Senin, 19 Mei 2014

Kumpulan Puisi


 


Karya Joko Pinurbo

Embun

Subuh nanti aku akan jadi sebutir embun
diatas daun talas disudut kebun

Pungut dan sembunyikan dikuncup matamu
sehingga matamu jadi mata embun
Atau masukkan kecelah bibirmu sehingga bibirmu jadi bibir embun

Sabar . . . , aku harus pergi dulu menjenguk seorang bocah perantau yang sedang tertidur pulas dibawah pohon besi di sudut kotamu
Aku akan menetes di atas luka hatinya yang merah menganga sampai ia terjaga
Terimakasih, telah kausangatkan perihku

Mungkin aku tetes terakhir dari hujan semalam yang belum sela sirna sebelum bertemu dengan ibusunyi dari bocah perantau itu

Mungkin kau hanya akan memandangiku berkilau di atas daun talas di sudut kebun sampai aku menguap, lenyap, ke cerlap matamu


 Karya Taufiq Ismail

Dengan Puisi, Aku


Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya



 Karya Amir Hamzah

Padamu Jua


Padamu jua
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela dimalam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Dimana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hari

 

Karya Waluyati

Nanti, Nantikanlah


Rumput kering menguning
Terhadap luas
Gemetar tampak hawa panas
Atas padang sunyi

Ah, rumput, akarmu jangan turut mengering
Jangan mati lalu di tanah terbaring
Nanti, Nantikanlah
Dengan sabar dan tabah
Sampai hujan turun membasahi bumi



  Anakku,
Untuk bibir nan menarik
Ucapkankah perkataan yang baik

Untuk pipi nan lesung
Tebarkan senyum ikhlasmu di muka bumi
Untuk mata indah menawan
Lihatlah selalu kebaikan orang lain
Untuk tubuh yang langsing
Sisihkan makananmu bagi fakir miskin
Untuk jemari tangan nan lentik menawan
Hitunglah pujianmu dan doa denganya
Untuk wajah putih bercahaya
Basuhlah mukamu di setiap perganti waktu



 Sebab Dikau

Kasihkan hidup sebab dikau

Segala kuntum mengoyak kepak
Membunga cinta dalam hatiku
Mewangi seri dalam jantungku
Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpi lagi penari
Sedar siuman bertukar-tukar
Maka merupa di datar layar
Wayang warna menayang rasa
Kalbu rindu turut mengadu
Dua sukma esa mesra

Tidak ada komentar: