
Karya Joko Pinurbo
Embun
Subuh nanti aku akan jadi sebutir embun
diatas daun talas disudut kebun
Pungut dan sembunyikan dikuncup matamu
sehingga matamu jadi mata embun
Atau masukkan kecelah bibirmu sehingga bibirmu jadi bibir embun
Sabar . . . , aku harus pergi dulu menjenguk seorang bocah perantau yang sedang tertidur pulas dibawah pohon besi di sudut kotamu
Aku akan menetes di atas luka hatinya yang merah menganga sampai ia terjaga
Terimakasih, telah kausangatkan perihku
Mungkin aku tetes terakhir dari hujan semalam yang belum sela sirna sebelum bertemu dengan ibusunyi dari bocah perantau itu
Mungkin kau hanya akan memandangiku berkilau di atas daun talas di sudut kebun sampai aku menguap, lenyap, ke cerlap matamu
Karya Taufiq Ismail
Dengan Puisi, Aku
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Karya Amir Hamzah
Padamu Jua
Padamu jua
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela dimalam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Dimana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hari
Karya Waluyati
Nanti, Nantikanlah
Rumput kering menguning
Terhadap luas
Gemetar tampak hawa panas
Atas padang sunyi
Ah, rumput, akarmu jangan turut mengering
Jangan mati lalu di tanah terbaring
Nanti, Nantikanlah
Dengan sabar dan tabah
Sampai hujan turun membasahi bumi
Anakku,
Untuk bibir nan menarik
Ucapkankah perkataan yang baik
Untuk pipi nan lesung
Tebarkan senyum ikhlasmu di muka bumi
Untuk mata indah menawan
Lihatlah selalu kebaikan orang lain
Untuk tubuh yang langsing
Sisihkan makananmu bagi fakir miskin
Untuk jemari tangan nan lentik menawan
Hitunglah pujianmu dan doa denganya
Untuk wajah putih bercahaya
Basuhlah mukamu di setiap perganti waktu
Sebab Dikau
Kasihkan hidup sebab dikau
Segala kuntum mengoyak kepak
Membunga cinta dalam hatiku
Mewangi seri dalam jantungku
Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpi lagi penari
Sedar siuman bertukar-tukar
Maka merupa di datar layar
Wayang warna menayang rasa
Kalbu rindu turut mengadu
Dua sukma esa mesra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar