza. Tak tau kenapa Justin merasa senang ketika menghina kekasih Eliza. Ia duduk disisi Eliza "kenapa Eliza kau menyesal? apa kau berharap Grey membuka pintunya dan menyeretmu keluar dari kamarku?"
"jangan harap Eliza. Pria itu adalah pria yang bodoh menurutku karna ia tak mau melepasmu dan membiarkanmu bekerja" Eliza sangat kesal dan mencoba bertahan ia benar2 tak menyangka seseorang menghina kekasihnya dan kini duduk nyaman disampingnya.
"Pria bodoh yang sudah tidak punya harapan untuk hidup pria seperti itu lebih baik mati lihat saja apa komentarnya melihat pekerjaanmu skarang aku yakin ia akan merasa bersalah dan ..."ucapan Justin terputus ia merasakan sebuah tamparan dr Eliza mengenai wajahnya.
Eliza tidak bisa menahan dirinya, bahkan tamparan itu melayang dengan sendirinya tanpa ia sadari. Justin terkejut dan memegang pipinya kilatan matanya menyeramkan
"Jangan pernah kau berbicara seperti itu tentang Grey dihadapanku"Ucap Eliza bergetar karna amarah & kesedihan.
"KAU"geram Justin benar2 marah
Ia menampar pipi Eliza seketika ia menjambak rambut hitam Eliza dan menariknya kebelakang "KURANG AJAR SEKALI KAU WANITA JALANG! KAU TAK TAHU AKU YANG MEMBANTUMU KAU HARUS INGAT APA POSISIMU DISINI"terlihat Eliza ketakutan mendengarnya
"KAU SENDIRI YANG MENAWARKAN TUBUHMU.BUKAN AKU YANG MEMINTA KAU ADALAH PELACURKU AKU TAK PEDULI KAU MILIK SIAPA, KEKASIH SIAPA? INGAT POSISIMU BITCH!"
Ucapnya lalu mencium bibir eliza dengan kasar Justin menindih Eliza ia dirasuki amarah dan kekesalan akibat Eliza.
"Tu-Tuan" rintih Eliza menangis.



"Tu-Tuan"rintih Eliza menangis mendengar Itu Justin menghentikan ciumannya yang kasar dan menatap Eliza dengan pandangan iba. Ia mundur dari disisi Eliza yang sedang menangis Justin duduk disisi ranjang. Ia mengacak2 rambutnya frustasi. Sementara Eliza masih menangis disela2 selimut.
"ini kemeja untukmu. Sana mandi hari semakin malam aku tak mau kamu sakit"Ucap Justin sambil menaruh kemeja putih disamping Eliza. Namun Eliza diam dan masih menangis menutupi wajahnya dengan selimut hatinya masih sakit mendengar perkataan Justin.
Hampir 15menit Eliza terdiam & menangis namun ia tetap menuruti perkataan Justin. Ia mengeluarkan dirinya dr ranjang perlahan menuju kamar mandi mendekap kemeja itu dan terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup.

Justin P.O.V
Aku menampar wanita? aku tak pernah melakukannya. Dan sekarang?
Memangnya dia siapa hingga sukses buat aku berubah dia hanya wanita jalang.

Justin merasa pusing dan bingung dengan semua yang terjadi. Ia merasa Lost Control ia tak pernah merasa sangar marah & sangat bernafsu.
Justin bangun dr duduknya dan membuka lemari es berukuran sedang yg berada dikamar itu.
Ia mencari fire whiskey favoritenya membuka tutup botolnya dan menuangnya digelas ukuran besar isi es batu. Aroma alkohal mulai tercium. Ketika ia meminumnya pikirannya jadi kemana2 memikirkan Eliza ia merasa meninginginkannya dan memilikinya satu2nya wanita yang membuatnya bergairah adalah Eliza.
Desahannya, tubuhnya yang bergerak menggeliat membuat Justin menggila. "Aku tak membutuhkan wanita seperti dia banyak wanita cantik dan sexy yg lebih baik dr dia"Pikir Justin.

Pintu kamar mandi terbuka,aroma sabun Justin yang eksotis membuat Justin menoleh kearah kamar mandinya.
Ia mendapati Eliza dengan rambut hitamnya yang basah. Kemeja putih yang kebesaran itu membuat Eliza semakin sexy ketika memakainya. Justin tercengan melihat itu Ia berusaha mati2an menahan nafsunya. Sungguh ia baru pertama kali tertarik dan serius pada wanita "sabar Justin"gumamnya dalam hati.
Eliza berjalan kikuk menghampiri Tuannya yang menatapnya dengan tatapan aneh menurutnya "Tuan"sapanya ragu
Justin menyeringai senang ia mencium aroma sabun yang ia pakai kini melekat ditubuh Eliza "makanlah aku sudah menyiapkan makanan untukmu"ucap Justin
Eliza berjalan menuju arah nampan yang berisi makanan tepat disebelah ranjangnya ia mulai memakan makanan itu. Justin berjalan menghampirinya. Ia melihat paha Eliza yang terbuka disela2 kemejanya
Bahkan lengan baju yang ia gulung tetap saja menutupi tangannya Justin tersenyum melihatnya fire whiskey yg ada ditangannya hanya dipegang tidak diminum melihat Eliza jauh lebih menarik dari pada minim fire whiskey
"bagaimana kau suka?"tanya Justin lembut
Eliza mengangguk & tersenyum senang.
Justin duduk didepannya melihat Eliza lebih menarik dari pada melihat penari2 eksotis yang ada diclubing pikir Justin. Hampir 10mnt Eliza makan lalu ia meminum secangkir coklat Justin mengigit bibir bawahnya ketika melihat tetesan keluar dari bibir Eliza.
Eliza menyudahi minumnya dan menaruh cangkir itu. Eliza hendak membersihkan tetesan yang masih melekat dibibirnya tp tangan Justin menahannya, Justin berjalan bangkit sementara tangannya masih menahan Eliza. Ia menatap Justin bingung. Perlahan ia mengangkat dagu Eliza lalu menciumnya dgn lembut.
Rasa Coklat manis yang melekat dibibir Eliza dapat dirasakan Justin ditambah lidah Eliza sedang bergulat dengan lidahnya. Erangan pelan terdengar ditelinga Justin "kau tau, kau membuatku gila Eliza"Kata Justin dlm hati.Justin melepas ciumannya dan menatap wajah Eliza.
Eliza menatapnya bingung, Justin mengelus pipinya dengan lembut lalu mengecup pipi itu "Eliza"panggilnya lembut sekali
"Ya Tuan"
"Mulai sekarang kalo kita bersama kamu jangan panggil aku tuan,panggil saja Justin"
"maksud tuan?"
"Maksud aku kalo kita bersama seperti ini kau panggil saja aku Justin. Coba kamu panggil"
"Just-Justin"
"Justin"Ulang Justin kepada Eliza
"Justin"

Mereka terdiam sebentar sampai Justin berbicara"Eliza sekarang jam2 dini hari, untuk membunuh waktu bagaimana kalo kita menonton film"Ucap Justin sambil menunjuk TV plasma berukuran besar.
"baik"ucap Eliza sedikit bersemangat
Eliza benar2 bingung kepada Justin ia ingat Justin berlaku kasar kepadanya tapi baru saja ia bersifat lembut sekali. Justin mulai mengotak-atik mesin yg ada didepannya home teather tepat disamping TV"kamu suka film hantu?"
"Suka Tu- maksudku Justin"Kata Eliza
Justin tersenyum mendengar perkataan Eliza.
"hmm kurasa ini film yang menarik"kata Justin sambil memasukan kaset itu kedalam DVD player.
Justin mengpause film itu dan berjalan keluar. Eliza memperhatikannya dari belakang punggungnya sangat atletis pikir Eliza. Hampir 15mnt Justin datang dan membawa skranjang popcorn & soda.
"bagaimana bisa?"Spontan Eliza berkata seperti itu
"Tentu aku kan punya mesinnya"Ucap Justin santai dan berjalan kearah Eliza.
Mereka sudah duduk nyaman diranjang sambil makan popcorn dan juga minum soda.
Adegan pembunuhan dan munculnya hantu membuat Eliza ngeri ia meminum sodanya sambil gelisah. Justin tersenyum melihat Eliza semakin lama semakin merapat ketubuhnya.
Eliza memencet gelas sodanya saking kaget ketika hantu itu muncul lg difilm
Minuman soda tumpah mengenai tubuhnya dan kearah Justin.Ia terkejut ia yakin Justin pasti akan memarahinya "Ma-Maaf" Ucap Eliza menatap Justin yg ada disampingnya Justin lalu tersenyum dengan seringai disenyuman itu apalagi ketika melihat bagian *** terlihat
"gak pa2"ucap Justin senang Ia lalu merangkul Eliza mendekanya menciuminya dengan lembut"Nanti kita mandi bersama tapi kamu harus bersihin ranjangku besok"Ucap Justin disela2 ciumannya
"Jusssttinn aku ingin menikmati filmnya"kata Eliza ingin melepas ciumanya
"Besok kan masih bisa, besok kamu tidur dikamar aku aja"Ucap Justin
Eliza terkejut mendengarnya O_o
Dia kan pembantu masa tidur diranjang tuannya?
https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/1003060_552569304803670_1107984444_n.jpg

Eliza terbangun dari tidurnya, diliriknya pria berambut coklat emas yang terlelap disampingnya bahkan ia tidak seberapa memperhatikan soda, keringat dan lain2 melekat diranjang. Justin tertidur sangat lelap tangannya memeluk Eliza seakan tak ingin lepas Eliza berfikir sudah berapa puluh wanita yg tidur disini masuk dan pergi.
Eliza hanya satu dari berpuluh2 wanita yang pernah tidur dikamar Justin dirinya hanya benda yang dijadika Justin untuk menghangatkan kamarnya disaat tidak ada wanita utk diajak bercinta dan itu tanpa perasaan sama sekali. Eliza berfikir hanya menunggu waktu saja sampai ia dibuang dengan tak layak oleh Justin.
Eliza merasa tak pantas bersama Grey kalau bisa ia ingin menghilang dari dunia agar Grey tak bisa menemuinya atau bertanya darimana dapat uang sebanyak itu dalm waktu sehari. Kegalauan yang ada difikiran Eliza menghilang ketika melihat pria yang ada disampingnya mengerjapkan matanya.
Ia melepas pelukannya dan tanpa sepatah kata pun ia berjalan menuju kamar mandi.

SKIP

Hampir 30mnt ia mandi lalu setelah selesai ia keluar dengan selembar handuk yg menutupi bagian bawahnya. Ia mulai mengenakan pakaiannya dan berkaca didepan lemari yang besar.
Ketika ia sudah mulai siap ia melangkahkkan kakinya pergi keluar tanpa melihat Eliza sambil berkata "Rapikan ranjangku"

"rapikan ranjangku" Eliza menirukan perkataan Justin sambil cemberut "seenaknya dia pergi tanpa berkata hey selamat pagi! bagaimana tidurmu nyenyak tidak apakau ingin coklat panas apa banyak nyamuk disini?"kata Eliza dibuat2
Eliza mulai berpindah dari ranjang Justin ia mengambil seprei dan selimut yang kotor dan menyeretnya keluar dari kamar itu. Justin tuh baik kalo lagi membutuhkan pikir Eliza.

SKIP

Kenny mengeluarkan kembali susu yang diminumnya ketika melihat Eliza dalam keadaan berantakan.
Rambutnya acak2an,kancing kemeja yang beberapa terbuka serta sprei dan selimut yang ia dekap. Terdapat luka dibibirnya dan matanya sedikit merah akibat menangis "Kenny ini selimut & seprei Tuan Justin bagaimana aku bisa mendapatkan penggantinya"
"uhuk uhuk"Kenny sampai batuk karna keselek minumannya"Eliza kamu seperti habis terkena badai angin puting beliung, berikan saja padaku aku akan menyuruh orang utk membersihkannya kamu sungguh berantakan Eliza lebih baik kamu mandi ini biar aku saja yg mengurus"Ucap Kenny
Eliza menyerahkan selimut dan seprei tebal itu kepada Kenny, lalu ia ingin berlalu tapi ia langsung berbalik ketika Kenny memanggilnya "Eliza nanti kembali kemari aku akan memberimu sarapan"

"bajuku rusak bisakan aku mendapatkannya yang baru?"
Kenny sedikit kaget mendengar itu"Eh ya kau bisa mendapatkannya akan kusuruh orang untuk mengantarkannya"
Kenny tahu semua itu akibat ulah Tuannya. Namun ia tak pernah menyangka bahwa Tuannya memperlakukan Eliza sampai berantakan seperti ini karna selama ini tidak pernah ada wanita yang keluar dari kamar Tuannya dalam keadaan buruk seperti ini.

SKIP
Eliza duduk diranjangnya, ia sudah mencuci kemeja Tuannya
Sebuah ketukan pintu terdengar dari kamarnya, dengan gontai ia membuka pintu kamarnya ia terkejut melihat seseorang yang ada dihadapannya, ia melihat wanita cantik, lucu seperti barbie
"ini bajumu"katanya terdengar judes lalu mendorong baju pelayan itu kedada Eliza, dan beranjak pergi.
Eliza merasa aneh melihat wanita itu, ia merasa kesal lalu ia memakai pakaian itu ia tak mau berlama2 dikamar dan dicap sebagai pemalas.

Kenny tersenyum melihat Eliza, ia segera menyuruh Eliza duduk untuk sarapan. Roti panggang, beberapa sosis, sandwich coklat panas lengkap dengan soup.
"Bagaimana Eliza? kau suka"
"Tentu"Eliza sangat senang lalu memakannya"Kenny apakah kau tau wanita cantik tadi yang mengantarkan baju ini kekamarku"Tanya Eliza disela2 makannya
"Tentu,namanya Issabela dia adalah pelayan Tuan Justin yang paling disayang mungkin karena wajahnya yang cantik"
Kenny melanjutkan perkataannya"Eliza jangan coba2 menggangunya dia tuh kesayangannya Tuan Justin, tentu Tuan Justin akan membelanya kecuali padaku karna aku Kepala Pelayan tuan Justin percaya penuh padaku,lebih baik kau berhati2 padanya banyak pelayan yang keluar akibat ulahnya"
"Kalau kau tau itu ulahnya kenapa tidak melaporkannya saja"
"Hmm tidak, selama ia tidak berbuat parah aku tak akan melaporkannya"Kenny lalu juga memakan sarapannya"Kurasa ia tak menyukaimu Eliza,mungkin karna kau baru disini dan langsung mendapat perhatian dr Tuan Justin"
"Um aku tak yakin"

"Coba saja kau buat ia kesal dengan mendekati Tuan Justin"

"Aku tak mau berurusan dengannya ataupun Tuan Justin"


"Bagus itu"

SKIP

Pria berambut coklat itu tersenyum sendiri menatap langit2 dan terkadang tertawa tidak jelas
Namun satu yang perlu diketahui kenapa Justin bersikap seperti ini karena membayangkan malamnya yang indah yang membuatnya Lost Control terhadap dirinya sendiri. Ya, wanita itu Eliza.

Wanita itu sukses membuat Justin memikirkannya seharian penuh. Namun tetap saja ia menyangkal"Bodoh,jika aku menyukainya"
Ucapnya sendiri lalu ada sebuah ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya

Seorang wanita cantik memasuki ruangan itu dengan sopan, Justin menatapnya "kenapa?"

"maaf tuan ada special yang ingin menemuin anda"


"katakan, aku sedang sibuk"Kata Justin dingin

"Tapi dia memaksa tuan"
Justin mendengus kesal lalu berdiri dari tempat duduknya.
Dia mengambil kacamata dan topi dengan huruf "b"
"baik saya akan kesana, dimana?"
"direstaurant, Mc Donald's Tuan"

"Mc Donald's sudah lama aku tak kesana"Katanya sambil berjalan keluar ruangan


Siapa yah tamu special itu ¿ ¿ ¿
                                                                             















Justin mengendarai mobil ferrari yang bercorak macan itu dengan rasa penasaran dari dalam hatinya.
Sudah lama tak ada seseorang yang mengajaknya makan disitu. Mc. Donald's adalah restauran favoritenya, mungkin jika ia tak menjadi seorang super star ia ingin sekali dapat bekerja disana.
Didalam perjalan Justin menerka-nerka siapa seseorang yang mau menemuinya direstaurant, apa mungkin Beliebers?
Wahh enak sekali makan direstaurant favorite bersama beliebersku,pikirnya.

Dengan cepat ia bergegas memakirkan mobil mewahnya ketika sudah sampai dan langsung menuju kedalam restaurant.
Ia membuka pintu dengan tak sabar
"Justin Bieber" Didalam restaurant langsung heboh triak sana sini
Security restaurant itu pun langsung melindungi Justin dari histerisnya para wanita didalam itu

"Mari, Tuan Justin sudah ditunggu" Seorang pelayan mengantar Justin kesebuah ruangan khusus yang dipesan.
Ruangan yang dipesan begitu tenang dan tertutup, Justin duduk didepan seseorang yang menutupi wajahnya dengan buku menu makanan, seorang pelayan memberikan buku menu utk Justin "Saya pesan McFlurry Caramel,spagheti dan burger cheese"Lalu menutup buku menu"Siapa kau"
"Bro,nafsu makanmu tak berubah"Kata seseorang itu menyeringai ketika menutup buku menu
"CODY? Cody simpson"

SKIP


*rumahsakit*

"EELLIZZAA"
Deru nafas Grey menggema diruangannya yg sepi.Ia mulai mengatur nafasnya berulang kali ia memandang sekelilingnya dgn bingung, ia baru bangun dari mimpi buruknya keringat membasahi pelipisnya

Pintu kamar terbuka, Jordan muncul dan memandangnya cemas.


"Kamu kenapa Grey? mimpi buruk lagi"Tanya Jordan yg gelisah melihat Grey akhir2 ini sering mimpi buruk tentang Eliza.
"Eliza"kata Grey masih bingung
"sudah, kamu tenang Eliza sedang bekerja dengan baik skarang"

"aku tahu tapi firasatku berkata buruk sesuatu terjadi disana dimimpiku Eliza sedang sedih disana"
"Hmm sudahlah memang terkadang mimpi itu terasa nyata, mimpi hanyalah bunga tidur lebih baik kau tidur seminggu lagi kamu akan operasi & terapi apa kamu mau menyia2kan uang yang diberikan Eliza?"
Grey menggeleng lemah
"kamu benar jordan, mungkin aku terlalu kangen Eliza jadi terbawa mimpi trs"

Jordan menunggu sahabatnya Grey sampai tertidur pulas.
Lalu ia keluar ruangan ia mengeluarkan Ponselnya dan terlihat menelfon seseorang
"Maaf.Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif silahkan tinggalkan pesan"Suara dari operator itu terus yg kluar ketika Jordan menelpon Eliza.
Jordan menunggu sahabatnya Grey sampai tertidur pulas.
Lalu ia keluar ruangan ia mengeluarkan Ponselnya dan terlihat menelfon seseorang
"Maaf.Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif silahkan tinggalkan pesan"Suara dari operator itu terus yg kluar ketika Jordan menelpon Eliza.

"Eliza kuharap kau bisa datang kerumah sakit tempat Grey dirawat seminggu lagi ia akan operasi telpon aku jika kamu mendengar pesan ini"Ucap Jordan diPonselnya

SKIP


"CODY, CODY SIMPSON"Kata Justin kaget bagaimana tidak sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan sepupunya
"Iya just, aku baru saja datang kemarin"katanya lalu meminum kopinya.
"Sejak kapan kamu mulai suka meminum kopi"
"haha sejak aku tinggal diIndonesia, ada berbagai macam kopi disana termasuk kopi luwak kamu harus coba just"
"Hey, apa kau Cody yang aku kenal?"

"Hahaha jelaslah, aku cody sepupumu yang paling tampan"
Beberapa menit pesanan Justin datang, mereka pun mulai makan.
"kenapa kamu tidak beritahu aku dulu kan aku bisa jemput dibandara"Kata Justin disela2 makannya
"Haha emang sengaja aku pengen kasih kamu kejutan"
"Aku kira tadi siapa misterius banget haha"

"haha kapan kamu akan menikah?"tanya Cody
"Ha? menikah pertanyaanmu lucu sekali"

"haha aku emang lucu"
"hey tau ajalah gak ada wanita yang bisa buat aku luluh"
"ya ya ya udah aku kira kok"

"Gimana kalo kamu nginep aja dirumahku, lagian aku kangen sama sepupu yang konyol kayak kamu"
"Tenanglah, aku akan menginap dirumahmu just asal pelayanmu cantik2 kan?"
"jelaslah, kalo ga cantik udah aku pecat, kamu boleh menyentuh mereka kecuali Eliza"
"siapa Eliza? apa dia special?"
"gak ada yang special hanya aku ga mau jika kamu mendekatinya"

Kata Justin lalu memanggil seorang pelayan"berapa semuanya?"

"wooaa just, kamu ga usah bayarin aku seharusnya kan aku yang harus mentraktirmu"
Sepertinya justin tidak memperdulikan ucapan Cody ia tetap membayar semua makanan itu bahkan memberi tips utk pelayan itu "Justin tak pernah mau ditraktir"





SKIP


Ketika sampai dirumah Justin yang mewah dan besar Cody berjalan membelakangi Justin "Lama tak melihat rumahmu Just"
sedangkan justin hanya tersenyum tipis
Kenny menyambut kedatangan mereka, lalu membawa koper Cody. Cody sendiri melihat disekeliling rumah itu "Hey Just! mana orang yang namanya Eliza"

terlihat seorang wanita dengan rajinnya membersihkan lemari dan guci2 "Eliza" Suara dingin dari Justin membuat Eliza menoleh lalu menunduk

"Tuan,ada apa memanggil saya?"
"Dia yang namanya Eliza"Kata Justin
Cody menatapnya dengan kagum, ia melihat dari atas sampe bawah, rambutnya yang hitam berkilau terlihat alami, matanya yang indah, kulit eksoticnya ciri khas gadis latin dan bibirnya begitu menggoda tanpa sadar Cody mengigit bibirnya sendiri.

"Dia yang namanya Eliza"Kata Justin
Cody menatapnya dengan kagum, ia melihat dari atas sampe bawah, rambutnya yang hitam berkilau terlihat alami, matanya yang indah, kulit eksoticnya ciri khas gadis latin dan bibirnya begitu menggoda tanpa sadar Cody mengigit bibirnya sendiri.
"pantas saja Justin menjaganya dia begitu menarik"Pikir Cody
Justin melihat sepupunya berlaku aneh tp ia tak peduli
"Cody"panggil Justin

"Ya just"Jawabnya tersadar dari lamunannya
"Lebih baik kamu kekamar. Eliza antar Cody kekamrnya, kamu bebas memilih kamarmu yang kosong tapi"

Jujur ia ingin melumatnya sekarang tapi ia harus menahan Justin jauh lebih mengerikan kalo marah
"Mari Tuan"
Cody memperhatikan Eliza pikiran kotor mulai mengelilingi kepalanya. Tubuh Eliza terlihat lebih menggoda dari belakang.


Setelah sampe dikamar yang dipilih Cody, Eliza mulai mebuka pintu dgn beberapa anak kunci yg dipegangnya.
Eliza sedikit kesal, karna beberapa anak kunci itu dari tadi tidak cocok dengan gembok pintunya
"Lama sekali"Kata Cody sambil melihat jam ditangannya.
"Maaf Tuan dari tadi kuncinya tidak cocok"Eliza begitu cemas takut cody marah

"Sini"Cody merebut kunci2 itu dengan kasar

Cody memasukan kunci pilahannya dan pintu itu bisa terbuka.
Eliza hanya bengong melihatnya. Jelas saja Cody hafal kunci mana yang cocok karna dia sering menginap dirumah Justin dan sering menempati kamar ini alasanya karna dekat dapur jadi dia bisa mengambil makanan kapanpun ia mau.
Eliza menyeret koper Cody membawanya kedalam dan menutup pintunya.
Cody membalikan badannya menatap Eliza dengan senyuman ganjil.
Eliza melihatnya dengan perasaan aneh, apa yang akan dilakukan Cody?




Cody berbalik menatap Eliza dengan senyuman ganjil,ia mendekati Eliza
Gadis itu merasa takut hingga ia berjalan mundur sampe tubuhnya menyentuh dinding tembok "Nama kamu Eliza? nama yang sangat bagus Justin beruntung sekali memiliki pelayan sepertimu" Eliza sedikit terkejut mendengarnya
"Kamu memiliki tubuh yang bagus, bahkan bisa dibilang sexy. Menurutku baru kali ini aku menemui pelayan secantik kamu"
"Tuan" Cody mencoba lebih dekat dengan Eliza
Apakah Justin sengaja menyuruh pria ini untuk menikmati tubuhnya pikir Eliza dalam hati

Eliza mulai gusar dan ingin keluar dari kamar itu tapi tidak bisa, Cody mendekatinya bahkan ingin memeluknya apalagi lemari besar itu menghalangi langkahnya kearah pintu
"Kenapa panik? kamu takut? tenanglah permainanku tidak sekasar Justin"
Cody mulai mencium bibir Eliza

"Jangaan tuan, hentikan"Eliza mencoba mendorong tubuh Cody
Namun tidak bisa, cody terlalu kuat tangannya yang kekar mencengkram tubuh Eliza dan membenturkannya kedinding melumat, menjilat dengan ganas.
Tangannya dengan kasar membuka kancing baju Eliza sambil masih mencium bibir merah itu.
"Kau sangat sempurna Eliza,andai kamu seorang pelacur aku akan membayarmu dengan harga tinggi bagaimana bisa Justin mendapatkan pelayan sepertimu"antara pujian dan hinaan menjadi satu
Cody menghimpit tubuh Eliza dan menaikan kaki satunya kepinggangnya Lidah cody dengan cepat masuk kemulut Eliza
Air mata perlahan keluar dari mata Eliza.Ia merasa terhina sekarang

Sebuah pintu terbuka dengan kasar Eliza menoleh kesumber suara ia terkejut melihat pria yang dikenalnya, Justin sudah diambang pintu. Wajahnya sedikit kaget dan sangat marah

Sementara Cody masih memberikan tanda2 cintanya dileher jenjang Eliza.
Justin berjalan cepat menghampiri mereka, sepertinya Cody tidak menyadari kehadiran Justin hingga ia masih melakukan aksinya Eliza mencoba mendorongnya tetapi cody menahannya terlalu kuat.
Justin menarik pundak Cody, hanya satu tarikan Cody terjatuh kelantai.
Sementara Eliza terjatuh krna kehilangan keseimbangan.
Eliza menutup dadanya, menutupi kancing bajunya yang terbuka
"What the fuck are you doing?"
"Ma-Maafkan aku Just" Cody sangat gelisah

"Kau melanggar ucapanku, bukankah aku menyuruhmu untuk tidak menyentuhnya"
"Justin,Wanita itu"Kata Cody sambil menunjuk Eliza"Wanita itu Justin dia menggodaku"
Dengan suara sedikit serak dia melanjutkan kata2nya "dia bilang kalo aku tidak menyentuhnya dia akan bilang kepadamu bahwa aku menamparnya"
Justin menyipitkan matanya mendengar ucapan Cody
"Benarkah itu Eliza?"Tanyanya

"Ti-tidak tuan,aku tidak berkata seperti itu"
"Bohong, Justin apa kamu percaya kepada pelayan itu"

"Tentu saja aku percaya padamu Cod, wanita ini memang tak pantas"Tatapan Justin menusuk Eliza


Eliza tak percaya apa yang diucapkan Justin, ia percaya kepada Cody yang jelas2 memutar balikan fakta.
Justin memegang tangan Eliza dan menariknya berdiri dengan kasar. Eliza merasakan cengkraman tangan Justin yang kuat membuat pergelangannya terasa sakit. Justin menyeretnya keluar dari kamar Cody membawa kekamarnya dan melemparkan Eliza keranjangnya yg besar.
Justin mengunci kamar itu"Aku tak prcaya kamu licik juga ya Eliza" Ia menatap Eliza yang terbaring diranjang lalu bangun berdiri dihadapannya
"Tuan saya sama sekali tidak melakukan itu"ucapnya lemah
Namun justin tak menggubrisnya malah menuduhnya "Rendah sekali kamu! apa uang yang aku kasih kekamu kurang? sehingga kamu menjual tubuhmu kecody ha?"
Justin sangat marah
"Oh begitu ya Eliza, aku tahu ini alasanmu mengapa kamu jual tubuhmu ternyata kamu licik,memanfaatkanku dengan cerita sedihmu"
Eliza hanya bisa tertunduk,dia malu pada dirinya sendiri. Dia memang sudah tak pantas,sekarang memang benar dia menjadi wanita rendahan.
"DENGAR YA ELIZA,AKU SUDAH MEMBELI JADI JANGAN COBA2 UNTUK KABUR ATAU MENJUAL TUBUHMU KEORANG LAIN"

"KAU ITU PELACURKU, SAMPAI KAPANPUN KAU TETAP PELACURKU" Ucap justin keras sekali


"Aku bukan pelacurmu,justin"Tiba2 kata2 itu keluar dari mulut Eliza
"Apa? bukan pelacur? hahaha kamu ini lucu sekali jangan buat aku tertawa Eliza"
"Ya aku bukan pelacurmu"
"dasar wanita murahan"Justin mendorong tubuh Eliza hingga terjatuh dikranjangnya,menindihnya dengan tubuh kekarnya Eliza begitu marah mendengar ucapan Justin bahkan ia tak sadar apa posisinya sekarang.
Eliza memukul punggung Justin ingin lepas tp tak bisa
"Lihat ini Eliza"kata justin sambil memegang kalung yang ada huruf J itu"ini tanda bahwa kamu adalah milikku" Ia mencium Eliza dengan kasar sementara Eliza meronta2
Ia melumat menekan lidahnya kelidah Eliza
Eliza mengigit lidah justin sehingga membuat justin meringis kesakitan
"kurang ajar"ucapnya lalu menampar Eliza dengan keras
"Aku akan buat kau menyesali semua perkataanmu"Justin menindih tubuh Eliza

"Jadi kamu ingin bermain kasar? akan aku berikan" Kata justin dengan seringai disenyumnya


SKIP




Eliza menutup tubuhnya dengan selimut pakaiannya serta pakaian tuannya berceceran dilantai. Ia menatap ranjang itu dengan pandangan kosong. Permaian tuannya kali ini benar2 membuat harga dirinya terluka

Justin menamprnya,mencengkram pundaknya,bergerak dengan kasar diatas tubuhnya.
Bahkan setiap perkataan yang diucapkan justin adalah sebuah penghinaan kepadanya.
Cinta? jangan harap akan muncul.
Ia begitu membenci pria itu,Justin sudah membuatnya tak layak disebut sebagai wanita,ia sudah merampas tubuhnya tak hanya itu ia juga meraspas jiwanya.
Ia merasa jiwanya terguncang mengingat bagaimana justin menyentuhnya dengan kasar dan kejam,sentuhan yang memabukan walaupun kasar.
Sekarang ia tak peduli,tak peduli pada hatinya yg meronta2, ia frustasi mengacak2 rambutnya dan melempar selimut dihadapannya.
Air mata penyesalan membasahi pipinya,Hatinya terasa sakit Ia menjerit menumpahkan semuanya.
Eliza menjerit frustasi,melemparkan semua yang ada. Justin meninggalkannya bagai wanita yang gila karna trauma fisik dan batin. Namun justin tak pernah iba kepdanya.


SKIP




Eliza dengan lemah menuruni tangga dengan memakai kemeja putih yang sudah disediakan seperti biasa. Ia melihat Justin dan Cody yang sedang bersantai menonton TV. Cody menatap Eliza dengan tatapan tak percaya sedangkan Justin masih asik dengan acara TV yang ia tonton. Dengan berantakan sekali Eliza membawa pakaiannya lalu masuk kekamarnya.
"Just,kamu apakan dia? kenapa dia sampe seperti itu?"Tanya Cody
"Aku hanya memberinya hukuman"jawab Justin lalu melangkah pergi
"Mau kemana kamu Just?"

"Jalan-jalan"ucapnya senang
"Aku ikut just"
"kamu jalan-jalan sendiri,aku ingin bersenang-senang dengan Eliza"Kata Justin lalu menuju kamar Eliza
"Hey Just,kamu mau ngajak dia jalan-jalan kemana?"
"Rahasia, hukumannya belum selesai"
Mendengar itu tidak tahu kenapa Cody merasa iba.


SKIP

Justin membuka pintu kamar Eliza dengan kasar sontak membuat Eliza terkejut pria yang dibencinya kini berada dihadapanya dan tersenyum dengan ciri khasnya.
Eliza sangat menarik bagi Justin, rambut hitam gelombangnya, mata indah itu,bibirnya yang merah merekah tubuhnya yang sexy membuat justin tak bisa menahan untuk tidak mencicipinya bahkan seharipun. Ia berjalan mendekati Eliza dan wanita itu hanya terdiam bagai disihir agar membeku.
Justin memperhatikan wajah Eliza yang berantakan akibat ulahnya,tanganya mulai menyentuh pipi Eliza dan mata hazelnya mulai menatap Eliza dengan tajam. Ia mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Eliza diciumnya dengan lembut,
Namun yang ia rasakan seperti berciuman dengan patung Eliza tak membalas.Justin melepaskan ciumannya melihat kilatan amarah dimata Eliza"Kenapa sayang? kamu marah?"
Eliza masih kesal hingga ia hanya bisa terdiam"Kenapa Eliza? kamu cuma terdiam apa kamu lupa siapa tuanmu? kalo tuan bertanya bukankah harus dijawab?"
"Kamu bilang,kamu bukan pelacur! kenapa bisa kamu berpikiran seperti itu?"Kata Justin mencengkram dagu Eliza
"Asal tau saja ya Eliza,ini adalah lelucon yang paling lucu yang pernah aku dengar"


"Karna aku akan membayar hutangku"
Justin melepas dagu Eliza,mundur beberapa langkah dan berbalik mencoba memproses ucapan Eliza.
Justin tertawa, tertawa keras dan melengking mengerikan"Kamu bercanda Eliza" ia berbalik menghadap Eliza"membayar hutang adalah jawaban terkonyol"
"aku tak bercanda,kau lihat saja aku akan membayar hutangku"
"Iya iya, aku percaya tapi tetap saja kamu itu pelacurku"

Justin merebahkan tubuh Eliza kekranjang.
Eliza menatapnya tak takut membuat Justin merasa tertantang "Kau tahu kenapa semua wanita berlomba-lomba mendekatiku? bahkan ingin tidur diranjangku?"

"karna seperti ini yang akan aku lakukan kepada mereka kau beruntung Eliza bisa mendapatkannya secara gratis"Jarinya bergerak dileher Eliza
"Lihat saja para Beliebersku mereka harus membayar untuk bertemu denganku, sedangkan kau?"
Justin mencium Eliza memasukan lidahnya kemulut Eliza hingga bertemu dengan lidah Eliza yang pasif
Justin menggigit telinga Eliza sementara ia hanya menahan siksaan dari Tuannya.Tangannya mulai turun membuka satu per satu kancing kemeja putih yang dipakai Eliza sementara ia masih sibuk mencium leher Eliza.
Eliza mengerang tertahan menikmati permainan gila dari Tuannya ciumannya bagai sengatan listrik yang menjalar sampai ia menjambak rambut justin akibat perlakuannya yang terkesan liar"Tu-Tuan Heentikan aarghh"Rintih Eliza
Justin seakan tak perduli malah semakin liar mencium semua milik Eliza.
SKIP

Justin menatap Eliza yang terlelap dikasurnya,ia tersenyum melihat wanita itu dirapikan rambut Eliza yang berantakan akibat ulahnya ia terlihat puas lalu mencium kening Eliza dengan lembut.Melihat Eliza yang tertidur begitu damai,begitu manis tidak seperti biasa yang dipancarkan hanya kilatan amarah
Lalu Justin keluar dan membuka pintu kamar Eliza. Ia mendapati Cody sedang duduk menonton TV.Justin menghampiri Cody dengan senang.

Tapi sesuatu membuatnya terkejut!!










Tidak ada komentar: